catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Di Sebuah Kedai Kopi

on September 5, 2012

Entah sudah berapa pagi, aku terbangun dengan muka penuh seri. Merasakan denyut-denyut halus yang mulai merayapi, yang mengangkat kedua ujung lengkung bibirku tinggi-tinggi. Menikmati denting musik imajiner dalam kepala, yang memainkan melodi cinta yang berirama. Bayanganmu berkelebat, lagi dan lagi. Ini hari Jumat, hari biasanya kau datang. Maka ia menjadi hari yang paling kutunggu, sepanjang minggu.

Sejak perjumpaan pertama di kedai kopi, disusul pertemuan-pertemuan berikutnya, kau makin jarang absen dalam pikiranku. Khayalanku, lamunanku, mimpiku, semuanya tentangmu. Di kedai kopi itu, rasanya Tuhan sedang menorehkan garis takdirku dengan berkali-kali mempertemukan kita. Makin lama, kehadiranmu di sana setiap Jumat petang itu makin menjadi candu bagiku.

Biasanya, kau memasuki kedai kopi, lalu dengan mantap melangkah menuju sofa favoritmu di sudut ruangan, dan berlama-lama duduk di situ. Sosokmu yang selalu mengenakan kemeja dan jins itu tampak begitu tenang, dingin dan tak peduli. Kau selalu datang sendiri. Tapi selalu ada yang menemanimu, entah komputer jinjing atau setumpuk buku. Sehingga kau tak pernah tahu, ada sepasang mata yang tak bisa beralih darimu.

Setelah jumat keempat kau datang, aku menjadi hapal tiap gerak-gerikmu. Setelah kunjunganmu yang kesekian, kau tak lagi melihat daftar menu. Justru kau akan langsung memesan secangkir black coffee dan sepotong cheesecake, lalu menunggu pesanan dengan santai, sambil sesekali menatap jalanan melalui jendela kaca, atau sesekali mengutik ponselmu. Setelah pesananmu tiba, kau akan segera mengangkat cangkir kopimu, mendekatkannya ke hidungmu, menghirup aromanya, lalu menyesap sesapan pertama dengan khidmat. Lalu kau akan sibuk dengan duniamu, karena kau akan mengeluarkan komputer jinjing dari ranselmu, lalu jemarimu ramai berketak-ketik di atas papan kuncinya. Kali lain kau akan mengeluarkan sebuah buku yang dapat di jadikan penghalang pintu saking tebalnya, membuka lembar demi lembar hingga sampai pada halaman yang sudah kautanda, lalu kau akan larut dalam setiap kata yang kaubaca. Hingga kau tak pernah sadar, ada sebuah hati yang diam-diam sedang hanyut karena terpesona.

Tuhan begitu berbaik hati memberiku tiga jam yang indah di setiap Jumat sore. Untuk menikmati kupu-kupu yang melompat-lompat kecil dalam perutku. Untuk meresapi udara di sekelilingku yang mendadak hangat dan warna-warni. Untuk menghayati setiap degup yang mengencang dan melambat, lalu mengencang lagi dan melambat lagi, silih berganti. Untuk menyatukan kembali keping-keping keberanian yang runtuh kala melihatmu, lalu membayangkan diriku sendiri melangkah mendekati mejamu dan mengajakmu berbincang dengan penuh percaya diri. Tapi dengan nyaliku yang mendadak nol dan lututku yang gemetaran, rasanya bayangan itu akan sulit terwujud. Ah, apa benar cinta selalu begini melumpuhkan?

—–

Sore ini, aku berjanji semuanya akan berbeda. Aku sudah membuat keputusan. Telah kukumpulkan segenap kekuatan sejak Rabu malam, demi membebaskan jiwaku dari rasa yang kian hari kian tak terbendung. Biarlah aku malu sesaat, tapi setelah itu lega. Sore ini, aku harus berhasil memulai percakapan pertama denganmu.

Sebentar lagi kau akan muncul. Memasuki kedai kopi seolah sembari menenteng matahari, membuat semuanya nampak terang, meski di luar sana senja telah datang. Aku mulai mengetuk-ngetuk meja serampangan. Kakiku bergerak tak tentu arah. Mataku tak henti memelototi pintu masuk dengan gelisah. Entah apa saja yang kulakukan untuk mengusir gugup yang menghinggap. Gugup yang malah makin menjadi saat kau akhirnya hadir dan melenggang menuju sudut kesukaanmu. Tidak, aku tidak boleh kalah oleh grogi. Kukatakan pada diriku sendiri, aku wanita pemberani. Ya.. Aku.. Wanita.. Pemberani..

Sekian menit aku menunggu. Menanti saat yang tepat untuk menghampirimu. Sampai akhirnya kau menutup layar komputer jinjingmu, aku yakin inilah saatku. Aku mencoba berjalan mantap, berusaha tak menghiraukan tangan dan kakiku yang berkeringat dingin, atau ujung jariku yang bergeletar, atau jantungku yang berdebar. Aku makin dekat dengan mejamu, makin dekat, makin dekat…

Tiba-tiba kau mengangkat wajahmu. Aku terkesiap, panas terasa menjalari pipiku. Ingin rasanya aku berbalik lalu berlari sekencang mungkin, lalu merutuki kebodohanku sendiri karena telah bersikap sok bernyali. Tapi, tunggu. Kau tersenyum? Tunggu. Kau menyapaku?

Aku segera menyingkirkan khayalanku untuk berbalik dan berlari. Ah, aku yakin tidak akan seburuk itu. Ayolah. Hadapi saja. Aku pun mendekat padamu, kali ini dengan langkah yang sedikit lebih mantap. Aku mencoba mengingat kalimat-kalimat pembuka percakapan yang telah kupersiapkan untuk kukatakan padamu, demi segera membuang beban yang selama ini menggelayuti bahuku. Tapi niat itu kubatalkan, saat melihat kau mulai menggerakkan bibirmu, lalu mulai mengatakan sesuatu.

“Mbak. Tolong bill-nya, ya.”

Menguap sudah. Semua rencana itu. Semua keberanian itu. Semua kekuatan itu. Semua kalimat pembuka percakapan itu. Lenyap bersama hadirnya sebuah kesadaran, yang mengetuk tempurung kepalaku perlahan. Aku bukan siapa-siapa bagimu, kecuali hanya seorang pelayan di sebuah kedai kopi yang sering kausinggahi.

Sementara aku bergerak melaksanakan tugasku, sebait sajak tiba-tiba saja terngiang di pikiranku, menggaung terlalu dekat di telingaku, dan mulai menggangguku.

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;

Ada yang masih ingin kupandangi, yang selama ini senantiasa luput;

Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

—–

NB: sajak Hatiku Selembar Daun adalah karya Sapardi Djoko Damono, yang termuat dalam kumpulan sajak Perahu Kertas, tahun 1982.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: