catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Ia Bicara Luka

on June 13, 2012

Dalam diam ia merintih sendu. Ketika sepinya lagi-lagi tertoreh pilu. Darah kembali mengalir dari luka yang belum lagi kering, karenamu.

Jiwanya terkunci. Layuh lunglai terpasung mimpi. Di atas pangkuan angkuh sang sunyi ia mencari. Pencarian tanpa henti, atas miliknya yang kaubawa pergi.

Semakin jauh ia tersesat, dalam pelarian yang kasat. Rasa sakit makin dalam dan mengikat. Ketika terjatuh, dalam bayangmu ia tercekat.

Sementara ringan saja kau berbicara. Waktu akan sembuhkan semua luka. Oh, kau salah. Karena parut yang tertinggal, takkan berdiam dan terabaikan.

Ia tak pernah percaya karma. Hanya saja, yang baik buruk pasti ada balasannya. Dan hari itu akan tiba. Hari di mana cemooh sinismu akan berganti tangis sesal yang tak lagi berguna.

Ia akan bangkit. Merebut kembali walau pahit. Dan melawan dengan sengit. Maka nikmati saja kejayaanmu yang sedikit, sebelum keruntuhanmu turun dari langit.

Sekarang aku menatapnya. Ia justru tenang dalam senyumnya. Senyum keikhlasan meski dipenuhi nestapa. Sungguh bukan hal yang mudah kucerna.

Bukankah senyum tak akan membalaskan sakit hatimu padanya? Aku bertanya.

Ia menjawab.

“Senyum ini bukan bermakna bahagia. Ia terulas karena aku telah rela. Takkan kusiram luka dengan angkara. Sebaliknya senyum ini gantinya. Sebab inilah pembalasan dendam terbaikku, agar nuraninya berbicara.”

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


One response to “Ia Bicara Luka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: