catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Tanpa Syarat

on July 1, 2012

Dini hari. Hening mendingin. Aku menyusuri trotoar dengan tenang, bersiap menjemput rezeki. Selemparan batu di depanku nampak sebuah halte. Sepi. Hanya ada seorang gadis muda duduk di situ.

Aku mengambil posisi tak jauh dari gadis itu. Jalanan lengang. Tak satupun bis nampak. Sayup terdengar suara adzan subuh di kejauhan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling halte. Penuh dengan stiker calon walikota bekas pilkada lalu dan selebaran yang mengiklankan beragam produk tertempel di tiang. Bangku dan sandaran penuh coretan cat semprot, sasaran para pelaku vandalisme. Hingga perhatianku jatuh pada gadis di sebelahku. Kuperkirakan ia berumur pertengahan duapuluhan. Ada yang aneh padanya. Ia berpakaian biasa saja, celana jins dengan kemeja berlapis jaket tebal. Tak ada yang istimewa. Tapi kulihat ia mengenakan makeup supertebal. Lipstiknya merah menyala. Kelopak matanya dipulas warna coklat tua dengan serbuk berkilauan. Juga bulu mata palsu dengan ujung yang hampir terkelupas.

Gadis itu pasti menyadari aku tengah memperhatikannya, sebab kemudian ia bertanya.
“Kenapa, mas? Ada yang aneh sama muka saya?” senyum kecil tersungging di bibirnya.
“Oh, nggak, nggak kok, nggak apa-apa,” jawabku, agak salah tingkah.
“Saya tau kok, pasti aneh ngeliat makeup saya yang menor ini ya?”
Aku hanya tertawa kikuk, tak menemukan jawaban yang pas atas pertanyaan itu.
“Saya habis pulang kerja mas. Saya kerja di situ,” ujarnya sambil menunjuk sebuah klub malam di seberang jalan.
“Oh,” jujur, di kepalaku mulai muncul praduga-praduga, yang membuatku tak tahu bagaimana harus bereaksi.
“Saya kerja jadi stripper.” Ia mengatakannya sambil menatapku tanpa sebersitpun ragu, yang membuatku makin terpojok, dan akhirnya aku menyerah dan menundukkan kepala. Aku mulai mencium ke mana arah pembicaraan ini, dan itu membuatku tak nyaman.
“Mas mau tau nggak, kenapa saya jadi stripper?”
Sungguh dilema aku mendengarnya. Bagiku pertanyaan itu sungguh pribadi, bukan sesuatu yang bisa dibahas dengan orang asing yang ditemui di halte.
“Bukan apa-apa sih, saya cuma pengen cerita. Kayaknya mas orangnya enak diajak ngobrol,” Terdorong akan rasa tidak enak, akhirnya aku memberanikan diri menebak jawaban atas pertanyaannya.
“Tuntutan ekonomi, barangkali?”
Gadis itu tersenyum lagi.
“Bukan, mas. Bukannya mau sombong, tapi saya bukan orang melarat. Ayah dan ibu saya, keduanya dokter.”
Mau tak mau aku terperanjat. Mencoba memikirkan satu alasan masuk akal yang membuat anak dari orangtua dengan profesi yang dianggap mulia memilih jalan yang begitu bertolak belakang. Upayaku gagal.
“Sebenernya saya juga dokter. Baru lulus dua tahun yang lalu. Tapi dulu, masuk FK sama sekali bukan pilihan saya. Itu paksaan orangtua saya.”
Gadis itu nampaknya mulai kehilangan ketenangannya. Ujung-ujung jarinya bergemetar kecil. Lalu tangannya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sekotak rokok dan korek api, mengambil sebatang, menyulutnya dan menyedotnya perlahan. Ia menyorongkan rokok itu padaku, yang kutolak dengan halus.
“Nggak ngerokok? Bagus deh. Memang nggak bagus buat badan,” ujarnya sambil tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih. Dalam hati aku mengakui ia memiliki senyum yang menawan. “Tapi maaf ya mas, karena saya ngerokok deket mas, mas terpaksa jadi perokok pasif.”
“Nggak apa, mbak. Saya kuat nahan napas lama kok.”
Ia tertawa. Tawa yang cukup untuk melumerkan kecanggungan yang kurasakan.
“Jadi, ini pekerjaan sampingan gitu? Selain jadi dokter?”
“Nggak. Saya udah nggak praktik. Ini juga bukan pekerjaan. Ini pelarian.”
Asap rokok mulai memenuhi ruang udara di antara kami, terbias kelabu oleh temaram lampu jalanan.
“Saya sempet praktik setahun. Tapi saya sama sekali nggak merasakan kesenangan dari bekerja itu. Saya udah hampir kayak robot, badan saya kerja tapi jiwa saya melayang kemana-mana.

Tiap malam saya nangis terus. Sumpah saya nyesel banget kenapa saya harus jadi dokter. Kenapa saya mau nurutin paksaan orangtua untuk masuk ke jurusan yang bukan minat saya. Saya minatnya di seni, mas. Saya pengen jadi pelukis. Tapi saya selesaikan juga sekolah saya, karena saya pikir mungkin saya bisa lambat laun belajar mencintai profesi ini.

Tapi yang kejadian malah sebaliknya. Saya malah stres nggak keruan. Kerja males-malesan, periksa pasien juga ogah-ogahan. Makanya saat orangtua saya nyuruh saya untuk ngelanjutin sekolah spesialis, saya mati-matian menolak.

Saya aja udah ngerasa bahwa jadi dokter adalah kesalahan besar. Masa saya mau melakukan kesalahan yang lebih besar lagi, dengan sekolah spesialis? Tapi waktu saya bilang gitu, orangtua saya marah besar. Terutama ibu saya. Sampe sekarang, udah tiga bulan ibu saya nggak mau bicara sama saya.”
“Sampe segitunya?”
“Iya. Mungkin ibu saya baru mau ngomong sama saya kalo saya udah nurutin kemauannya sekolah spesialis.”
Asap kembali terhembus dari bibirnya.
“Lama-lama saya jadi mikir, ibu saya nggak sayang sama saya. Kalopun iya, sayangnya pake syarat. Kalo syaratnya belum dipenuhi, sayangnya juga dipending. Itu bikin saya makin down. Depresi.”

Gadis itu makin tak sabar mengisap rokoknya. Aku cukup jeli untuk melihat, ada danau di permukaan matanya.

“Pas lagi suntuk-suntuknya, saya pergi dugem. Saya liat ada yang lagi nari strip, dan saya pengen nyoba. Ternyata rasanya luar biasa.

Orang-orang mengelukan saya. Mereka memuja saya. Dan mereka tak pernah menuntut apa-apa pada saya. Tidak ada yang usil minta lebih,” kata terakhir ia ucapkan sambil membentuk tanda petik dengan kedua tangannya, “karena kebijakan klub memang demikian. Kami hanya menari, tidak lebih. Salutnya saya, mereka bisa terima itu. Mereka tetap mengagumi saya. Yah, walaupun dengan syarat juga, karena mereka kan ngeluarin duit untuk nonton saya. Tapi tetap, mereka membuat saya merasa diterima. Merasa dicintai. Perasaan yang tidak pernah saya dapatkan dari orangtua saya.”

Air di sudut matanya cepat-cepat ia seka, bahkan sebelum air mata itu sempat jatuh. Sementara aku masih tertegun. Sepertinya benar kata para psikolog itu. Bila seorang anak tidak mendapat cinta yang cukup di rumah, ia akan mencarinya di tempat lain.

Fajar pagi mulai menampakkan diri. Aku masih ingin mengatakan sesuatu untuk sekedar menghiburnya, tapi bis yang kutunggu mulai terlihat di kejauhan. Bis pertama pagi ini.

“Bisnya sudah datang, mbak. Mbak mau naik juga?”
Ia menggeleng.
“Saya nanti saja, mas. Saya belum pengen pulang.”

Belum ingin pulang. Masih belum menemukan sumber kebahagiaan yang tak henti dicari. Kadang tertipu dengan yang nampaknya sejati, walau ternyata semuanya semu. Entah mengapa ada perih yang mulai terasa mengiris batin.
“Kalo gitu, saya duluan, mbak. Semoga mbak cepat menemukan apa yang mbak cari.”
Gadis itu menatapku lekat. Matanya menyorotkan persetujuan. Ia mengulas lagi senyumnya yang rupawan.
“Terimakasih mas, udah mau denger cerita saya.”

Aku mengangguk, lalu cepat melompat ke dalam bis. Melihat ke jendela, menatap dunia yang tak sederhana. Dan kini, di mataku, dunia ini tak pernah sama seperti sebelumnya.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: