catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Satu Kesempatan (bag. 2)

on July 2, 2012

Keesokan harinya, Anwar datang lagi.
“Aku tak akan berhenti sampai kau memaafkanku. Dan mengijinkanku menemui Dilla walaupun sebentar saja.”
“Kau kurang beruntung. Dilla baru saja berangkat sekolah.”
“Kalau begitu biar aku yang menjemputnya pulang sekolah.”
“Dia akan menolak. Baginya, kamu orang asing. Aku mengajari Dilla untuk tidak bicara dengan orang asing.”
“Kau tidak pernah menceritakan aku padanya?”
Marni menggeleng.
“Aku bilang kamu sudah meninggal.”
“Apa? Kamu nggak bisa melarangku menemuinya, Marni. Aku ayahnya. Kenyataan itu tidak mungkin diingkari. Tidak ada yang namanya mantan ayah dan mantan anak. Kamu bilang kamu benci aku karena berbohong padamu, tapi kamu jelas membohongi Dilla dengan berkata ayahnya sudah meninggal.”

Marni terdiam. Ia tahu tak mungkin menghalangi Dilla bertemu dengan ayahnya. Tapi ia tak ingin Dilla mengetahui kehidupan ayahnya yang kelam. Apalagi mengenal dekat pria yang telah melukai hatinya. Meski ia tak berhak melarang, tapi setidaknya ia bisa meminimalisir kemungkinan Dilla bisa berdekatan dengan ayahnya.
“Kuminta kamu jangan memaksa. Biar aku bicara dulu dengan Dilla. Sampai dia benar-benar siap bertemu denganmu.”
“Setidaknya ijinkan aku memperkenalkan diri padanya.”
“Sebagai apa? Seorang perampok, pembunuh, yang pernah mencekokinya dengan zat-zat haram? Atau seorang narapidana yang kebetulan adalah ayahnya?” Kata-kata itu menyembur begitu saja, terdorong oleh tekanan superbesar dari dalam rongga dadanya. Segera saja Marni bisa melihat efek dari kata-katanya. Anwar terperangah sesaat, lalu menunduk. Ekspresi penuh penyesalan tergurat jelas di wajahnya. Mimik seorang pendosa yang memohon pengampunan.
“Mantan, Marni. Mantan pembunuh, mantan perampok. Yang masih menjalani pertobatan.”
“Kalau kamu mau bertobat, jangan temui aku. Temui ustadz dan kyai. Mereka lebih bisa membantu.”
“Sudah. Aku juga mendatangi rumah-rumah yang pernah kurampok satu persatu, untuk meminta maaf.”

Batin Marni berkecamuk lagi. Terjadi perdebatan dalam dirinya sendiri. Satu sisi hatinya bertanya, sungguh-sungguhkah ia? Benarkah ia total bertaubat? Sisi hatinya yang lain berkata, kamu bisa melihat, ia tak main-main. Seperti Anwar yang biasanya. Sisi hatinya yang satu bertanya lagi, apa aku harus mempercayainya? Memberi kesempatan kedua? Bagaimana bila dia melakukannya lagi? Membayangkan dia membunuh dan menjarah, sungguh membuatku ngeri. Dan lagi, duh, sakit ini, siapa yang akan mengobati? Nyeri ini, pasti butuh waktu untuk sembuh, bukan?

“Kau tahu aku bukan malaikat yang kebal dari sakit hati. Aku manusia biasa.”
“Aku tahu. Ini juga tidak mudah buatku. Aku harus memulai segala sesuatu dari awal lagi. Mencari pekerjaan baru. Mencari teman baru. Mencari pengampunan dari orang-orang yang pernah menjadi korbanku di masa lalu.”
“Kalau begitu kudoakan, semoga kau beruntung. Tapi kumohon, biarkan aku dan Dilla sendiri dulu. Dilla butuh waktu untuk memahami semua ini.”

Marni hendak berbalik, tapi Anwar menahan bahunya.
“Mar, dulu kamu pernah bilang kamu tak pernah berhenti mendoakanku agar dimudahkan dalam mencari nafkah yang halal. Aku mencari dengan cara yang haram, dan aku masuk penjara. Dengan begitu, aku tak lagi mampu mengejar harta haram itu. Semua itu berkat doamu. Tuhan mengabulkannya. Dan aku sangat berterimakasih untuk itu.”

Terheran Marni menatap Anwar. Begitu fasih ia bicara tentang hikmah dari pengalaman pahitnya. Sudah seperti dai hebat saja dia.

Beberapa hari setelahnya, Anwar tidak datang. Marni merasa lega, setidaknya ia tak perlu lagi terganggu atas kehadiran Anwar. Lebih tepatnya, terganggu atas trauma mental yang muncul tak diundang tiap kali ia berhadapan dengannya. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama, berganti rasa cemas dan penasaran, mengapa Anwar tak datang lagi. Bukankah ia ingin bertemu Dilla? Berusaha memperbaiki ikatan keluarga yang mulai merapuh? Bukankah seharusnya, Anwar harus lebih telaten, menemui Dilla agar dia, dan ibunya, terbiasa? Dalam hati Marni mulai membenci dirinya sendiri karena bersikap plin plan.

Lamunannya buyar ketika pintu kontrakannya kembali diketuk. Lega sekaligus gugup, Marni tak membuang waktu untuk segera membuka pintu.

Ia sedikit kecewa. Bukan Anwar.
“Joni?” Marni mengenali tamunya sebagai sahabat karib suaminya. Mengapa Marni menangkap kerisauan di mata lelaki kurus itu?
“Ada apa sampai kamu datang ke sini, Jon?”
Joni membuang nafas dari kedua parunya. Seolah beban berat yang sedang ia tanggung ingin ia buang bersama nafas itu.
“Anwar.. Tengah malam tadi dia dihajar oleh sekelompok preman. Preman mana, kami belum tahu. Kami, aku dan teman-temanku, mau bantuin Anwar, tapi dia bilang biar dia hadapi sendiri. Soalnya sepertinya mereka bayaran dari orang yang dendam sama Anwar. Mungkin salah satu korban perampokan Anwar dulu..”
“Innalillahi.. Jadi mas Anwar sekarang gimana? Parah nggak? Sudah dibawa ke rumah sakit?”
“Itu dia, Marni. Salah satu dari orang itu ada yang membawa pisau. Kena tepat di perutnya. Kita langsung bawa Anwar ke rumah sakit. Kata dokter lambungnya bocor. Dia langsung kritis, langsung drop. Dia juga kehilangan banyak darah.”

Hening. Firasat Marni membuatnya tak ingin lagi mendengarkan penuturan Joni. Sayangnya, itu tak mungkin. Joni harus menyampaikannya, Marni harus mengetahuinya.
“Anwar meninggal.. Subuh tadi.. Maafin saya, Marni..”

Marni tak mampu menjawab. Ia sibuk bergulat dengan hatinya. Dengan rasa bersalahnya. Dengan sisa-sisa cintanya. Dengan egoismenya untuk setengah hati memaafkan. Dengan keangkuhannya untuk tidak percaya. Ah, seharusnya kemarin ia membolehkannya menemui Dilla saat itu juga. Siapa yang tahu, bahwa kini dia tak lagi punya kesempatan, untuk memberi suaminya kesempatan. Dan sekarang, Marni harus rela membiarkan hatinya kembali tercabik, kali ini oleh penyesalan.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: