catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Menulis

on October 4, 2012

image

Saya tidak tahu apakah saya punya bakat. Termasuk menulis. Yang saya tahu, saya hanya suka menulis. Dan membaca. Dan berkhayal. Sedari kecil, saya suka menulis apa saja. Kebanyakan tentang kejadian sehari-hari. Atau peristiwa yang dialami orang lain dan opini saya tentang itu. Mirip seperti menulis diary lah. Tapi saya tak punya buku catatan khusus, biasanya saya hanya menulis di sisi kertas bekas yang masih kosong atau tak terpakai. Catatan-catatan random itu, jika ketahuan ibu saya, akan langsung beliau buang. Di mata beliau, saya mungkin melakukan hal yang tidak berguna. Beliau pikir lebih baik belajar daripada menulis subjek-subjek yang menurut beliau tidak jelas.
Mungkin saya trauma dengan kejadian itu. Karenanya selama beberapa tahun saya pendam saja keinginan saya untuk menulis. Kalaupun ingin menumpahkan sesuatu, saya tulis saja di secarik kertas yang kemudian langsung saya bakar. Begitu terus selama bertahun-tahun.

Meski suka menulis, saya tidak pernah menulis karya fiksi. Lebih tepatnya, tidak percaya diri. Karena, ya itu tadi, saya merasa tidak punya bakat. Sampai saya berkenalan dengan sesuatu yang bernama Twitter. Saya melihat bahwa Twitter adalah wadah yang tepat untuk para penulis amatir. Dari Twitter ternyata banyak lahir penulis berbakat, dan banyak pula buku yang terbit tentang kumpulan kicauan penulis di situs microblogging tersebut. Akhirnya, karena tak punya wadah, ya Twitter lah tempat penyaluran tulisan-tulisan saya. Saya mulai coba-coba menulis sebaris sajak atau puisi.

Sampai akhirnya salah seorang kawan saya, @sintaningrum, menyarankan saya untuk membuat blog. Memang sudah lama saya ingin membuat blog. Tapi urung karena lagi-lagi saya berpikir, saya tak mampu membuat tulisan yang bagus dan layak dibaca oleh publik.

Tapi, ah sudahlah. Yang penting memulai saja dulu. Daripada saya nyampah di Twitter, mending saya tuangkan semua di blog. Akhirnya,dengan sangat terlambat (karena blog sudah booming sejak lima belas tahun yang lalu), saya membuat sebuah blog sederhana. Sebulan ngeblog, halangan lain menanti. Hal yang sangat lumrah dialami penulis maupun blogger: buntu ide.

Sampai suatu hari, saya menonton sebuah talkshow di televisi yang menghadirkan tiga penulis ternama: Asma Nadia, Alberthiene Endah dan Djenar Maesa Ayu. Saya memperoleh pesan penting dari acara itu. Yaitu, menulis bukan hanya menunggu ide datang. Bukan setelah ide datang baru kita menulis, tapi dengan terus menulis, ide akan datang sendiri. Juga, menulis (ternyata) tidak melulu soal bakat. Yang lebih mendasar, penulis harus punya empati. Kemampuan untuk memahami apapun, entah itu rasa, hikmah, ataupun pemikiran tertentu. Lalu kepekaan untuk menangkap peristiwa. Selebihnya, kerja keras dan pantang menyerah, tentu saja. Sehingga, sebenarnya semua orang bisa menulis. Asal punya empat elemen yang saya sebutkan tadi.

Berulang kali saya katakan pada diri sendiri, jangan pernah takut menulis. Jangan takut hasilnya akan jelek, karena saya selalu bisa mulai dari awal lagi, membuat tulisan baru lagi. Saya selalu ingat kata-kata seorang editor, Hetih Rusli: “Tidak ada tulisan yang tak berguna. Setidaknya, ia berhasil memperkaya batin penulisnya.”

Dengan menulis, saya bisa jadi diri sendiri. Dengan menulis, saya bisa membuang gundah hati. Dengan menulis, saya bisa memulai dan akan sulit berhenti. Dengan menulis, saya bisa berbagi. Dan semoga, dengan menulis, saya bisa menginspirasi.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: