catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Malam Membiru

on July 5, 2012

Aku menanti dengan sabar, menunggu membisu dan membirunya malam. Harus menemui senja, yang kausebut partikel Tuhan yang kasat mata. Melawan gersangnya siang, dengan matahari merajai. Dan menyiram asa sejak muda bersama bernas sang pagi.

Waktuku berjalan mundur. Hari-hari seolah kembar. Kau tetap berlindung di balik alasan-alasan. Usaha yang serupa busa ombak di bibir pantai. Bening, rapuh, tak terhitung dan cepat menghilang. Semua demi sebuah pencitraan. Sulit kupercaya, tapi aku menjadi kian terbiasa. Sejak kapan, buih di lautan bisa kujadikan pijakan?

Bilakah penantian panjang dan jerih perjuangan ini akan berbuah? Entahlah. Meskipun lelah, tapi bukan pada trauma aku menyerah. Bukan pula pada massa yang kaugalang, atau cerita yang kaukarang.

Setelah begitu lama, akhirnya aku belajar. Bahwa jika sebuah luka tak lagi terasa sakitnya, itu bukan karena ia tersembuhkan. Melainkan karena ia telah ambil bagian. Menjadi sebuah kerutinan.

Ah. Sudahlah. Rekonsiliasi takkan berguna. Bila hanya drama yang mengemuka. Mungkin takdir khilaf dan lupa perhitungan, ketika ia mempertemukan kita.

Sebab, untuk apa ada kita, di antara kau dan dia.

Me @fdh_ayu on twitter!

Posted from WordPress for Android


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: