catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Penakluk Badai – Aguk Irawan MN

on September 28, 2012

Novel berjudul lengkap “Penakluk Badai: Novel Biografi KH Hasyim Asy’ari” karya Aguk Irawan MN ini terbit pertama kali bulan Maret 2012. Berkisah tentang perjalanan hidup seorang ulama, pemikir sekaligus pahlawan nasional dan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari. Alur kisah berjalan maju, diawali dari kisah kakek dan ayah Kyai Hasyim, masa kecil, masa remaja, dewasa, lalu awal mula jalan dakwah beliau dengan mendirikan pesantren Tebuireng dengan segala liku-likunya, pendirian organisasi Nahdlatul Ulama sebagai jawaban atas kegelisahannya tentang wajah Islam Indonesia, lalu peran sertanya dalam merebut kemerdekaan, yang selama ini mungkin jarang terekspos.

Setiap peristiwa penting dalam hidup Kyai Hasyim dikisahkan secara mendetil dan akurat dalam buku ini. Tapi di banyak bagian, penulis terlihat terjebak dalam posisi sebagai pencerita yang cenderung mendeskripsi, alih-alih membangun suasana dan feel. Isi lima bab terakhir malah terasa seperti meng-copy paste buku teks pelajaran sejarah. Bagi beberapa pembaca, hal itu mungkin akan mengganggu karena pembaca akan merasa didikte. Kalimat-kalimatnya sederhana, bukan kata-kata yang penuh bunga, sehingga terasa mudah dipahami. Hanya saja hal itu mungkin menyebabkan pembaca kurang dapat menjiwai jalan cerita dalam buku ini. Mungkin karena penulis terlalu berkonsentrasi untuk menghasilkan tulisan yang detil dan akurat, hingga lupa membangun suasana yang kondusif untuk pembacanya.

Bukan main banyaknya typo dalam buku ini. Dapat ditemukan antara satu hingga lima typo dalam satu halaman. Typo memang biasa terjadi, tapi jika terlalu banyak, saya khawatir justru akan membuat pembaca terganggu dan terdistraksi karena fokus mereka teralih pada typo yang bertebaran itu. Juga kalimat yang tidak memenuhi struktur kalimat yang benar masih cukup sering ditemui. Kemudian inkonsistensi penulis dalam menuliskan kata yang diulang. Contohnya, di satu bagian ditulis “kyai”, di bagian lain ada yang tertulis “kiai”, ada pula yang ditulis “kiyai”. Praktik dan praktek. Berpikir dan berfikir. Banyak kata yang tidak baku. Lalu deskripsi bunyi “wuss” untuk suara daun yang tertiup angin dan “grok ahhs” untuk suara mendengkur seharusnya tidak perlu dilakukan. Cukup tulis saja “suara desis daun yang bergesekan karena tertiup angin”, atau “suara dengkur yang keras dan nyaring” atau semacamnya. Selebihnya, biarkan imajinasi pembaca yang bekerja.

Meski begitu, pembaca masih dapat memperoleh hikmah yang banyak dari membaca kisah hidup tokoh besar ini. Setiap perjuangan, pasti mengandung kepahitan, tapi jika yakin akan kekuatan dan pertolongan Tuhan, akhir yang manis akan disesap. Termasuk perjuangan melestarikan warisan leluhur, sekaligus menjaganya agar tidak menyimpang dari ajaran tauhid, aqidah dan fiqh yang sudah satu dari asalnya, dan menyikapi perbedaan tanpa menimbulkan perpecahan. Karena banyaknya kasus perpecahan yang marak akhir-akhir ini, buku ini memang perlu ada, untuk mengingatkan kembali, dari mana titik mula semuanya berasal, sehingga evaluasi dapat dilakukan secara menyeluruh. Karena untuk itulah sejarah ada, dan perlu diabadikan dalam tulisan.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: