catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Unintended

on October 6, 2012

image

Selama beberapa detik, aku seperti terjungkal jatuh dalam liang kuburku sendiri. Tak bisa kupercaya apa yang kudengar. Kebohongan memang pahit, tapi tak kusangka kejujuran juga begini menyakitkan.
“Maafkan aku, Rin. Selama ini aku nggak sanggup jujur, karena aku takut kamu akan meninggalkanku.”

Klise.

“Dasar egois.” Sambil menahan geram, hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan. Kegeraman mulai berputar kencang dan membentuk badai tornado dalam dadaku, siap mengobrak-abrik isinya tanpa tersisa.

Oke. Maurin, tenang. Ini hanya mimpi buruk.

Tapi suaramu di ujung telepon terus menyadarkanku. Bahwa semua ini nyata adanya. Atau, ini hanya sekedar bunga tidur yang tak kunjung berakhir?

“Kau bahkan terlalu pengecut untuk menemuiku langsung.”

“Aku hanya memilih cara yang paling tidak menyakitimu.”

“Begitu? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa harus kubuang begitu saja?”

“Maurin.. Memang aku yang salah. Saat itu aku hanya ingin melarikan rasa frustasiku. Tapi caraku memang salah. Seharusnya aku tidak mendekatimu saat aku belum siap memulai hubungan baru. Aku..”

“Memulai hubungan baru? Reno, kau bahkan belum menceraikan istrimu!”

Hening.

“Ehm.. Mungkin belum waktunya kita membicarakan ini. Kamu masih emosi. Bagaimana jika kita bicara lagi nanti?”

“Sekarang atau nanti, apa bedanya. Hatiku akan tetap sakit. Katakan saja apa yang mau kaukatakan. Aku siap mendengarkan.”

Aku benci situasi yang menggantung. Prinsipku, lebih baik tersingkirkan daripada tergantung tanpa harapan. Karena bagiku, dijadikan istri kedua itu bukan sebuah harapan. Dicap sebagai perusak rumah tangga orang, itu juga bukan harapan.

“Oke. Aku akui, aku memang belum bisa move on. Semarah apapun aku pada istriku, sebenarnya tak pernah terlintas di benakku pikiran untuk berpisah darinya. Memang saat aku mengenalmu, aku merasa tak memiliki harapan lagi akan hubunganku dengan istriku. Yah, saat itu emosi kami berdua memang belum redam. Tak kusangka kami bisa melewati semua itu dan hubungan kami perlahan mulai membaik. Di sisi lain, aku bisa merasakan cintamu semakin dalam. Kamu tak tahu betapa aku sangat ingin membalasnya. Tapi, pikiranku, waktuku, hari-hariku, masih tersita untuk membereskan kepingan hatiku yang pernah patah..”

“Itu seperti lirik lagu.”

I’ll be there as soon as I can
But I’m busy mending broken
Pieces of the life I had before..

“Ah, Maurin. Aku sungguh berharap seandainya kita tidak bertemu dengan cara seperti ini. Sebab, sungguh kamu terlalu indah untuk dijadikan pelarian..”

Ada sesuatu dalam hatiku yang sebentar lagi akan pecah. Tapi aku tidak ingin kau tahu. Kau harus melihat, bahwa aku akan tetap berdiri, tegak dan tegar. Aku akan selalu temukan cara untuk bertahan.

“Kalau begitu, selamat. Melewati semua itu tentu tidak mudah. Semoga aku juga bisa. Memang hidup ini tak lebih dari serangkaian ujian dan rintangan, bukan begitu?”

You could be my unintended
Choice to live my life extended
You could be the one I’ll always love

You could be the one who listens to
My deepest inquisitions
You should be the one I’ll always love

Siapa yang menyangka di siang terik begini hujan akan turun? Bukan, memang bukan dari langit. Tapi dari kedua kelenjar air mataku.

***

PS. This blog post was written as a tribute to my favorite band, Muse. Unintended was their masterpiece, I think.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: