catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Sebuah Fragmen di Suatu Sore

on June 24, 2012

Duduk di atas kursi roda, kau terdiam di depan jendela. Jelas indahnya langit senja keemasan itu tak dapat kaunikmati karena terhalang oleh katarak di kedua matamu. Mungkin hanya hangatnya matahari sore yang kaurasakan.

“Apa kabarmu?”
Kau menoleh.
“Maaf, kau siapa? Aku tak mengenal suaramu.”
“Kau pernah mengenalku, mungkin kau lupa. Tak apa. Aku hanya menjalankan perintah untuk memastikan bahwa kau telah mendapat apa yang layak kaudapatkan.”
“Oh, apa kau dari pihak asuransi? Terimakasih banyak atas bantuanmu. Sedikit meringankan beban kami. Jika suamiku tidak punya asuransi, entah bagaimana nasibku kini,” kau tersenyum manis dengan kesopanan sebagai bagian dari kebiasaan.
“Tapi kudengar, kau takkan bisa berjalan lagi?”
Kau menghela napas dalam-dalam.
“Yah. Aku harus merelakan kedua kakiku. Kata dokter kakiku tak bisa diselamatkan lagi.”
“Tidakkah itu berat? Maaf, karena kau sudah kehilangan penglihatanmu, dan sekarang..”
Kau tersenyum lagi. Kali ini dipenuhi getir.
“Aku sudah terlalu tua untuk mengeluh. Sudah nenek-nenek,¬† pengeluh pula, tidak ada bagus-bagusnya. Iya kan?”
“Oh, kau sangat benar soal itu. Tapi, apa di masa mudamu kau sering mengeluh?”
“Kadang. Hidup tak selalu mudah, bukan begitu?”
“Benar. Tapi membuang bayi merah yang baru saja kau lahirkan tiga puluh tahun yang lalu sepertinya mudah saja bagimu.”
Aku bisa melihat kau terkesiap begitu rupa. Wajahmu yang sudah pucat nampak seratus kali lebih pucat dari sebelumnya.
“Siapa kau? Bagaimana kau tahu?”
“Seperti kubilang, aku hanya memastikan kau mendapat apa yang layak kau dapatkan. Tapi dari perintah yang kuterima, seharusnya kau tak selamat dalam kecelakaan itu.”
Seluruh tubuhmu bergetar. Tanganmu mencengkeram pegangan kursi rodamu erat. Airmata kepanikanmu mulai leleh satu-satu.
“Siapa kau sebenarnya? Apa kau pengemudi gila yang menabrakku malam itu? Siapa yang menyuruhmu? Katakan!”
Aku beringsut mendekati pintu. Urusanku hampir selesai. Sebelum keluar dari pintu kamar rumah sakit itu, akhirnya aku mengatakan kalimat pamungkas untuk mengakhiri pertemuanku denganmu.
“Bayi yang kaubuang tiga puluh tahun yang lalu, itu aku. Ibu.”

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: