catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Kopi

on October 8, 2012

image


Jika cinta adalah secangkir kopi, aku adalah asap yang meliuk gemulai, bersemangat seiring cairan hitam itu masih hangat, lalu perlahan layu bersama turunnya suhu.

“Kok kopinya nggak diminum?” tanyamu.

Aku menatap cangkir kopi di atas meja itu. Hanya sampai situ saja. Aku tak mampu melanjutkan pandangan hingga ke seberang meja, tempat kamu, dengan senyum dan wajah penuh seri, yang dulu pernah membuatku rindu setengah mati, berada. Tidak tanpa aku bisa mengenyahkan rasa kesal yang menggumpal di hatiku.

Duniaku dulu warna-warni bersamamu. Kini semua hanya nampak sepekat kopi yang kauhidangkan tiap pagi. Aku tak pernah menyukai kopi yang kaubuat. Rasanya tak pernah pas. Begitu juga masakanmu yang kadang keasinan, kadang hambar. Dalam urusan remeh rumah tanggapun kau sering lalai. Celana jinsku tak pernah tercuci dengan benar. Dan kemejaku, selalu kusut di bagian ujungnya, karena tak kau setrika dengan sempurna. Dan entah sejak kapan, semua itu terasa makin menggangguku.

“Mas, kenapa diem aja? Sakit?”

Ah, selalu begitu. Memangnya diamnya seseorang itu selalu berarti sakit? Kau tak pernah mengerti hal-hal macam ini. Kau tak cukup pintar. Wajar saja kalau kau hanya bisa mendapat pekerjaan mengajar anak-anak di sekolah gratis hasil sumbangan warga.

Bagaimana aku mengatakannya padamu? Bahwa aku penat dengan semua ini. Bahwa aku bosan mengeluh dengan semua pelayananmu. Semakin hari bukannya makin membaik, malah makin menimbun kesalahan yang kamu buat. Sudah tak terhitung kali berapa aku menoleransi. Dan saat level toleransiku sudah mendekati batas, apa yang harus kulakukan?

“Kalau memang nggak enak badan, Mas tiduran aja di kamar. Aku ke pasar dulu ya, mau beli lauk dan sayur untuk sarapan.”

“Lho, memang kamu belum masak?”
Habislah kamu jika tak mau lagi memasak untukku. Makin minus nilaimu di mataku.

“Udah sih, tapi Mas juga nggak mau makan┬ámasakanku, kan? Aku juga sadar diri kok, memang masakanku nggak sedap, soalnya aku nggak pakai vetsin. Sayangnya soal bumbu, aku belum paham banget. Resep yang dikasih ibu malah cuma pakai bumbu jadi siap pakai. Yang ternyata, setelah aku baca di bungkusnya, pakai vetsin juga. Vetsin kan nggak bagus Mas, buat kesehatan.”

Ternyata..

“O iya, nanti pintu depan jangan dikunci ya. Mbak Inah, yang bantuin bersih-bersih, mau datang pagi ini.”

“Sejak kapan kita punya pembantu? Kok kamu nggak bilang apa-apa sama aku?”

“Nggak pernah sempat Mas, soalnya Mas berangkat pagi pulang malem terus. Sampe rumah langsung mandi terus tidur.”

“Ya ngomong gitu doang cuma butuh berapa menit, sih? Gak cuma urusan pembantu, harusnya semua hal kamu diskusikan dulu sama aku. Lagian gajinya juga, siapa yang bayar?”

“Gajinya aku yang bayar, Mas. Aku ambil dari upah ngajar. Aku nggak motong uang bulananmu sama sekali kok. Maaf ya Mas, lain kali kalo ada apa-apa, pasti aku bilang ke kamu deh.”

Ada rasa malu yang tiba-tiba menyergap.

“Tapi, kenapa kamu butuh pembantu? Bukannya semua bisa kamu kerjakan sendiri?”

“Bisa sih bisa, tapi takut nggak memuaskan kamu Mas. Aku tau kamu paling rewel soal makanan yang harus enak. Juga baju yang harus bersih dan rapi sempurna. Aku takut nggak bisa memenuhi standarmu, makanya aku cari pembantu. Ini juga benar-benar aku pilih yang hasil kerjanya paling baik, bersih dan rapi.”

Jadi.. kau sudah tahu?

“Aku sebenernya pengennya juga kerjain semuanya sendiri, Mas. Biar bisa jadi ladang amal buatku. Dan biar ngirit juga.” Kau tertawa kecil. “Tapi aku nggak mau ladang amalku berubah jadi kubangan dosa sebab kamu sering murka karenanya. Lagipula, yang dinilai Allah kan, niatnya. Aku cuma pengen kamu puas dan bahagia dengan adanya aku sebagai istrimu. Apalagi kamu kan sudah seharian berkutat dengan kerjaan di kantor, masa di rumah masih ditambahin masalah juga. Ya udah, keburu siang, aku berangkat dulu.”
Bergegas kamu meraih tanganku dan menciumnya, lalu dengan cepat menghilang lewat pintu depan.

Astaghfirullah. Kamu tidak tahu saja. Mengira aku sungguh-sungguh bekerja. Padahal aku sering malas-malasan dan menolak banyak proyek, dengan alasan uangnya kecil. Malah sering kabur saat jam kerja dengan sejuta alasan yang dibuat-buat. Selain dari itu, waktu lebih banyak kuhabiskan dengan mengeluhkan gajiku yang tak seberapa, sehingga performa kerjaku tak pernah istimewa.

Cangkir kopi itu seperti berbalik memandangku. Aku yakin ia tengah mengejekku, menertawakan kedangkalan sikapku.

Tanganku tergerak untuk mengambil ponsel, lalu mengirimkan pesan singkat untukmu.

Sayang, kamu pulang aja. Nggak usah beli sayur lagi. Mulai sekarang, aku akan makan semua masakan kamu. Dan aku akan bayar gaji Mbak Inah. Cepat pulang, ya. Love you..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: