catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Seberapa Jauh Batasan Seorang Anak Boleh Membuat Pilihan?

on July 4, 2012

Suatu hari beberapa tahun yang lalu, saya pernah membaca artikel di sebuah majalah tentang conditional love (cinta bersyarat). Artikel itu menceritakan tentang seorang gadis yang sangat pintar, berprestasi sangat baik, dan sedang menempuh pendidikan di Harvard University, universitas yang sangat bergengsi. Di masa SD hingga SMA ia menjadi murid yang menonjol karena prestasinya. Tapi tidak saat kuliah. Prestasinya menjadi biasa-biasa saja karena kebanyakan teman-temannya pun sama pintarnya dengannya. Di lain pihak, orangtua si gadis seperti tidak puas dengan perkembangan ini. Orangtuanya mulai menuntutnya untuk kembali berprestasi seperti di masa sekolah. Waktu sekolah pun anak ini juga selalu dituntut untuk berprestasi, karena si anak bisa memenuhinya maka sepertinya tidak ada masalah. Saat tuntutan itu makin berat untuk dipenuhi, mulai timbullah masalah. Gadis ini merasa tertekan, merasa tidak mendapat dukungan, dan ia melarikannya dengan meninggalkan pendidikannya begitu saja dan beralih profesi menjadi seorang penari telanjang. Ia mengatakan, menjadi penari jauh lebih menyenangkan karena ia bisa menjadi dirinya sendiri dan semua orang menerimanya. Artikel ini juga yang belakangan menginspirasi saya untuk menulis cerpen yang sudah saya pampang di blog ini, judulnya Tanpa Syarat (malah promosi).

Anyway, membicarakan hubungan orangtua dan anak yang harmonis memang seringkali tidak mudah. Seringkali bermunculan pendapat dari berbagai sudut pandang. Tentunya semua sudut pandang itu baik selama berasal dari hasil olah pikir yang jernih. Dalam hal ini saya ingin mengerucutkan pokok bahasan ini dalam satu pertanyaan.

Seberapa jauh batasan seorang anak boleh membuat pilihan?

Kita semua tahu orangtua wajib dihormati. Orangtua pun memiliki kewajiban untuk mengarahkan anaknya, agar tidak sampai salah jalan. Lalu, jika kita sampai pada sebuah situasi. Di mana seorang anak yang sudah dewasa, ingin menentukan jalan hidupnya sendiri. Orangtua tidak menyetujui pilihan itu. Ketidaksetujuan itu berlanjut dengan perkataan, “jika kamu tidak menuruti perintah orangtua, maka kamu sudah menjadi anak durhaka. Ingat, ridho Allah adalah ridho orangtua.”

Kalimat itu seolah ingin menegaskan posisi orangtua yang digdaya. Segala perintahnya, yang tidak bertentangan dengan syariat, wajib dituruti. Tetapi implementasi dari pernyataan itu seolah tidak memberi sang anak ruang untuk menentukan pilihannya sendiri.

Bagaimana jika anak punya pilihan, dan pilihan itu juga tidak bertentangan dengan syariat. Bukan pilihan menjadi penari telanjang seperti yang saya ilustrasikan di atas. Sekali lagi itu hanya ilustrasi. Namun pilihan yang bagi sang anak sangat menentukan masa depannya, dan bukan pilihan main-main.

Apakah perintah wajib menaati orangtua lantas meniadakan kesempatan seorang anak untuk membuat pilihan?

Saya yakin banyak konflik orangtua dan anak yang berporos dari sini. Betapa orangtua memiliki kuasa untuk mengarahkan anak. Sampai ibunda Malin Kundang yang meminta anaknya diubah jadi batu pun, Tuhan mengabulkan. Pertanyaannya, puaskah ibunda Malin setelah melihat anaknya menjadi batu seperti keinginannya?

Terkadang, anak terlalu buta melihat arah. Tugas orangtualah untuk meluruskan. Namun bila anak ini tidak buta, ia paham akan keputusan beserta risikonya, maka apakah baik bagi orangtua untuk menghalangi? Tidakkah lebih baik mendukungnya, mendoakannya agar senantiasa mendapat kelurusan, bukan menyumpahinya dan melabelinya sebagai anak durhaka, hanya semata karena keputusan itu tidak sejalan dengan keinginannya?

Saya memang belum menjadi orangtua. Karenanya saya hanya bisa berpendapat dari sudut pandang seorang anak. Bagi seorang anak, saya sadar betul, tidak ada yang lebih diharapkan seorang anak dari orangtuanya selain kasih sayang dan dukungan yang tulus, atas apapun pilihan sang anak dalam menjalani kehidupannya, selama pilihan itu tidak bertentangan dengan syariat.

Sekali lagi tulisan ini dibuat bukan untuk mendiskreditkan apalagi mengarahkan telunjuk pada satu pihak tertentu. Sama sekali bukan. Hanya ingin membuka ruang diskusi, untuk berbagi, dengan ikhlasnya hati, bukan dengan emosi yang seringkali ingin menang sendiri.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


One response to “Seberapa Jauh Batasan Seorang Anak Boleh Membuat Pilihan?

  1. yenni says:

    mslh pilihan seorang anak akan masa depannya,, sngt dipengaruhi o/ lngkngn dimana dia tinggal, utamanya keluarga. anak yg berasal dr keluarga yg demokratis akan lbh mudah memilih jalan hidupnya dgn adanya support dr keluarga. sebaliknya jk anak tumbuh di keluarga yg otoriter, konvensional or ortodoks, biasanya orang tua akan lbh dominan dlm memilihkan jalan hidup anak2 nya,, jd,, jk ingin pilihan hidupnya disupport oleh keluarga, si anak hrs berusaha u/ mengomunikasikan apa keinginannya. jk berbicara akan menimbulkan emosi, bs melalui surat, shg masing2 bs saling memahami. dgn kepala dingin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: