catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

2 – Donny Dhirgantoro

on October 5, 2012

Novel berjudul 2 ini adalah karya Donny Dhirgantoro yang kedua, setelah buku pertamanya yang fenomenal, 5cm. Novel ini berkisah tentang seorang gadis bernama Gusni yang memiliki kekurangan berupa kelebihan, kelebihan berat badan. Ia diceritakan memiliki kelainan dalam pengolahan lemak tubuh yang membuat berat badannya selalu naik dan tak pernah turun meskipun ia terus berdiet dan berolahraga. Sementara Gusni memiliki mimpi untuk menjadi pemain bulutangkis, olahraga yang membutuhkan kelincahan dan kegesitan gerak, yang tentunya sulit dilakukan oleh orang yang berbadan gemuk. Dan satu lagi, penderita penyakit ini, setidaknya dalam sejarah keluarga Gusni, tidak pernah bisa bertahan melewati usia 25 tahun. Dari sinilah konflik berawal. Gusni harus berjuang untuk terus menyalakan mimpi di tengah segala keterbatasan dan ketakutannya. Tentu saja, ia tidak ingin nyawanya diambil sebelum cita-citanya menjadi pebulutangkis profesional terwujud. Dengan dukungan Papa, Mama, Gita kakaknya, Harry kekasihnya dan sahabat-sahabatnya, ia terus melawan penyakitnya, ia bertekad tak akan kalah oleh penyakitnya. Kalimat andalannya: “Jangan pernah sekalipun meremehkan kemampuan manusia karena Tuhan sedikitpun tidak pernah!” Wuih. Sungguh kalimat yang membakar semangat hingga ke sendi-sendi.
Tapi kalimat-kalimat semacam itulah yang menjadi kekuatan dalam novel ini. Novel ini memang bertaburan kalimat indah nan inspiratif dari awal hingga akhir kisah. Ide ceritanya sebenarnya cukup sederhana, tapi penulis berhasil mengolah dan merajut kata hingga kalimat demi kalimat yang terbaca serasa memiliki nyawa. Seolah kalimat itu sendiri yang bercerita.

Penulis banyak menyelipkan humor di sana-sini, terutama untuk memperkuat kesan tokoh Papa yang digambarkan jenaka namun cukup bijak. Juga tokoh Gusni yang berkarakter ceria. Karakter masing-masing tokoh terbangun dengan baik, dan tiap tokoh saling berinteraksi dengan tokoh lain dan memberikan impact dalam kehidupan mereka masing-masing, membentuk jaring keterkaitan. Seperti interaksi Papa dengan Gusni, Gusni dengan Gita, Gusni dengan Harry, Gusni dengan Pak Pelatih, Papa dengan Pak Pelatih, Papa dengan Papa Harry, Papa Harry dengan Harry, dan seterusnya. Sebagai pembaca, saya menilai konflik yang naik dan turun di buku ini terelaborasi dengan cukup baik. Termasuk saat penulis harus menggambarkan jalannya pertandingan bulutangkis lewat tulisan, ia menuliskannya dengan mendetil, bak seorang komentator olahraga profesional.

Dalam lingkup sebuah buku terbitan penerbit nasional, saya lumayan terkejut melihat cukup banyaknya kesalahan editorial di buku ini. Mulai dari salah ketik, kesalahan penempatan tanda baca, sampai struktur sebagian kalimat yang tidak memenuhi kaidah kalimat SPOK yang baku. Meskipun standar toleransi kesalahan di tiap rumah penerbitan memang berbeda-beda. Tapi novel ini tetap tidak kehilangan esensinya dalam menjadi karya yang inspirasional tentang perjuangan mengejar cita-cita hidup, mengatasi segala tantangan, tanpa kenal menyerah, sampai titik darah penghabisan. Sebuah karya yang layak dibaca dan diapresiasi.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: