catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Saksi Sumpahku

on June 26, 2012

Menunggumu di sini, rasanya seperti ratusan tahun. Sementara bila kulirik jam tanganku, ternyata baru lewat tiga puluh menit. Tiga puluh menit penuh kegugupan dan ketidakpastian akan keretamu yang terlambat datang.

Ini Indonesia. Keterlambatan harus dimaklumi. Meski bagi sepasang muda-mudi yang saling menanti, dengan ruapan rindu yang berbuncah. Atau bagi para pekerja yang tiap detik miliknya begitu berharga. Atau bagi kegelisahan seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya dari negeri yang jauh.

Itu dia keretamu. Datang membawa peringatan dengan suara mendesing. Roda dan rel besi berpadu menderu, sebelum mencicit dan akhirnya benar-benar berhenti. Para penumpang turun satu-persatu. Kuamati mereka lamat-lamat, berharap mengenali salah satunya sebagai dirimu.

Makin lama gelombang penumpang makin menyusut. Hingga sampai pada angka nol, saat kereta itu telah benar-benar kosong. Suara dari corong pengumuman menggumamkan bahwa kereta berikutnya akan datang, beberapa menit lagi. Maka keretamu itu mulai bergerak lagi, untuk digantikan tempatnya oleh kereta yang baru.

Kau tak tampak. Mengakrabkan perasaan yang telah kukenal begitu lama. Separuh kecewa, separuh telah menduga. Aku kembali mencoba tabah, sekaligus tumbuhkan kembali harapan. Sebab harapan inilah satu-satunya alasan mengapa aku masih bertahan.

“Besok aku akan pulang.”
“Aku akan menjemputmu di stasiun kereta.”
“Tunggulah, tunggulah sampai aku datang. Setelahnya kita tak perlu lagi terpisahkan.”

Tapi keesokannya kau tak datang. Banyak rumor beredar. Penculikan, penyanderaan, pembunuhan, korban salah tangkap. Tak satupun ingin kupercaya. Sampai kulihat sendiri ragamu, segar bugar maupun sudah tak bernyawa, aku tak mau percaya. Aku tetap akan menunggu di peron ini di hari berikutnya, di waktu yang sama, menanti kedatanganmu seperti yang kaujanjikan. Bersiap memberikan sambutan terbaik untuk suamiku, seperti yang telah kujanjikan. Entah apa kau akan menepati janjimu, tapi akan selalu kupenuhi sumpahku, sejak pertukaran kabar terakhir kita, sepuluh tahun yang lalu.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: