catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Satu Kesempatan (bag. 1)

on July 2, 2012

Matahari baru saja menampakkan diri. Cerahnya seolah menunjukkan ketidaksabarannya untuk segera menerangi bumi. Ia bersinar dengan penuh semangat. Sama semangatnya dengan Marni, yang sudah sibuk di dapur pagi itu. Mempersiapkan kue dan gorengan untuk segera ia jual. Tapi aktivitasnya harus dihentikan sejenak demi mendengar suara ketukan di pintu kontrakannya yang mungil. Ia bergegas membuka pintu, sebuah keputusan yang dengan cepat disesalinya. Sosok di depan pintu itu, adalah orang terakhir yang ingin ditemuinya.

Seorang pria berperawakan besar berdiri di hadapannya. Badannya kekar, lengannya dipenuhi bekas luka, saksi bisu dari banyak pertarungan yang pernah dihadapinya. Kumis dan jenggot yang dibiarkan tak tercukur memperkuat kesan garang yang ditimbulkannya. Tapi bertolak belakang dengan matanya. Sorotnya sayu, memancarkan tanda menyerah dan pasrah atas kehidupan. Mata itu pula, yang keteduhannya dulu sering dicari Marni untuk menenangkan hatinya dari tiap gelisah yang mengancam.

“Marni.”
Marni hampir tak kuasa menahan gemuruh amarah di hatinya. Rasa kecewa yang bertahun ia pendam dalam-dalam menyeruak begitu saja.
“Mas Anwar. Jadi kabar itu benar. Kau sudah bebas.”
Anwar mengangguk.
“Alhamdulillah. Aku bersyukur aku bisa pulang. Aku sangat merindukanmu dan anak kita.”
“Pulang? Ini bukan rumahmu, kau ingat?”

Deg! Tonjokan halus seolah memukul jantung Anwar. Ia seperti sedang menaburkan garam pada luka. Dan ia merasa luka yang diderita Marni karenanya tak akan pernah kering, sehebat apapun ia menyesalinya.

“Kau belum memaafkanku, Marni?”
Seketika otot rahang Marni mengeras. Bahunya menegak.
“Aku sudah memaafkanmu. Tapi percaya lagi padamu, itu lain soal.”
“Aku sudah bertobat, Marni. Aku bukan Anwar yang dulu lagi. Selama di sel aku menemukan banyak pencerahan. Aku tahu aku sudah banyak menyakiti hati orang lain, termasuk kamu. Sekarang aku akan memulai hidup yang baru, yang bersih. Mencari nafkah yang halal. Untukmu, untuk Dilla.”
“Tidak perlu. Selama ini aku dan Dilla sanggup bertahan meski tanpa nafkah darimu. Aku bisa mencari nafkah sendiri, yang sudah jelas kehalalannya. Bukan uang kotor berbau neraka hasil menghilangkan nyawa orang lain, seperti yang pernah kauberikan. Sekarang, maaf. Aku masih harus melanjutkan pekerjaanku.”
Marni cepat menutup pintu, secepat ia menutup kesempatan yang diminta oleh Anwar, suaminya, sang mantan narapidana.

* * * *

Memori tentang malam sepuluh tahun lalu itu tak pernah luntur dari ingatan Marni, saat ia mendengar kabar bahwa suaminya diringkus polisi. Setengah mati ia tak percaya. Sepanjang pengetahuannya suaminya tak pernah berbuat kriminal. Namun keyakinannya patah saat di kemudian hari ia menjenguk Anwar di penjara, dengan Dilla yang baru berusia beberapa hari lelap dalam gendongannya. Anwar mengakui, ia merampok sebagai mata pencaharian. Bukan menjadi bodyguard seperti pengakuannya pada Marni. Belasan kali ia memimpin aksi penjarahan di rumah orang-orang kaya, dan tak segan membunuh bila pemilik rumah melakukan perlawanan. Sekian kali lolos, tapi polisi telah lama mengincarnya sebagai target utama.
“Kenapa kamu harus berbohong padaku?”
“Itu tidak mungkin. Kalau aku jujur, kau pasti akan meninggalkanku.”
“Bisa jadi. Aku lebih rela lapar dan miskin daripada menjejali diri dengan harta yang haram. Tak pernah putus aku berdoa, mas, agar kamu dimudahkan dalam mencari nafkah yang halal. Dan begini balasanmu.”
Anwar menunduk lesu. Ia sadar kebohongannya pada Marni akan terungkap. Ia hanya ingin mengulur masa lebih lama agar Marni tetap di sampingnya. Dan sejak saat itu, ia tahu ia telah kehabisan waktu.

“Maafkan aku, Marni. Aku sungguh-sungguh minta maaf.”
Marni tak mengatakan apa-apa. Sejurus kemudian ia pamit, dan tak pernah datang lagi.

Marni pun masih ingat beratnya perjuangan hidup tanpa suami di sisinya. Menjual apa saja yang bisa dijual demi menghidupi diri dan buah hati yang masih lemah dan butuh perawatan ekstra. Ia tidak berpendidikan tinggi, tidak pula punya banyak keahlian. Hanya sikap pantang menyerah yang ia terus genggam. Perjuangan itu masih ia retas hingga sekarang, dan entah sampai kapan.

Setelah kebohongan itu terbongkar, Marni membuang semua harta yang ia peroleh dari suaminya. Meninggalkan rumah kecil sederhana yang pernah ia tinggali, karena ia menjadi tak yakin akan asal usul rumah itu. Terlalu besar penipuan Anwar padanya. Pengkhianatan yang meremas-remas hatinya hingga koyak, jika tidak bisa dibilang hancur. Kehancuran yang makin lumat dilibas rasa kecewa. Ia tak menyangka, kisah cintanya akan menjadi nelangsa begini rupa.

(to be continued..)

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: