catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Disiplin Berkarya

on August 27, 2012

Rekor. Sudah tiga belas hari saya tidak memperbarui blog. Karena tiga belas hari ini memang dipenuhi dengan akhir-akhir Ramadhan, semarak hari raya, hiruk-pikuk mudik, ramai kumpul kerabat yang saling bersilaturrahim, habiskan liburan, lalu kembali ke rutinitas kerja. Saya tahu, memang tidak selayaknya jika saya beralasan “tidak ada waktu untuk menulis”, atau “belum ketemu mood-nya”, karena seharusnya menulis tidak boleh dibatasi oleh waktu dan suasana hati. Apalagi, demi melatih kedisiplinan saya menulis, saya telah menetapkan target untuk diri sendiri, tentang berapa banyak tulisan yang harus saya hasilkan dalam satu bulan. Tapi karena bukan deadline profesional, target itu sering saya langgar, tanpa ada hukuman.

Menerapkan kedisiplinan untuk diri sendiri memang sangat tidak mudah. Karena manusia memang cenderung bersikap lunak pada dirinya sendiri. Menetapkan target, gampang. Tapi menetapkan target beserta reward dan punishment-nya, lalu mematuhinya di tengah setumpuk kesibukan lain yang juga memaksa, dan menghadiahi diri bila patuh dan menghukum diri bila melanggar, semata untuk diri sendiri dan bukan untuk orang lain? Perlu determinasi sekeras baja untuk melakukannya.

Bila kau merasa sering kehabisan waktu, berarti kau telah salah mengelolanya. Begitu kata orang bijak. Kita punya jatah waktu yang sama, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 30-31 hari sebulan, tapi mengapa ada sebagian orang yang begitu produktif berkarya, dan lainnya tidak? Jawabnya, karena tidak semua orang punya tekad.

Jujur, saya bukan orang yang paling bertekad sedunia. Bahkan saya cenderung moody dan mudah disetir oleh emosi. Dan juga hormon, karena saya wanita. Padahal waktu tidak berhenti. Sudah berapa banyak detik dan menit yang saya buang demi membenarkan alasan yang saya buat, yang seharusnya bisa saya manfaatkan untuk menghasilkan sebuah karya. Ah.

Menulis bagi saya adalah hobi, yang sedang saya tingkatkan untuk menjadi kebiasaan. Karena, lagi-lagi menurut orang bijak mereka yang sukses adalah mereka yang ulet, mereka yang ulet adalah mereka yang membiasakan diri berkutat dalam hal-hal yang mereka cintai dan tekuni. Terkadang lelah, tapi tak pernah menyerah, apalagi berhenti. Karena hidup baru berhenti, setelah ada mati.

Lain kali, jika saya diserang virus malas lagi, mungkin saya akan coba baca kembali tulisan ini, siapa tahu bisa menjadi obat yang ampuh untuk melawan serangan sang virus malas. Semoga saya mampu terus termotivasi di tengah perjalanan hidup yang naik turun, dan tentunya, terus menulis. Tidak akan ada karya yang percuma. Tidak akan ada usaha yang sia-sia. Berkarya saja, dan terus berkarya.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: