catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Hanya Terpisah Raga

on June 27, 2012

Aku melihat seorang pria duduk tertunduk. Mulutnya komat-kamit melafal ayat suci. Matanya terpejam, alisnya merapat. Seolah membendung kuat-kuat agar air bah tak pecah dari kedua sudut matanya.

Setiap pagi ia selalu datang. Kehadirannya seolah ingin buktikan kesetiaannya yang tak terbantahkan. Kali ini ia duduk lebih lama dari biasa. Tangannya gemetar menyentuh batu nisan di hadapannya. Bibirnya bergumam.

“Alika sayang.. Hari ini tepat satu tahun pernikahan kita. Tahukah kamu aku selalu berkhayal kita akan merayakannya bersama? Meskipun kita selalu berdebat kemana kita akan pergi. Seharusnya aku tak perlu mendebatmu. Di manapun itu, akan terasa indah asalkan aku bersamamu. Ah, betapa aku sangat merindukanmu. Kesendirian ini dingin, hampa dan kejam. Aku merasa begitu terasing.. Aku sangat ingin menyusulmu..”

Hatiku ikut gerimis mendengarnya. Kerapuhan yang ia tunjukkan tak menyurutkan pesona cinta sejatinya. Aku beringsut, duduk di sampingnya. Kucoba ucapkan sesuatu padanya.

“Cintamu sungguh tak terelakkan, dan kau sangat tegar, meski kutahu hatimu remuk redam. Sesungguhnya perpisahan ini telah terencana bahkan sebelum kau dilahirkan. Daripada ratapi yang telah tiada, tidakkah lebih baikĀ  syukuri hari-hari indah dalam kebersamaan yang tak mungkin tergantikan?

Kematian memang tak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tapi bahkan kematianpun tak sanggup menghancurkan cinta yang kau punya. Itu adalah fakta yang tak mungkin dibantah. Dan waktu yang tersisa janganlah kaubuang percuma dengan berduka. Mereka yang masih hidup, lebih berhak memilikimu, dan merasakan kehadiranmu. Kebahagiaan itu hakmu. Bangkitlah. Raihlah.”

Aku tak tahu apakah kata-kataku sampai di telinganya. Sebab ia hanya diam. Beberapa lama. Lalu ia tersenyum menatap nisanku, tempat jasadku dibaringkan. Berkatalah ia.

“Ah, Alika. Kita hanya terpisah oleh ragaku. Raga yang bisa diminta kembali oleh pemiliknya dengan mudah. Berpikir begitu membuatku tenang. Sementara sampai waktuku tiba, aku masih boleh berkunjung ke sini setiap hari, kan?”

Suamiku. Alangkah beruntungnya aku. Masa bersamamu adalah masa terbaik dalam hidupku. Dan nampaknya, juga matiku. Yang kubutuhkan hanyalah doa darimu. Teruslah mendoakanku, sayang, mendoakan kita..

Ia bangkit dari duduknya. Matanya memancarkan binar yang tak pernah kulihat sebelumnya. Mungkin dia mendengarku. Atau mungkin, Tuhan sendirilah yang sampaikan pesan itu tepat menuju nuraninya.

Di atas sana, matahari kian cemerlang, seolah ingin berbagi harapan dengan seluruh umat manusia.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: