catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Dawai yang Terlunta

on June 19, 2012

Lagu-lagu cinta itu pernah jadi milik kita. Diciptakan dengan harpa dan biola. Beserta dawai bernada merdu yang kini terlunta.

Melodi berubah jadi parodi. Gagak berkaok mewartakan kehilangan kepada kawan. Kadang hidup ini mungkin kekurangan hiburan. Ia butuh kita untuk ditertawakan.

Andai aku bisa tenangkan gelisahmu seperti dulu. Taklukkan setiap sudut penatmu dengan laguku. Andai kau bisa ukir tawaku seperti dulu. Dinginkan lidah api amarahku dengan senyummu. Senandung yang pernah tersuara lalu mengawang di udara. Meninggalkan tanpa bekas, tanpa jejak, untuk kita telusuri.

Di mana kau kini? Apa kau juga bertanya di mana aku? Aku masih memeluk gitar kesayangan kita, meski aku tak sanggup lagi bernyanyi dengannya. Memetik dawainya yang terlunta saja, sudah mengguratkan luka.

Kau pernah berkata, semua akan indah pada waktunya. Pastikan saja kenangan kita tetap terbina. Keras ku berusaha, tapi pesimisme kejam menghancurkan semua. Kini aku sadar, waktu yang indah itu takkan datang untuk kita.

Lagu kita mungkin sudah berakhir. Tak lagi terdengar, tak pernah terekam. Tersisa hanya lebur yang dijadikan mainan oleh anak-anak waktu.

Yang kucari kini hanya damai yang pernah tertunda, oleh dawai yang terlunta.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: