catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Gaya Hidup

on July 7, 2012

Pernah seorang ibu bersama anaknya yang berusia 10 tahun datang kepada saya. Ia mengeluhkan putranya yang katanya sering sakit perut. Ibu tersebut juga menyampaikan kebiasaan putranya yang sangat sering dan suka makan mi instan, bisa sampai tiga kali sehari. Saya lantas katakan kepada ibu tersebut, mi instan sebaiknya dikonsumsi maksimal dua kali seminggu, dikarenakan banyaknya kandungan mi instan yang berbahaya jika dikonsumsi terus-menerus dalam waktu lama, seperti MSG, pengawet, pewarna dan lemak trans. Juga minim serat, sehingga tidak terlalu baik untuk pencernaan. Lalu ibu itu berkata, “Dokter aja deh dok, yang bilang sama anak saya. Kalo saya yang bilangin gak pernah didengerin!”

Dalam hati saya berujar, “Lhah? Emaknya aja gak didengerin apalagi saya yang notabene orang asing?”. Sebagai bagian dari edukasi yang memang menjadi kewajiban saya, pada akhirnya memang saya nyerocos saja tentang bagaimana sebaiknya ‘memperlakukan’ mi instan, bahaya-bahayanya, juga pola makan yang lebih baik untuk kesehatan. Si anak nampaknya mendengarkan dengan setengah hati, entah karena kurang paham atau memang tidak tertarik. Saya tidak peduli.

Seorang petugas pelayanan kesehatan memang memiliki kewajiban untuk menyampaikan edukasi dan wawasan yang benar tentang kesehatan. Penerapan gaya hidup yang sehat memang menjadi kunci dari kesehatan yang prima, dan penyebarluasan informasinya adalah tanggung jawab kami semua, para abdi kesehatan. Nah, bagaimana masyarakat menyerap dan mempraktikkan pengetahuan tersebut dalam hidupnya adalah tergantung pada individunya sendiri. Mau memilih gaya hidup yang sehat atau tidak, pilihan sepenuhnya di tangan yang menjalani.

Seperti dikatakan di atas, gaya hidup yang sehat adalah kunci menuju kesehatan yang prima. Banyak penyakit berbahaya yang bisa ditebas, setidaknya ditekan risikonya hingga level yang serendah mungkin, dengan menerapkan gaya hidup yang sehat, seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, penyumbatan pembuluh darah, jantung koroner dan lain-lain. Standar, mungkin kebanyakan orang sudah banyak tahu tentang rutin berolahraga, berhenti merokok, cukup istirahat, perbanyak serat dan vitamin yang banyak terkandung di sayur dan buah, jaga asupan lemak dan karbohidrat sederhana, kurangi konsumsi lemak trans. Rata-rata masyarakat kita, yang berkat teknologi sudah semakin melek informasi, sudah mengetahuinya. Tapi menjalaninya, memang butuh niat dan usaha. Apalagi orang Indonesia memang punya habit malas olahraga, suka makanan instan dan cepat saji, dan malas makan sayur.

Ada yang bilang, “Makan mah terserah aja, kalau sakit, itu sih sudah takdir,”. Yang begini ini yang buat saya sering mengelus dada. Dada sendiri, bukan dada orang lain. Hehe. Maaf garing. Sebab tubuh kita adalah titipan Tuhan. Amanah. Sedangkan amanah itu wajib kita jaga, karena nanti akan dipertanggungjawabkan. Jadi badan ini, sudah selayaknya kita jaga, kita pelihara sebaik mungkin, sebagai amanah, juga sebagai perwujudan syukur kepada Tuhan karena telah menganugerahkan fisik yang sudah sedemikian baik bahkan sempurna.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip pernyataan salah seorang kolega. “Sehat itu tidak mahal. Sehat itu murah. Mengembalikan sehat dari sakit, itu yang mahal.”

Salam Sehat! Halah.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: