catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Tercipta untuk Tegar

on September 7, 2012

Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya.

EMPAT TAHUN YANG LALU

“Jadi gimana, Pak Ramli? Apa saya boleh pinjam uang?”

“Walah Wahno, Wahno. Uang yang dulu kaupinjam untuk biaya anakmu masuk SMP saja lima tahun baru kaulunasi. Apalagi ini, untuk biaya kuliah. Berapa tahun lagi baru lunas? Kamu belum tentu masih punya umur untuk melunasinya, iya to?”

Lelaki kurus itu menunduk, mencoba memulihkan perih yang tertoreh di dadanya. Tapi bagi orang seperti dia, hidup kadang tak menawarkan banyak pilihan. Ia hanya ingin menyekolahkan Indri, anaknya, setinggi mungkin agar tak bodoh seperti dirinya. Agar bernasib lebih baik darinya. Meski semua itu butuh biaya. Meski demi semua itu, ia harus rela menelan harga dirinya, demi mendapatkan pinjaman uang. Meski dalam hati ia mengakui, Pak Ramli benar. Ia makin renta. Belum tentu ia bisa mengembalikan uang yang ia pinjam.

“Umur memang ndak ada yang tahu, Pak. Tapi selagi saya masih hidup, masih punya tenaga, saya akan kerahkan semua tenaga saya. Kalau untuk bekerja lebih keras dari biasanya, mudah-mudahan Allah memberi saya kekuatan. Di kampung sebelah lagi banyak yang mau bangun rumah, pasti tenaga saya terpakai. Kalau tidak, saya bisa ke pasar, bantu ngangkut barang. Soalnya besok hari terakhir daftar ulang, sedangkan saya lagi ndak pegang uang, Pak.”

“Ya sudah. Tapi kali ini saya kasih tenggat waktu. Setahun. Setahun, uang itu harus sudah kembali. Kalau tidak, saya terpaksa ambil harta benda yang kamu punya, yang nilainya setara dengan uang yang kamu pinjam. Bisa?”

Wahno berdoa dalam hati, memohon kemantapan, dalam menapaki takdir yang telah digariskan Tuhan.

“Bisa, Pak. Insya Allah.”

—–

Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya.

TIGA TAHUN YANG LALU

Siang hari itu, Wahno baru saja pulang dari pasar. Letih begitu mendera tubuhnya. Tapi ia tidak bisa langsung beristirahat, karena ia harus bergegas menemui Pak Ramli, melunasi hutang. Hari ini adalah batas waktu yang ditetapkan Pak Ramli untuk Wahno. Wahno bersyukur, ia bisa menabung selama setahun, karena anaknya ternyata menerima beasiswa penuh untuk kuliah. Bahkan anaknya juga menghasilkan uang yang lumayan dari hasil mengajar les privat untuk anak-anak SD. Ditambah kerja kerasnya sebagai kuli bangunan dan kuli angkut, uang sebesar lima juta itu akhirnya terkumpul juga.

Tapi sepertinya, Wahno tak bisa cepat-cepat pergi.

Karena betapa kagetnya Wahno saat setibanya di rumah, ia melihat istrinya tengah terbaring tak sadar di lantai kamar.

Di instalasi gawat darurat, dokter segera melakukan penanganan atas istri Wahno. Kata dokter, istrinya harus menjalani pemeriksaan otak untuk memastikan apakah ada pendarahan. Pemeriksaan yang ternyata tidak murah, seharga tujuh ratus ribu rupiah. Saat itu, Wahno hanya ingin melakukan apapun demi menyelamatkan istrinya meski ia harus merelakan uang yang telah ia kumpulkan susah payah selama setahun.

Wahno tak terlalu paham apa yang terjadi selanjutnya. Kata dokter, istrinya sekarang mengalami koma dan harus dirawat di ICU. Perawatan di ICU bisa menghabiskan biaya dua juta rupiah per hari, untuk biaya ruangan, alat dan obat-obatan.

Ah, mengapa harus ada peristiwa seperti ini menimpaku, pikir Wahno. Padahal selama ini menurutnya ia selalu patuh pada Tuhannya. Shalat tak pernah ia tinggalkan. Dzikir selalu jadi kawannya setiap malam. Doa tak pernah putus ia panjatkan. Sampai timbul sebersit keraguan dalam hatinya, apakah Tuhan benar-benar mendengar doanya? Meski keraguan itu cepat-cepat ia halau dengan istighfar.

Allah. Sesungguhnya hidup dan mati kami ada di tanganMu..

Wahno memutuskan, istrinya harus diselamatkan. Tak peduli bagaimana. Walau itu artinya dia harus memohon keringanan pada Pak Ramli untuk memperpanjang tenggat waktu pembayaran. Walau itu berarti ia harus kembali membanting tulang lebih keras untuk mengumpulkan lagi rupiah demi rupiah.

Wahno baru saja hendak menandatangani surat persetujuan istrinya dirawat di rumah sakit saat terdengar kegaduhan dari bilik kecil di mana istrinya terbaring.

Semuanya menjadi terlalu cepat dan terlalu kabur bagi Wahno. Saat dokter dan dua orang perawat mengerubungi istrinya dan Wahno hanya diijinkan melihat dari jauh. Saat seseorang menekan tulang dada istrinya secara ritmis, seorang lagi memompakan udara ke mulut istrinya, seorang lagi membuka kelopak mata istrinya dan menyinarinya dengan senter. Beberapa menit lamanya sampai semua aktivitas itu dihentikan, lalu dokter berkata.

“Pak, kami sudah usahakan yang terbaik untuk istri Bapak. Hanya saja, pendarahan di otaknya terlalu banyak, kerusakan di otak pun meluas, yang mengakibatkan istri Bapak jatuh dengan cepat dalam kondisi koma dan mengalami henti jantung….”

Wahno tak mampu lagi mendengarkan sisa kalimat yang diucapkan dokter padanya. Sesak, dirasanya sangat mendesak. Saat itu ia hanya ingin berlari, berlari sekencang mungkin, meninggalkan bilik itu, rumah sakit itu, sejauh mungkin, sejauh mungkin hingga ia bisa percaya bahwa ini semua hanya mimpi.

—–

Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!

HARI INI

Seorang gadis duduk sendiri, ia tertunduk, mulutnya berbisik lirih.

“Bapak.. Ibu.. Seandainya kalian ada di sini sekarang..”

Pagi ini adalah pagi terpenting dalam hidup seorang mahasiswa. Pagi di mana kerja keras selama bertahun-tahun di bangku kuliah diapresiasi dengan sebuah gelar sarjana. Akhir yang sekaligus menjadi awal untuk sebuah perjuangan, di dunia yang sebenarnya.

Di hari sepenting ini, tak ada seorangpun yang ingin melewatinya sendirian.

Susah payah gadis itu menahan genangan bening di kedua matanya agar tidak jatuh. Sesuatu yang menyesaki rongga dadanya makin membuncah, makin mendesak untuk kemudian pecah. Di tangannya tergenggam sebuah amplop. Amplop yang baru boleh dibuka setelah ia wisuda. Maka inilah saatnya.

Gadis itu menyobek amplop, dan mengeluarkan isinya. Sebuah surat. Sungai kecil yang mengalir di pipinya tak kuasa lagi ia cegah manakala ia menemukan tulisan tangan ayahnya yang cakar ayam memenuhi lembar demi lembar surat itu. Gundah berkecamuk seperti badai dalam hatinya.

Ia mulai membaca.

“Kepada anakku Indri.
Saat kamu baca surat ini, Bapak mungkin sudah tidak ada di dunia ini. Sesak napas Bapak makin sering kumat, makin berat, dan sekarang mungkin umur Bapak tidak lama lagi. Pokoknya Bapak hanya ingin menulis surat ini. Bapak tidak punya apa-apa untuk diwariskan, tapi Bapak tidak ingin mati tanpa meninggalkan pesan. Meskipun Bapak ini orang bodoh yang tidak bisa mengarang kata untuk ditulis. Cuma Bapak mau nulis saja apa yang ingin Bapak pesankan kepadamu.

Pertama, selamat ya anakku, kamu sudah diwisuda. Bapak yakin, anak Bapak yang cerdas ini pasti lulus dengan nilai yang memuaskan. Bapak yakin tidak salah ambil keputusan untuk menguliahkanmu, karena Bapak tahu kamu bisa menyelesaikannya, dan bisa membagi ilmu yang kamu punya untuk orang lain.

Anakku. Bapak minta maaf, Bapak mungkin tidak sanggup membiayai sekolahmu sampai selesai. Sekarang Bapak sudah tidak mampu lagi bekerja, malah kebanyakan di rumah, dan jadi beban buatmu. Kalau ibumu masih hidup, tentu dia yang akan merawat Bapak, bukan kamu. Maafkan Bapak, Nak, karena Bapak kamu jadi harus kuliah sambil bekerja. Bapak tahu itu berat, apalagi kamu anak perempuan. Makanya Bapak tidak pernah luput mendoakan agar kamu diberi kemudahan. Hanya doa, itu saja yang jadi bekal Bapak sekarang.

Anakku. Hidup kita ini bukan dongeng. Hidup kita ini penuh ujian. Kamu pasti pernah mengalaminya, dan akan terus mengalaminya sampai akhir hayat. Ujian itu, pasti diterima siapa saja yang hidup. Hanya kadarnya saja yang berbeda-beda bagi tiap orang. Mungkin nanti, kamu akan merasa tekanan yang begitu sulit dan menghimpit. Tapi percayalah, manusia diciptakan Tuhan untuk tegar. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kalaupun kamu tidak sanggup menemukan jalan keluar, kamu masih punya pilihan, untuk tetap tegar. Tegarlah anakku, karena hidup ini indah..”

Indri segera menghapus airmata di pipinya dan melipat surat yang belum selesai ia baca demi mendengar namanya dipanggil.

“Puspitasari Indriani. Lulus dengan predikat cum laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3, 79!”

Saat ia melangkah maju untuk menerima ijasah, batinnya mengucap.

“Bapak, tidak terasa sudah setahun Bapak pergi, meninggalkan Indri tanpa Indri sempat meminta maaf ataupun berterimakasih pada Bapak, juga pada Ibu.Terimakasih karena telah mengajarkan Indri untuk menjadi karang yang tetap tegak meski terus didera ombak. Indri tahu, hidup setelah ini akan semakin sulit, tapi pasti bisa dihadapi, karena Indri manusia yang diciptakan untuk tegar. Indri akan lakukan apapun untuk membuat Bapak dan Ibu bangga. Terimakasih Bapak, Ibu, semoga kebaikan kalian diganjar surga oleh Allah..”

Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya

—–

NB: Penggalan sajak diambil dari sajak Dalam Diriku karya Sapardi Djoko Damono.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: