catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Hangus

on September 21, 2012

Pria itu masih menatap nanar puing-puing bangunan yang berserakan di hadapannya.

Hilang sudah segalanya. Segala harta benda hasil jerihnya yang tak seberapa. Semua dokumen penting atau foto yang menjadi saksi perjalanan hidupnya. Kebakaran semalam tak menyisakan banyak waktu baginya untuk menyelamatkan kepunyaannya. Lidah-lidah api telah merenggut semua, hingga yang tersisa hanya puing-puing tanpa nyawa.

Ia lelah. Lelah menahan kecewa yang menggumpal di sudut hatinya. Lelah menaruh harap akan masa depan yang nyaman lagi aman. Lelah menggapai impian yang tak pernah tercapai. Kali ini, ia merasa canda Tuhan sedikit keterlaluan.

Ingin ia berhenti dan mengakhiri.
Hidupnya yang serasa tak berguna lagi.
Bila saja ia tak merasakan jemari mungil dalam genggamannya.
Bila saja ia tak melihat sebersit binar di kedua mata gadis kecilnya.
Bila saja ia tak mengartikan binar itu sebagai seuntai asa, untuk kembali memulai.

Sungguh hebat anak kecil itu.
Mereka tak punya masa lalu untuk disesali, juga masa depan untuk terlalu dikhawatirkan. Bagi mereka, yang mereka punya hanyalah saat ini, dan karena itu mereka benar-benar menjalaninya.

“Ayah, nanti kalau rumah kita dibangun lagi, Zia boleh bantuin kan, Yah?”

Pria itu ambruk, kehilangan pertahanan dalam sekali ketika.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: