catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Pusara

on August 8, 2012

Hidup, bagi kami, adalah perjuangan detik demi detik, tanpa henti.

Aku tertegun menatap pusara itu. Sesaat aku tak memiliki daya sedikitpun untuk bergerak, apalagi berkata-kata. Tak menyangka akan hidup kawanku yang singkat, hingga jasadnya harus berakhir di liang lahat.

Gundukan tanah itu masih baru. Bahkan taburan kelopak kenanga dan kambojanya pun belum lagi layu. Tulisan di nisan kayu belum pudar, bau catnya masih tercium samar. Nisan yang menjadi saksi bisu, yang mencatat riwayat singkat seorang manusia yang pernah bernyawa, dengan segala pertaruhannya. Di atas sana, matahari tertutup kelabu, langit mulai kehilangan biru.

Kembali kupikirkan tentang Ambar kawanku, yang di balik gundukan itu ia membujur kaku. Aku membayangkan ia berjalan di alam barzah dengan bangga, sebab hidupnya di dunia diakhiri dengan pengorbanan kelas syuhada. Ia meninggal dalam pergulatan untuk melahirkan anak kelimanya.

Meskipun telah ikhlas, dan yakin bahwa umur manusia sudah ditentukan oleh Yang Maha Sebaik-baik Pengatur, otakku terasa gatal untuk tidak menyesali keputusan Ambar melahirkan dengan pertolongan dukun bayi. Aku pernah membujuknya untuk bersalin di bawah panduan tenaga kesehatan yang profesional, entah dokter atau bidan. Tapi saranku hanya dibalas dengan kalimat singkat, namun mampu menyurutkan mimpi-mimpi kami dalam sekejap.

“Uang dari mana?”

Ya. Uang dari mana. Di kala untuk kebutuhan makan sehari-hari saja masih sangat kurang, kami pun menjadi terbiasa memangkas angan-angan kami yang mulai beranjak liar, meski itu hanya sekedar mengharapkan pelayanan kesehatan yang cukup memadai. Bagai pungguk merindu bulan, begitu leluhur mengatakan. Apalagi Ambar yang janda menafkahi diri dan keluarganya dengan menjadi buruh cuci. Ia menanggung lima orang, ibunya yang telah renta dan empat anaknya yang masih sangat muda. Belum lagi janin dalam kandungannya, yang tak lagi merasai belaian sang ayahanda yang meninggalkan dunia, saat kehamilan kelima Ambar baru memasuki bulan kedua. Suaminya tak meninggalkan warisan apapun kecuali setumpuk hutang. Aku sangat ingin membantunya, tapi apa daya, aku pun sama miskinnya dengan Ambar, meski aku sedikit lebih beruntung, tanggunganku tak sebanyak Ambar.

“Kapan ya, Mbar, orang-orang kayak kita ini bisa sekolah dan berobat gratis?” Ingatan melontarkanku ke salah satu percakapanku dengan Ambar, beberapa tahun yang lalu. Ambar hanya tersenyum kecil.

“Ya nanti, Rum, setelah negara ini benar-benar merdeka.”

“Merdeka gimana, Mbar? Kan kita merdeka udah enam puluh tahun lebih.”

“Iya, merdeka melawan Belanda memang sudah enam puluh tahun. Tapi kita belum merdeka melawan para koruptor dan lintah darat kelas kakap. Mereka itulah yang menyedot hak orang-orang miskin seperti kita ini, Rum.”

Aku merasa geli dengan ucapan Ambar. Di telingaku, apa yang ia bicarakan terasa begitu asing. Kita lebih terbiasa membicarakan kenaikan harga yang terus mencekik dan bagaimana menyiasatinya, bukan persoalan rumit yang menyangkut uang negara, yang sering didengungkan itu. Semua orang mengocehkannya. Orang kecil membahasnya di warung kopi, orang besar mendebatkannya di televisi. Apapun itu, dampaknya tak pernah terasa bagi kami, selain kesusahan demi kesusahan yang makin memberati.

“Gayamu udah kayak orang pinter saja, Mbar.”

“Itu kalimat yang sering kudengar dari orang-orang, Rum. Sebenernya aku nggak terlalu paham juga sih maksudnya apa.”

Kami berdua terkekeh.

“Tapi, kalau ada orang yang mengambil jatah kita, jatah sekolah dan berobat kita, wuih, itu jahat sekali ya, Rum. Tega betul. Nyolong punya orang kaya itu wajar, tapi nyolong dari orang miskin, itu kan kurang ajar ya, Rum?”

Sesaat aku terdiam. Mencoba merenungi berapa banyak yang telah diambil dari kami, atau berapa banyak hak kami yang tak kami dapati.

“Walah, nggak taulah aku Mbar.. Sudahlah, itu urusan orang-orang pinter, mikir gituan nggak bikin perut kenyang juga. Yang jelas, balasan itu ada. Sekarang mendingan kita pikirkan, besok anak-anak kita mau makan apa.”

Ambar mengangguk. Sorot optimisme menyala dari kedua matanya. Semangat militan ala pejuang empat lima, yang berjuang demi mengisi perut lapar milik enam nyawa.

—–

Hari terus berganti, waktu serasa terbang. Tanggal persalinan Ambar semakin dekat. Aku semakin sering menemani Ambar kemanapun ia pergi, karena aku takut ia akan melahirkan sewaktu-waktu.

“Mbar, kamu nggak coba ngurus jamkesmas gitu? Biar bisa melahirkan di puskesmas?”

“Katanya suratnya sudah nggak berlaku, Rum, jadi aku harus ngurus lagi, tapi aku harus bikin KTP dulu. Masalahnya kelurahan nggak mau bikinin KTP, katanya alasannya rumahku itu masuk lahan sengketa. Nanti kalau dibuatkan KTP, bisa timbul masalah Rum.”

“Masalah gimana?”

“Nggak tahu, Rum. Mungkin masalah hukum gitu. Aku nggak terlalu paham. Yang jelas, nggak ada KTP, nggak ada jamkesmas. Ya sudah, mungkin sudah takdirku harus melahirkan sama dukun bayi. Diterima saja, Rum.”

Hidup, bagi kami, kadang terlalu sulit dimaknai. Bagaimana mungkin. Kami lahir, tumbuh besar, dan mungkin menua dan mati di sini, di tempat ini. Tak perlu kau ragukan darah bangsa ini yang mengalir kental di tubuh kami. Tapi harus kami relakan tempat tinggal kami tak terakui, karena ruwetnya urusan di sana-sini. Orang bilang itu birokrasi, tapi bagiku itu hanya tingkah polah para petinggi.

“Aduh..”

Kulihat Ambar tiba-tiba memegangi perutnya.

“Mules, Rum.. Kayaknya sudah waktunya ini..”

“Ya sudah, aku panggilkan Mbah Yam sekarang ya, Mbar!”

Aku pun berlari sekencang mungkin ke rumah Mbah Yam, dukun bayi tumpuan harapan kami.

—–

Mbah Yam mulai meramut pasiennya dengan serius. Ia menekan – atau memijat, entahlah – perut Ambar keras-keras. Katanya, untuk mendorong sang bayi agar cepat lahir. Setelah entah berapa jam Ambar berjuang, di bawah komando Mbah Yam, akhirnya bayi itu lahir ke dunia. Menghirup udara dunia yang mungkin akan lapang, atau malah menyesak dada. Tapi, bayi mungil tanpa dosa itu seperti asa, kami tetap gembira menyambutnya.

Kulihat Ambar sangat lemah dan pucat, ia kehabisan tenaga. Ingin kuberi ia minum, tapi Mbah Yam melarangku. Katanya, wanita yang baru saja melahirkan pantang makan dan minum dulu. Aku bingung, melihat wajah Ambar yang seperti tak dialiri darah, bibirnya yang kering dan matanya yang sayu, tapi untuk membantah Mbah Yam mulutku kelu. Lalu ada hal lain yang lebih mengejutkanku, perdarahan Ambar setelah melahirkan sangat banyak, terlalu banyak.

“Mbah, darahnya banyak sekali, apa nggak apa-apa Mbah?”

“Nggak apa-apa, ini saya beri ramuan warisan tujuh turunan, perdarahannya pasti cepat berhenti.”

Sambil berkomat-kamit merapalkan entah mantra atau jampi-jampi, Mbah Yam melumurkan sesuatu semacam tumbukan daun, di tempat di mana Ambar mengeluarkan banyak darah. Aku hanya bisa berdoa, semoga ramuan itu membantunya.

Beberapa lama setelahnya, Ambar bukannya makin membaik, malah makin lemas, badannya pun panas. Darah masih mengalir deras. Aku panik, kulihat Mbah Yam, ia malah sama paniknya denganku. Kuputuskan untuk melakukan sesuatu. Ambar harus ditolong. Perkara biaya, biar kupikirkan belakangan.

Aku hendak keluar mencari bantuan untuk membawa Ambar ke puskesmas, tapi Ambar menahanku. Ia malah memintaku mendekatkan bayinya padanya, tapi Ambar bahkan tak kuasa menggendongnya. Akhirnya ia hanya mencium kening bayinya sesaat, lalu matanya terpejam.

—–

Bagi sebagian orang, hidup seperti mimpi. Tapi bagi kami, bahkan mimpi pun terlalu pahit untuk diselami. Namun kami tak punya pilihan, pil pahit ini harus mentah-mentah kami telan.

Aku masih menatap pusara itu. Tanah itu. Tanah milik bangsaku yang subur, yang dimonopoli segelintir orang makmur. Itulah kami, budak di negeri sendiri, meski kami tetap meyakini, Tuhan telah menyiapkan satu kebahagiaan, satu kemerdekaan, khusus untuk kami. Nanti.

—–

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: