catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Memoar Penyesalan

on June 18, 2012

Sore itu tidak beda dengan sore-sore sebelumnya. Diwarnai angin bulan Juni yang sesekali ribut lalu mendamai, mengeriutkan dahan-dahan. Matahari sore yang sedikit terik namun terasa hangat. Suara daun kering pohon mangga yang berjatuhan masih sama seperti kemarin-kemarin. Tapi sejak sore itu, hidupku tak pernah sama.

Diawali dengan sebuah percakapan di telepon, antara aku dan Ibu. Obrolan mengalir nampak wajar, seputar dinamikaku di perantauan dan keseharian ibu dan bapak di kampung halaman. Kemudian ibu bertanya.
“Lebaran kamu pulang, ndak?”
“InsyaAllah, Bu. Kalau diijinkan sama bos. Mira kan masih anak baru, belum boleh minta cuti. Semoga diijinkan ya, Bu.”
Ibu terdengar menghela napas berat.
“Wong lebaran lho. Masa masih kerja juga. Kamu juga, ngapain bela-belain merantau demi pekerjaan ndak jelas kayak gitu. Gajinya juga ndak seberapa. Sampai sekarang juga, Ibu belum pernah kamu kirimi uang hasil kerjamu, to?”

Ada sesuatu yang melesak dalam dadaku. Setiap kali menelepon Ibu, topik ini paling kuhindari. Aku sudah malas berdebat dengan Ibu tentang kerasnya kemauanku merantau, dan penentangan Ibu yang tak kalah kerasnya.
“Makanya Ibu doakan Mira terus, biar rejeki makin lancar, dan bisa ngirimin Ibu. Yah namanya kalo mau sukses kan harus kerja keras dulu dari nol, Bu.”
“Kalau dulu ndak kamu tolak pinangan Herdin anak Pak Samsul, kamu ndak usah kerja keras juga sudah bisa hidup enak.”
Sesuatu melesak lagi. Ini juga topik kedua yang paling benci kubicarakan dengan Ibu. Kalau dipikir-pikir, topik yang paling aman untuk kubahas dengan Ibu hanya hal-hal remeh dan superfisial yang terjadi di keseharian kami. Sepertinya ego kami berdua terlalu keras untuk bisa menyatu dalam percakapan yang lebih mendalam.
“Masa lalu ndak usah diungkit lagi, Bu.”
“Kemarin ada lagi lelaki yang datang ke sini. Usman, temen SD mu. Inget ndak? Dia sudah kerja di Jakarta, dan kayaknya sukses gitu. Ke sini pake mobil bagus, mereknya apa ya, Ibu lupa. Rumahnya juga katanya baru selesai direnovasi, dibikin tingkat dua. Katanya sih kerjanya di perusahaan tambang gitu, jadi menejer.” Ibu terkekeh.
“Katanya kalau kamu lebaran ini pulang, dia mau ngelamar kamu, kalau kamu terima, kamu mau langsung nikah saat itu juga, juga bisa. Gimana?”

Aku tidak pernah lupa sosok Usman. Usman yang sebenarnya setahun di atasku tapi jadi sekelas denganku setelah ia tinggal kelas. Tinggal kelasnya bukan karena ia bodoh, tapi karena nakalnya bukan main. Kenakalannya yang paling parah adalah menggantung celana teman kami Supri di dahan pohon, beserta Supri ada di dalamnya. Supri cuma bisa memelas, badannya mengayun-ayun, memohon-mohon untuk diturunkan. Sementara Usman dan gerombolan siberatnya tertawa-tawa dengan puas. Padaku dia pernah menyiramkan air ke prakaryaku, yang belum dinilai, yang terbuat dari kertas hingga hancur. Aku menangis tersedu, karena yakin tak mendapat nilai. Hingga guruku tak sampai hati dan memberiku nilai enam. Aku sangat kesal dan tidak pernah mau berbicara dengan Usman lagi setelahnya. Dan Usman pun nampaknya tak pernah punya itikad baik untuk meminta maaf.

Dan sekarang, aku akan dilamar olehnya.

“Nggak salah, Bu? Aku sudah ndak pernah tau kabarnya setelah lulus SD. Kenapa dia tiba-tiba ingin melamarku?”
“Katanya dia pernah melihat kamu sekali, pas kita sowan ke rumah Nyai Chotijah, inget? Dia tetanggaan sama Bu Nyai.”
Aku tahu pertanyaanku tak sepenuhnya terjawab, tapi aku enggan melanjutkan pembicaraan itu. Dengan pura-pura tergesa, aku mengakhiri percakapan.
“Eh, Bu, sudah dulu ya, kayaknya pulsaku mau habis ini. Nanti kutelpon lagi, Bu. Assalamualaikum.”
Dan bersamaan dengan kutekan tombol merah di ponselku, muncul keyakinan dalam diriku untuk tidak pulang lebaran nanti.

~~
Sedari dulu, sejauh aku bisa mengingat, aku tak pernah sependapat dengan Ibu. Ibu ingin aku masuk pesantren selepas SD, namun urung karena aku kukuh ingin sekolah negeri. Ibu ingin aku kuliah di keguruan, tapi aku memilih fakultas teknologi pertanian. Tak terhitung berapa kali ibu menyeretku ke dapur untuk belajar memasak, dan aku selalu punya cara untuk menghindar. Sering aku menentang Ibu secara terang-terangan, dengan menunjukkan ketidaksukaanku. Aku merasa aku lebih tahu yang terbaik untukku dibanding siapapun, termasuk Ibu.

Seiring dengan ketidakakuran kami, Ibu cenderung bersikap defensif dengan sering mengkritik setiap keputusan yang aku ambil. Sejak aku menempuh pendidikan di universitas Ibu memang tidak pernah lagi memaksakan arahannya padaku. Sebagai gantinya ada tuntutan yang harus kupenuhi, semacam harga yang harus kubayar karena telah melanggar keinginannya. Jika aku gagal memenuhi, maka aku harus siap mendengar tajamnya kritik yang Ibu lontarkan.

Setiap kali mengenang tentang Ibu, ingatanku selalu terlempar kembali ke malam itu. Malam setelah kunjungan Pak Samsul ke rumah, yang berujung tidak terlalu baik, setelah aku menolak pinangan anaknya. Selepas mobil Pak Samsul menjauh hingga menjelma dua titik merah di kejauhan, Ibu langsung berang, menumpahkan amarah yang sekuat tenaga ditahannya sedari tadi.
“Kenapa to, kamu itu ndak pernah nurut sama Ibu! Apa jeleknya si Herdin itu?? Anaknya ngganteng, kaya, sudah haji lagi! Kamu itu wes gedhe, udah cukup umur, wes wayahe rabi! Jangan sok jual mahal, mau kamu jadi perawan tua kayak mbak Santi itu?! Ibu bener-bener nggak ngerti blas sama kamu. Pikiranmu itu lho.. Kamu itu kebanyakan main internet pasti, hatimu jadi keras begini!! Gampang dirasuki setan!!”

Kalimat-kalimat beracun yang meluncur dari bibir Ibu tak lagi aku dengarkan. Lagi-lagi alasanku menolak Herdin yang pemarah dan perokok berat tidak bisa Ibu terima. Dianggapnya alasan itu tidak cukup kuat. Terserah. Aku hanya tidak ingin diriku dan anakku kelak teracuni asap penuh nikotin darinya. Kalau mau meracuni diri sendiri, silakan. Tapi jangan bawa-bawa aku.

Hanya satu ide yang muncul di benakku saat itu. Mungkin meninggalkan rumah menuju perantauan adalah solusi terbaik untukku dan Ibu, demi menghindari perselisihan yang kian hari nampak kian tak terhenti.

~~
Renungan menghantar lamunan, lamunan terbawa menuju mimpi. Entah sudah berapa lama aku memasuki alam mimpi, saat kudengar ponselku berdering. Dari rumah. Ah, Ibu nggak sabar pengen ngebahas Usman nih, sangkaku.

Setengah dikuasai kantuk kuangkat telepon, dan tersambung dengan Bapak.
“Mira…”
Entah mengapa aku merasa Bapak seperti sedang menangis.
“Ada apa, Pak? Bapak kenapa?”
“Ibumu, nak. Ibumu..” kata Bapak tersendat.
“Iya, Ibu kenapa, Pak?” aku mulai tak sabar menghalau panik yang menjalari tubuhku.
“Ibumu meninggal, nak.. Sepertinya jatuh di kamar mandi. Habis kamu telpon tadi Ibu ke kamar mandi. Lama betul, sampai Bapak heran.. Bapak ketok-ketok, gak ada sahutan. Bapak jebol saja engselnya, dan ibumu sudah tergeletak di lantai. Bapak buru-buru panggil dokter kemari.. Pas diperiksa, dokter bilang Ibu sudah ndak ada.. Kata dokter, mungkin sakit jantung Ibu kambuh..”

Kabar buruk itu serupa es yang beku. Bersentuhan dengannya ikut membuat ujung jariku mati rasa. Kali ini yang mati rasa bukan hanya ujung jariku. Tapi seluruh tubuhku. Juga hatiku. Dan pikiranku. Suara Bapak di ujung telepon hanya terdengar mendengung di kupingku.

Baru dua jam sebelumnya aku berbincang dengan Ibu. Percakapan yang kutanggapi dengan ogah-ogahan itu ternyata yang terakhir. Suara Ibu yang kudengar tadi itu, suara yang sering tak kugubris itu, ternyata tidak akan pernah mampir ke telingaku lagi..

Ya Allah. Tadi aku menutup telepon dengan terburu. Aku bahkan tidak cukup sabar menunggu Ibu menjawab salamku. Seandainya aku tahu, pasti akan kudengarkan salam Ibu sampai huruf terakhir. Seandainya…

Saat itu adalah saat yang paling mengerikan. Saat aku mulai pulih dari mati rasaku, seolah film masa laluku otomatis terputar kembali di pikiranku. Perdebatan demi perdebatan, pertengkaran hebat, wajah Ibu yang melengos saat aku pamit untuk merantau. Raut kecewanya yang kuabaikan. Semua itu berkelebat cepat di benakku. Aku telah banyak sakiti Ibu. Membangkang kemauan Ibu yang sebenarnya tak sulit kuturuti. Dan belum pula aku sempat meminta maaf.. Ah, penyesalan.. Untuk apa kau diciptakan, jika kemunculanmu tiada membawa manfaat?

Dan di dalam kereta api yang membawaku pulang malam itu juga, sesak penyesalan yang menekan tak sanggup lagi kutahan. Air mataku mulai jatuh satu-satu. Makin lama makin deras, makin lama makin tak terbendung.

~~
17062012

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: