catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Bunda

on September 3, 2012

Lengkung alismu tercipta, untuk menaungi surga terteduh di dunia.

Senyummu mengada, untuk mengalihkan gersang pada sebuah oasa.

Helai perak rambutmu adalah tanda, perjalanan yang tak singkat, namun bestari pada akhirnya.

Kapal-kapal tebal di tapak tanganmu menjadi bukti nyata, betapa tangguh kau berkarya.

Garis-garis halus di kulitmu adalah saksi mata, rekam jejak waktu yang memakan usia.

Waktu memang memakan usia. Tapi ia bukan penjara bagi jiwa. Apalagi untuk ruh pejuangmu yang menggelora.

Waktu memang memakan usia. Tapi ia tak mampu mengeraskan lembut sentuhmu, pun mendinginkan hangat pelukmu, bagi nyawa-nyawa yang merasa.

Padamu, aku berguru tentang semangat yang tak tergantung pada era.

Darimu, aku mulai paham, tak boleh ada satu detikpun yang tak berharga.

Ketika menatapmu, aku tak bisa tak bicara tentang cinta.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: