catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Senyum

on July 27, 2012

Aku melangkah malas dari kos menuju kampus. Panas. Matahari begitu bersemangat bersinar, seolah tak peduli bila ini bulan Ramadhan. Aku tak bisa menahan diri untuk menggerutui dosenku yang seenaknya memindahkan jadwal kuliah pagi menjadi siang. Apa enaknya harus kuliah di siang bolong, waktu puasa pula. Tidur sambil ngadem di kosan tentu lebih menghemat tenaga. Kan bukanya masih lama.

“Sita!!”
Aku menoleh. Mencari sumber suara yang memanggilku barusan. Dan segera saja kutemukan teman sekelasku sedang berlari mendekatiku.
“Nggak usah lari, Ir. Nanti cepet haus lho.”
“Namanya juga orang puasa, ya pasti haus to, Sit?” jawab Ira sambil tersenyum lebar. Bahu kurusnya naik turun mengatur napas. Dahinya berkilat, basah oleh keringat.
“Panas banget ya?”
“Ini masih ndak seberapa dibanding kemarin, Sit. Kemarin aku sampai nggliyeng, mataku kunang-kunang, saking panasnya. Aku sampai harus duduk berteduh dulu sebentar, takut nanti tiba-tiba pingsan.”
“Kalo nggak kuat, batalin aja. Lagian mataharinya emang kayak beranak pinak gitu, panasnya bukan main.”
“Sayang puasanya kalo dikit-dikit dibatalin. Belajar nahan. Intinya puasa kan, menahan. Nahan haus, lapar, marah, dan sebagainya. Lagipula, di kantong lagi ndak ada duit buat beli minum,” kata Ira sambil nyengir.
“Ck. Kamu ini. Eh, kamu nggak lagi jaga minimarket to?”
“Ndak. Aku libur hari ini. Jadi sepagian tadi aku bantu bude jualan di pasar.”
“Wih, ndak capek? Toko bajunya budemu, selalu rame kan? Apalagi puasaan gini,”
Lagi-lagi Ira tersenyum. Kadang aku selalu heran dengan orang yang tak pernah kehabisan stok senyum, seperti Ira.
“Kalo kerja, capeknya itu justru yang bikin seneng. Soalnya, itu dinilai ibadah sama Gusti Allah,”
“Sibuk kerja ke sana kemari, kok masih bisa bilang di kantong ndak ada duit?”
Ira malah tertawa kecil.
“Lha, gimana. Gajiannya masih tiga hari lagi, e. Duit terakhir yang masih ada harus aku kasih adik bungsuku buat bayar SPP. Kasian, udah nunggak tiga bulan. Jadi yo kudu ngirit tenan, ya to?”
Aku memandang Ira dengan diam. Tak menemukan kata yang pas untuk menggambarkan keherananku padanya. Kiriman orangtuaku juga baru akan datang tiga hari lagi. Di dompetku tinggal tersisa selembar lima puluh ribu, yang membuatku uring-uringan sejak pagi.

Dan Ira, yang tetap tersenyum meski tak memegang uang selembar pun.

Aku menunduk karena tak kuat menahan silaunya matahari. Tak banyak yang bisa dilihat di bawah sana, tapi pandanganku langsung tertuju pada kaki Ira yang mengenakan sandal, dan kelingkingnya yang terbungkus perban putih.
“Lho, Ir? Kakimu kenapa?”
“Ooh, ini? Lecet,”
“Kok bisa?”
“Nggak tau. Kebanyakan jalan kaki, kali. Kemarin aku jalan kaki dari minimarket ke kampus,” jawabnya sambil tetap tersenyum.
“Hah? Itu kan jauh banget! Serius, kamu?”
“Ndak apa. Cuma lecet dikit kok. Soalnya kalo naik angkot, aku ndak bisa beli bahan masakan buat buka. Kalo aku jalan kaki, paling yang pegel cuma kakiku aja. Tapi kalo aku naik angkot, aku sama adik-adikku bisa-bisa buka puasa pake angin,” Ia mengatakannya dengan sangat ringan, seolah persoalan seperti itu tidak pernah menjadi beban. Dan, lagi-lagi, senyum tetap tersungging di bibirnya.

“Gitu itu, kamu ya masih bisa senyum?”
“Lha kenapa? Toh senyum gratis. Gak bayar. Gampang pula, gak pake syarat. Tinggal narik ujung bibir, kurang gampang apa? Bisa dilakukan kapan aja. Mau seneng, mau susah, mendingan senyum aja. Kalo lagi seneng, senyumnya senyum syukur. Kalo lagi seret, senyumnya senyum sabar. Kalo kata orang-orang, dibawa hepi aja. Habisnya, kalo merengut capek, muka juga makin keliatan tua. Berkerut-kerut gitu. Iya to?”
Tawanya berderai. Tawa yang sangat renyah, yang tak hanya enak didengar, tapi juga mampu memancing pendengarnya, ikut tertawa bersamanya.

Lalu aku teringat, lima puluh ribu terakhirku.

“Nanti sore, kamu sama adik-adikmu ke kosanku, ya, Ir, kita buka puasa bareng. Ya?”

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: