catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Seratus Hari

on June 23, 2012

Dahulu. Saat pertarungan seratus hari harus kujalani, melawan masa lalu. Yang muncul memukul bertalu-talu. Melekat erat layaknya benalu. Pongah dan tak tahu malu.

Kunikmati seratus pagiku. Ditemani secangkir komitmen yang retak. Disertai berlembar-lembar janji yang teringkar. Hampa menghempas bersama barisan syair yang tak selesai, dan puisi dari hati yang tak bertuan.

Kau dulu adalah keseharianku. Kebiasaanku. Lingkunganku. Seratus hari yang tak lagi sama tanpamu, terasa kosong bagiku. Di hari seratus satu, aku makin lelah bersikap lemah. Keberlangsungan akhirnya berteriak menuntut perubahan. Seratus hari membuatku sadar, apapun perombakan itu, harus dimulai dari diriku.

Bukan semata waktu yang sembuhkan luka. Bukan pula pelarian saja yang selesaikan semua. Melainkan ikhlas yang hadir utama dari hati yang rela. Membantuku lalui hantaran masa.

Setiap insan, pasti pernah kecewa. Setiap manusia, pasti pernah luka. Penderitaan tidaklah istimewa. Tapi melawannya, itu yang membedakan kita.

Sekarang, kau tak lebih dari bagian masa laluku. Mustahil melupakanmu. Tapi mengingatmu tak lagi timbulkan reaksi padaku. Bukan benci, bukan amarah, bukan dendam, bukan rindu. Hanya seseorang di masa lalu.

Aku bangkit. Aku tegak berdiri. Aku tak lagi takut sakit hati. Karena aku pembelajar yang ditempa mawas diri. Terimakasih, karena kaubuat aku mengenal tentang kekuatan jiwawi.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: