catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Kepingan Terakhir

on October 1, 2012

Hidup itu seperti sebuah mozaik. Kau tak akan menemukan kedamaian, sebelum kau berhasil menyatukan semua kepingan.

Dan kepingan mozaikku yang terakhir, hilang sejak dua puluh tahun yang lalu. Saat terakhir kali aku berjumpa dengan ayahku.

Aku masih berusia tiga tahun saat itu. Aku masih terlalu kecil, tak banyak yang bisa kuingat. Aku tak pernah tahu bahwa selama dua puluh tahun aku besar bersama ayah angkat, sebelum satu bulan silam. Saat Papa dan Mama menceritakan masa laluku. Ternyata Papa bukanlah ayah biologisku. Ayah kandungku entah ada di mana, masih hidup atau sudah tinggal nama.

Sejak saat itu keinginan untuk bertemu Ayah makin kuat dalam benakku. Bukan karena Papa tak cukup mencintaiku, bukan. Aku bersyukur selalu mendapatkan kehangatan cinta dan kasih sayang dari Papa dan Mama. Juga materi yang selalu mencukupi. Hanya saja, aku ingin tahu dari mana aku berasal. Karena aku tak mungkin ada begitu saja ke dunia. Ada akar yang harus kugali. Akar yang membuatku sadar, siapa aku sebenarnya.

Karena rasa keingintahuan akan asal-usulku, akan selalu menimbulkan penasaran yang menggebu. Sama penasarannya seperti saat bermain puzzle dan kita kehilangan keping terakhir, keping yang jika ditemukan akan menyatukan semuanya menjadi lukisan yang utuh. Maka, kepingan itu, mau tak mau harus kucari.

Rasa penasaran itu akhirnya mendorongku untuk memulai perjalanan dari ujung Jakarta tempatku tinggal, menuju sebuah desa di selatan kota apel, Malang. Di sanalah kata Mama tempat terakhir Ayah tinggal, sebelum Mama pindah ke Jakarta dan mereka sama sekali kehilangan kontak.

Berbekal hanya sebuah alamat dan sebaris nama, aku memulai penjelajahanku. Meski awalnya berat hati, Mama mengijinkanku menempuh perjalanan yang kusebut pencarian ke titik nol ini, sendiri. Setelah delapan belas jam menumpang kereta, akhirnya aku menjejak bumi kota Malang. Aku belum pernah ke kota ini sebelumnya. Rasa terasing yang hinggap cepat kutepis, karena aku tak ingin pesimis sebelum memulai. Aku sudah hampir mendekati titik nol itu. Aku tidak merasakan euforia yang kencang, mungkin terkalahkan oleh kecemasan yang belum bisa kusingkirkan. Setelah bertanya pada banyak orang, mulai dari petugas peron sampai tukang becak dan supir angkot, kutahu untuk sampai ke desa aku harus naik angkot tiga kali dilanjutkan dengan naik ojek.

Matahari sudah di atas kepala saat aku menginjakkan kaki di desa itu. Desa Sitiarjo, Malang, Jawa Timur. Tak ingin membuang waktu, aku segera menemui kepala desa. Ia memberi sinyal positif. Katanya, Ayah masih hidup dan tinggal di desa ini. Terimakasih Tuhan, Kaumudahkan jalanku menemui Ayahku. Pak Kades juga bersedia mengantarkanku ke rumah Ayah.

Aku tak mampu lagi menahan hangat di kelopak mataku, saat Pak Kades menunjuk rumah di hadapanku berdiri. Rumah yang masih berdindingkan bambu dan beratapkan genting sederhana. Saat itu, dengungan pertanyaan menggayuti benakku. Pertanyaan yang tak pernah muncul sebelumnya, kini mengemuka. Siapkah aku menemuinya? Bagaimana jika Ayah ternyata bukan orang baik? Bagaimana jika ia menyerahkanku pada Mama karena ingin membebaskan diri dari tanggung jawab? Bagaimana jika ia membenciku dan tak mau menerimaku? Bagaimana jika ternyata aku ini anak yang tidak ia inginkan? Jika tidak, mengapa ia tidak pernah mencariku selama dua puluh tahun?

Aku bimbang sesaat.

“Kenapa, Dik? Bukannya ini rumah yang Adik cari?” tanya Pak Kades membuyarkan lamunanku.

“Ehm.. Saya.. Saya nggak tahu, Pak. Tiba-tiba, saya merasa khawatir,” ujarku.

“Hhmm. Mungkin Adik tegang ya. Karena tidak pernah bertemu bapaknya sekian lama, tidak ingat bagaimana rupanya, lalu mendadak sekarang sudah di depan mata. Kalau memang belum siap, ya tidak apa. Kita kembali saja ke balai desa, sambil Adik istirahat dulu. Tapi Adik sudah jauh-jauh dari Jakarta lho. Sayang kalau mau pergi begitu saja.”

Benar. Aku tidak boleh kalah oleh keraguan. Aku harus siap atas segala kemungkinan. Kukumpulkan segenap keberanian.

Saat Pak Kades mengetuk pintu kayu yang lapuk itu, jantungku berdebar cepat. Aku gugup bukan main. Ini bahkan lebih mendebarkan dari ujian skripsi yang baru saja kujalani.

Pintu terbuka perlahan. Yang membuka adalah seorang bocah lelaki berusia kira-kira sepuluh tahun. Mungkinkah ia.. adikku?

“Bapakmu ono, Le?•” tanya Pak Kades.

“Wonten Pak. Bapak taksih gerah, mboten kiyat mlampah. Monggo pinarak mlebet••,” kata anak itu sopan.

Kami dipersilakan langsung menemui Ayah di kamar tidurnya.

Aku tak akan melupakan detik-detik itu sepanjang hidupku. Saat tirai yang menutupi kamar tak berpintu itu tersibak, dan nampak pemandangan lelaki kurus tengah berbaring di ranjang beralaskan tumpukan kain tipis yang dibentangkan. Aku punya firasat Ayah tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Garis-garis nampak tegas di dahinya. Tulang pipinya menonjol karena tiadanya lemak. Kulitnya cokelat, hasil bergaul dengan matahari terlalu akrab. Matanya memandangku dan Pak Kades bergantian, dengan sorot penuh tanya.

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Apakah aku harus bilang, “Ayah, aku anakmu, yang hilang selama dua puluh tahun”, atau “Hai, Ayah, akhirnya kita ketemu juga”. Atau bagaimana?

Pak Kades nampaknya memahami kebingunganku. Ia membisikkan sesuatu di telinga Ayah. Pasti ia membisikkan persis seperti yang ingin aku katakan, sebab bisa kulihat air muka Ayah langsung berubah. Ia segera mengulurkan tangannya, yang kusambut dengan pelukan. Dalam dekapannya, aku dan Ayah menangis sejadi-jadi.

“Anakku.. Ini anak gadisku..”

Saat itulah, kalimat demi kalimat yang terpenjara selama dua puluh tahun, di bibirku dan bibir Ayah, akhirnya berhamburan. Kuceritakan awal mula kisah yang membawaku ke tempat ini, sembilan ratus kilometer jauhnya dari tempatku dibesarkan. Tiba-tiba saja ruangan sempit itu sesak dengan segala rasa. Bahagia, duka, juga rindu. Tumpah semua jadi satu.

“Ayah tidak pernah berhenti mencarimu, Nak. Kabar terakhir yang Ayah dengar, kamu dibawa ke Jakarta. Ayah ingin menyusul, tapi Ayah tidak punya ongkos. Tiap kali Ayah menabung, tabungan itu selalu ludes untuk kepentingan yang lebih mendesak.

Ayah dulu bilang pada ibumu, meskipun kita bercerai, jangan larang aku menemui kamu. Memang selama setahun aku bisa menemuimu sesuka hati, sebelum kamu pindah jauh, jauh sekali.

Ayah tahu, ibumu pasti tidak bermaksud memisahkan aku dengan anakku. Dia pasti punya alasan. Aku tidak bisa mencegahnya, karena aku waktu itu pengangguran, tak punya uang untuk membelikanmu popok dan susu. Tidak salah kalau ia mencari suami lagi yang bisa menjamin, kamu bisa hidup dengan layak.

Tidak pernah putus Ayah berdoa setiap hari, supaya kamu selalu diberi kesehatan. Walaupun aku tidak bisa bertemu, tapi semoga doaku sampai. Itu saja harapanku. Dan ternyata, Alhamdulillah, kamu tidak hanya sehat, tapi juga cantik dan cerdas..”

Aku hanya bisa tergugu. Kekhawatiranku tidak terbukti. Ayah bukan membenciku, justru ia terlalu menyayangiku, dan ingin aku memperoleh kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang ia tahu tak pernah bisa ia berikan.

Selepas perceraiannya dengan Mama, Ayah menikah lagi dan dikaruniai seorang putra. Tapi istrinya telah meninggal setahun lalu karena sakit, menjadikan Angga, adik tiriku ini, harus mengambil alih tanggung jawab mengurusi Ayah. Apalagi setelah Ayah terserang penyakit lumpuh layuh enam bulan terakhir. Ia tidak lagi sekolah, dan memutuskan untuk bekerja.

Aku kembali ke Jakarta dengan perasaan masygul. Berat rasanya meninggalkan Ayah dan Angga dalam kondisi yang masih jauh dari layak. Miskin dan sakit. Sungguh kombinasi yang sempurna untuk mengakhiri hidup seseorang. Aku tahu, aku harus melakukan sesuatu. Untuk menyatukan kepingan terakhir yang telah kutemukan.

Aku akan kembali lagi, dengan membawa bantuan. Kali ini, aku tidak ingin terlambat.

***

Keterangan:
• Bapakmu ada, Nak?
•• Ada, Pak. Bapak masih sakit, tidak kuat berjalan. Mari silakan masuk.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: