catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Puisi-puisi Sitok Srengenge

on August 5, 2012

Kereta

1

Sendiri di Stasiun Tugu,
entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu,
ia cuma termangu
Sepasang orang muda berpelukan
(sebelum pisah) seolah memeluk
harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang
manis
Kapankah benih kenangan
pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungkin sempurna,
tapi asmara sering merana
Ia tatap rel menjauh dan lenyap
di dalam gelap
di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda + roda besi berderit,
tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

2

Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh
perjalananku
Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para portir
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis
berujung getir
Cahaya biru berkelebat dalam
gelap,
kunang-kunang di gerumbul
malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
tinggal kenang timbul-tenggelam
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan
tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban
Di persimpangan kau akan
bertemu garis lain,
begitu pula aku
Kau akan jadi kemarin,
kukenang sebagai pengantar
esokku
Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak
berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut
Mungkin kau akan tertidur dan
bermimpi tentang bukan aku,
sedang aku terus melantur
mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta
menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang
(semoga tak) menganggapku
tempat parkir
Kita berjalan dalam kereta
berjalan
Kereta melaju dalam waktu
melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu
Jadilah masinis bagi kereta
waktumu,
menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua
suatu waktu,
sebab segalanya sudah beda
Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam buku
harianku kau tak lebih dari
sebaris kalimat sedih

Peretas

Seumpama pagi, kita pun lekas
pergi
Sebagai sore, kita segera sampai
Dari dan ke pangkuan kelam
Di mana kita jadi penelusur gua
gelita
Meraba, menaswir gema cinta
Terpisah dari yang selain desah
Raga melenggang bagai
ganggang
Sukmaku menggapai sukmamu,
bersitaut serupa kiambang
Larut dalam kelucak ombak
pasang
Kulumur landai lampingmu sampai pasir menyerpih
Kudentur-dentur ceruk curammu hingga berbuih
Hingga kau-aku terhempas,
terlepas, di altar tarikh
Peramlah separuh perih, sampai
kaulihat rakit
dinakhodai cahaya fajar pertama dari kaki langit
Selebihnya biar kusemat di
jantungku, betapapun sakit
Sebab, selagi selat susut semata kaki,
kita akan mulai saling mencari
Dipandu denyut nadi
Kuharap kita akan bersua di
sebuah bukit hening
yang menyimpan mata air bening,
di mana letih terbaring
seluruh luka pulih, seiring kita
tandai segala yang asing
Dan di tanah yang tabah itu,
hidup akan tumbuh
Kau bagian dariku, aku bagian
dirimu, dua jiwa satu tubuh
Senantiasa saling butuh. Tanpa
yang lain kita tak penuh, tak utuh

Peladang

Minggu, menunggu kuncup cintaku menjigrah jingga
Bagai bunga angsoka di halaman putih sang kekasih
Senin, senantiasa tanganku
terulur serupa pohon nyiur
Menjinjing tempayan berisi sari
kasihku sesuci susu
Selasa, selalu lamunanku menjulur seperti sulur ubi
Tekun mengukir kesiur kenang
tentangmu di jalur nadi
Rabu, rabuku bergetar sesamar
cahaya di marwah mawar
Menggambar gairah meruap harap dengan cinta merona
Kamis, kambojalah aku putih
lembut semburat ungu
Hirup harumku sebagai penangkal kalut kalbumu
Jumat, jumpai aku si pucuk buluh membelai bulan subuh
Gugup menggurat gurit rindu
dendam sampai sembilu lebam
Sabtu, sabar sekalem kalammu
setabah benih berubah buah
Sadar hidup hanya jeda sebelum jiwaku jumbuh kaurengkuh

Musim

Tak pernah henti cinta mencintai
sampai usai tak letih silih mengisi
Dulu sebelum menyatu
aku bergelar lapar
kau bernama dahaga
Sama-sama baru tiba dari hampa
Lalu dibimbing waktu
aku melahapmu
kau meregukku
Sejak itu kita bukan lagi yang
sediakala
Betapa perkasa cinta
Ia jelmakan kita jadi manusia
Kuhasratkan kau rebah di tanah
sebab aku petani yang tabah
setia membajak dan
mencangkulimu
memupuk dan mengairimu
Hingga kau bunting
melahirkan nasi ribuan piring
Kadangkala aku pekerja pabrik
gula
merawat ladang tebu
atau menjaga gerak mesin
gilingmu
Agar tak cuma aku
tapi semua yang dekat kita
tetap bisa menikmati manismu
Dalam dambaku kau seindah
musim basah
selalu murung dan menangis
setiap kausaksikan kawanan
burung meninggalkan hutan tropis yang hampir habis
Kubuka sawah dan kebun
menadah gairah yang rimbun
sebelum kau berpaling sebagai
musim kering
membuatku gering rindu peluhmu
Aku bergantung padamu
Tak perlu kuminta kau jadi yang kumau
Cinta ibarat bunga: merekah
indah
sudah itu layu lalu luruh demi
buah
Petani dan musim
tak terpisah

Sitok Srengenge, penyair yang
juga menulis novel dan esai.
Bukunya, antara lain, On Nothing (puisi), Menggarami Burung Terbang (novel), dan Cinta di Negeri Seribu Satu Tiran Kecil (esai).

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: