catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Mimpi

on September 18, 2012

Banyak yang bilang, saya tidak punya mimpi.

Karena setiap ditanya apa rencana saya di masa depan, saya hanya menjawab dengan gelengan lemah dan senyum masam.

Banyak yang bilang, hidup saya tidak terprogram.

Akhirnya sebagian orang ingin memprogramkannya untuk saya, yang ternyata cukup mengganggu karena mereka tidak sepenuhnya paham apa yang saya mau, meskipun saya hargai usaha mereka sebagai sebuah niat baik.

Banyak yang bertanya pada saya, apakah hidupmu mau begini-begini saja?

Ingin saya balik bertanya, hidup yang begini-begini saja itu seperti apa? Pernahkah kamu menjalani hidup sebagai saya, lalu kamu bisa menyimpulkan bahwa hidup saya begitu-begitu saja?

Bisa dibilang, saya sedang dalam perkembangan karir yang, menurut orang lain, mungkin relatif stagnan (Saya cantumkan kata “mungkin” dan “relatif”, karena saya bisa saja salah). Sebagai dokter umum yang sudah hampir dua tahun lulus, sebagian kawan seangkatan saya sudah melanjutkan sekolah spesialis. Atau PTT. Atau sibuk kesana kemari ikut pelatihan ini dan itu. Bukan saya tidak tertarik dengan itu semua. Tentu, saya masih menyimpan mimpi untuk sekolah lagi, meski bayangan kapan akan mewujudkannya masih sangat samar, terhalang oleh banyak kendala. Uang, misalnya. Saya juga punya keinginan untuk menerbitkan setidaknya sebuah buku, karya saya sendiri (Boleh dikata, mimpi yang ini porsinya lebih besar dari yang pertama). Meski jalannya tampak masih sangat jauh, atau mungkin saya yang terlalu tua untuk memulai.

Sekarang hidup saya jalani sambil mengamalkan ilmu kedokteran yang saya punya, juga melatih ketrampilan menulis saya yang masih perlu diasah. Meski bagi orang lain yang melihat, saya tidak menghasilkan apa-apa. Memang. Karena benih yang ditanam, takkan tumbuh dalam semalam. Ia juga butuh air yang cukup, dan pupuk yang berkualitas untuk menghasilkan buah yang segar. Sayalah sang petani itu, yang masih amatir, tapi hanya ingin terus belajar, bagaimana mengairi dan memupuk mimpi, lewat usaha yang mengenal lelah, tapi tak mengenal menyerah. Selebihnya, apalah daya saya untuk mengatur komentar orang.

Saya masih percaya hidup yang memiliki mimpi adalah hidup yang patut diperjuangkan. Sebab,
“Manusia bukanlah manusia, bila ia tak memiliki impian.”

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: