catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Jalanan Itu Keras

on September 27, 2012

Jalanan itu keras, Bung.

Sebagai pengendara yang baru terjun di jalanan kurang dari dua bulan, saya masih sering terkaget-kaget dengan kelakuan para pengguna jalan. Betapa nyata saya melihat, jalanan ini seperti miniatur kehidupan. Tidak semuanya baik dan manis. Ada pula yang kejam dan bengis.

Jumlah kendaraan bermotor memang makin meningkat setiap harinya. Tidak terkecuali di kota saya, Malang. Malang kini saya lihat mulai menyamai prestasi Surabaya, atau mungkin Jakarta, dalam hal permacetan. Apalagi di jam-jam kritis seperti di pagi dan sore hari. Kalau sudah berada di tengah kemacetan ini, akan mudah sekali ditemui kelakuan pengguna jalan yang tidak selalu menyenangkan di hati. Ada yang tidak mau mengalah. Ada yang suka mencuri kesempatan di tengah kesempitan (bayangkan, jarak antara dua mobil tinggal satu meter saja masih ada yang nekat menikung), ada yang bersikap seolah jadi korban,  padahal dia sendiri yang melanggar aturan (no offense, tapi seringnya pengguna motor yang seperti ini terhadap pengguna mobil. Jadi walaupun si motor yang salah, tetaplah ia korban karena kendaraannya lebih kecil dari mobil). Ada juga yang berjalan pelaaaan sekali tapi pasang badan di tengah alias tidak mau minggir, padahal di depannya jalanan kosong, membuat kendaraan di belakangnya keki setengah mati karena sulit menyalip karena ruas jalan dari arah sebaliknya sedang ramai.

Dua bulan berkendara membuat saya yang tadinya lugu menjadi mudah kesal. Jalanan telah mencabik keluguan saya :-D  . Berawal dari kekagetan, yang berubah menjadi kekesalan, lalu menjadi keinginan melampiaskan dendam (makanya, memelihara dendam itu memang tidak baik). Kalau terjadi sesuatu yang mengganggu, saya harus cepat-cepat mengatur emosi agar hal itu tidak memengaruhi konsentrasi saya. Tapi, yah, tidak selalu semudah itu memang.

Kalau sudah begini, kadang saya merindukan masa saya hanya perlu duduk manis di atas kursi penumpang dan membiarkan orang lain mengemudi. Tapi, kapan mandirinya kalau begitu terus?

Ya, mungkin kadang saya juga bertingkah menyebalkan bagi kendaraan lain. The devil inside me takes all over the place sometimes. Ego pun muncul dan mendominasi tiap pemikiran dan tindakan. Tapi saya tahu saya tak sendiri. Jalanan, seperti warnanya, adalah abu-abu. Dan abu-abu pun punya banyak gradasi. Ada yang lebih banyak mengandung putih, ada yang lebih banyak mengandung hitam. Tak heran kalau ada yang bilang, caramu berkendara menggambarkan kepribadianmu yang sebenarnya. Saya seratus persen setuju dengan ungkapan ini.

Sebab, jalanan itu abu-abu. Begitu pula kehidupan. Dan orang-orang di dalamnya.

Thanks for reading!


2 responses to “Jalanan Itu Keras

  1. lia says:

    hahaha…sdh merasakan kerasnya kehidupan di jalanan ya?? sabar wae..jgn terprovokasi…apalagi sampai berujung tawuran…;)

  2. fdhayu says:

    Siaapp, kakaak..
    😀

    Masih menyesuaikan diri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: