catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Single

on June 17, 2012

Jomblo. Atau ameliorasinya, single. Adalah satu status yang sering dianggap sebagai kutukan. Karena jomblo sering diidentikkan dengan tak laku. Tak laku maka aneh. Aneh maka tak eksis. Tak eksis maka tamatlah dunia. Lebay sikit nggak papa lah ya? Hehe.

Sekali lagi menurut saya Hollywood punya andil dalam terbentuknya stigma ini. Saya sebut demikian, karena anak muda mana sih yang nggak pernah nonton film Hollywood? Pasti pernah, minimal sekali. Nah, film-film produksi Hollywood itu rasanya nggak sah kalau tanpa dibumbui kisah cinta sepasang kekasih. Tokoh yang memiliki kekasih selalu digambarkan bahagia, walaupun ada konflik dan intrik yang mengancam hubungan mereka tapi mereka sanggup melaluinya dan terus bahagia bersama. Ceilah. Sedangkan tokoh yang single digambarkan aneh, culun, polos sedikit oon kadang, freaky weird lah. Maka informasi yang masuk ke alam bawah sadar penontonnya adalah: karena dia  aneh, culun dan oon itulah makanya dia jomblo! Berarti jadi jomblo itu aneh..

Nah loh. Alangkah kasihan pikiran lugu anak-anak muda yang mengambil deduksi seperti ini. Lantas merasa HARUS punya pacar di usia sedini mungkin agar nggak dicap aneh dan agar tetap survive dalam kerasnya pergaulan. Terbukti belum lulus SD sudah pacaran, belum lulus SMP sudah hilang keperawanan.

Prihatin? Jelas iya. Karena mereka belum terlatih untuk berpikir jauh ke depan. Sebab nanti saat mereka lebih dewasa,  akan tiba satu titik, di mana mereka merasa terkadang lebih baik menjadi single. Karena ternyata, terkadang cinta tak seindah film Hollywood. Lalu muncullah perasaan: I’d rather be a happy single than be in a hurtful relationship.

Ini bukan propaganda bagi mereka yang sudah dewasa untuk lebih memilih single. Bukan pula ajakan buat mereka yang sering disakiti pacar untuk minta putus (karena nggak usah diajak pun harusnya udah tau mesti ngapain, hehehe). Hanya saja, sebagai orang dewasa, kita menjalani hidup kita sendiri. Kalau punya pasangan dan bahagia, ya selamat, karena memang itu tujuan kita semua, kan? Tapi bukan berarti tanpa pasangan kita tidak berhak bahagia. Single itu juga menyenangkan kok. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Merasa nyaman atau tidaknya menjadi seorang single adalah tergantung dari pihak yang menjalani, bukan dari stigma orang sekitar.

Menjadi single memang godaannya lebih berat. Ada kalanya kita butuh teman berbagi, berbagi rasa ataupun berbagi cinta. Normal sih itu. Dan kalau sering muncul permohonan pada Tuhan untuk secepatnya dipertemukan dengan pasangan, apalagi di usia yang matang dan tidak bisa diputar ulang (you wish!), itu pun luar biasa wajar. Tapi seandainya doamu belum terkabul, jangan putus asa. Dan jangan pula turunkan harga diri. Karena yang menyenangkan jadi  single adalah menjadi makhluk yang paling nggak capek hati. Hehehe. Bagaimanapun, kita tetap berhak memilih, maka pilihlah yang terbaik.

Jika pilihan yang terbaik adalah tetap menjadi single, maka nikmatilah, dan katakan, “Come on, people. Being single isn’t that bad!”

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: