catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Dialog

on September 6, 2012

“Akhirnya kau sadar juga.”

“Di mana aku? Ahhh, hidungku..”

“Jangan cengeng. Hidungmu hanya akan mati rasa sebentar. Kau tahu kan, kadang para tukang pukul itu agak hilang kendali. Tapi kurasa kau akan baik-baik saja.”

“Yang menghajarku tadi, apa itu orang-orangmu?”

“Benar.”

“Apa maumu?”

“Kau masih sama seperti dulu. Tidak suka berbasa-basi. Baguslah. Itu artinya kita bisa selesaikan urusan kita dengan cepat.”

“Aku tak punya urusan lagi denganmu. Aku sudah melunasi apa yang kau minta.”

“Ya ya ya. Memang. Tapi kau pernah bilang apapun akan kaulakukan supaya aku tutup mulut, benar?”

“Tapi bukan berarti kau boleh menjajah hidupku, Sandra. Uang yang kuberikan seharusnya lebih dari cukup.”

“Yang aku inginkan, bukan hanya sekedar uang. Tapi bila kamu tidak ingin memenuhinya, tidak apa. Bukti itu masih ada, siap menyeretmu ke penjara. Kau persiapkan diri saja. Lagipula, kau memang harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, iya kan?”

“Dasar licik.”

“Aku? Licik? Kalau aku licik, lantas kau apa?”

“Baiklah. Tapi aku juga ingin meminta satu hal. Serahkan laporan keuangan itu padaku, dan jangan pernah temui aku lagi. Aku akan penuhi apapun yang kauminta.”

“Itu dua, bukan satu hal. Itu terlalu banyak. Kau memang serakah. Begitulah sifatmu dari dulu.”

“Sandra, bukankah kita ini mitra? Mengapa sekarang kau berbalik menyerangku?”

“Aku memang bukan Sandra yang dulu. Aku ingin berubah.”

“Wow. Kedengarannya sangat.. mustahil. Ayolah, San. Kau jangan bercanda.”

“Apa aku terlihat sedang bercanda?”

“Baik. Aku tidak akan menghalangi niat baikmu. Tapi, aku tidak melihat apa itu ada hubungannya denganku dan diringkusnya aku ke sini.”

“Aku ingin kau memulihkan nama baikku.”

“Huh. Dengar. Reputasi yang kita miliki, bukan didapat dengan tidur semalaman. Sekarang kau sudah punya segalanya, dan kau ingin melepasnya begitu saja? Pikirkan lagi, San. Pula, kau sudah kotor dari dulu. Kau tidak punya nama baik, dan tidak akan pernah punya.”

“Kau pongah sekali. Kalau kelak kau jadi korban atas kesombonganmu, jangan bilang aku tak pernah memperingatkanmu.”

“Jangan munafik kau, San. Uang itu, kau juga ikut menikmati. Kalau aku dipenjara, kupastikan kau ikut serta.”

“Aky siap jika itu akibat yang harus kutanggung. Tapi perlu kau tahu, uang itu tidak kusentuh sedikitpun dan sudah kukembalikan seluruhnya padamu.”

“Apa? Kau tidak lagi… suka uang? Wah. Ini tidak bagus.. Wanita yang tidak doyan uang.. Berbahaya.. Ia tidak lagi mudah dijinakkan…”

“Andre!”

“Apa?”

“Bertobatlah, Dre. Mengakulah, bongkar semuanya. Pada polisi, pada KPK. Kalaupun dihukum, hukumanmu tidak akan terlalu berat kalau kau mau kooperatif.”

“…”

“Aku yakin kau masih punya nurani, Dre. Hanya saja nuranimu itu sudah terlalu lama tertidur. Ketamakan tidak akan membawamu kemanapun. Kau tidak akan pernah puas, apalagi bahagia.”

“Memang bukan itu yang kucari. Yang kucari hanya harta, harta yang cukup sampai tujuh turunan. Kaupikir, orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh itu, puas dan bahagia? Tidak. Kepuasan dan kebahagiaan itu hanyalah khayalan semu yang diciptakan orang-orang miskin, untuk melipur diri, sekedar hiburan untuk melupakan perut mereka yang lapar.”

“Perut mereka yang hartanya kaurampas, begitu?”

“Jika kau sudah menjelma menjadi polisi moral sekarang, bukan berarti kau boleh menghakimiku. Dan jangan lagi bersikap seperti ustadzah alim di depanku. Itu sangat menggelikan.”

“Aku melakukan ini karena aku peduli padamu. Belum terlambat untuk mengubah keadaan.”

“Urus saja urusanmu sendiri.”

“Baiklah. Jika persuasi ini tidak berhasil, tak apa. Toh aku masih punya seribu cara lain.”

“Aku tidak takut. Kau tahu? AKU TIDAK TAKUT!!”

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: