catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Khayalan Tingkat Tinggi

on October 9, 2012

Berapa persen sih dari khayalan kita yang jadi kenyataan?
Kalau saya sih, mostly imajinasi saya hanya berakhir sebagai khayalan. Atau yang paling mentok, berakhir jadi cerpen atau puisi.

Saya jadi ingat, jaman SD dulu saya pernah mengikuti tes IQ. Skornya saya lupa, tapi ada satu kalimat yang masih saya ingat sampai sekarang, yang tertulis di kolom “saran untuk orangtua”. Kalimat itu berbunyi: usahakan agar anak tidak banyak berkhayal.

Ada yang saya tidak pahami dengan kalimat itu. Memang hasil tes itu secara implisit mengatakan bahwa saya adalah anak yang banyak berkhayal. Yang saya nggak ngerti, apa sih yang salah dengan itu? Bukankah anak-anak memang dibekali imajinasi yang luar biasa? Anak kecil yang suka ngomong dan bikin dialog sendiri waktu main boneka atau mobil-mobilan, bukankah dianggap wajar? Bahkan ada bocah kecil yang sampai punya teman khayalan. Dan lagi, anak yang memiliki imajinasi tinggi adalah anak yang cerdas, begitu kata iklan susu (kalimat terakhir memang agak random, maafkan).

Tapi seiring usia saya yang makin dewasa, saya mendapati kebiasaan saya berkhayal tidak berkurang. Setiap saya mengalami sesuatu yang terjadi di masa kini, saya selalu membayangkan, kalau sekarang saya begini, di masa depan seperti apa ya? It sounds pathological, I know. Tapi khayalan itu muncul begitu saja tanpa bisa saya cegah. Walaupun, seiring waktu saya belajar bahwa sedikit sekali dari khayalan itu yang menjadi kenyataan. Jadi, kalau saya menginginkan sesuatu, saya malah melarang pikiran saya untuk mengkhayalkannya, sebab saya takut itu membuat keinginan saya tidak jadi terwujud. Memang beda dengan konsep law of attraction-nya Rhonda Byrne. Tapi saya memang bukan penganut “The Secret”, sih.

Gimana ya mengendalikan kebiasaan saya ini? Atau, gimana caranya supaya khayalan saya ini jadi bermanfaat? Sebab, kadang saya lelah dikecewakan oleh khayalan saya sendiri (lah, malah ngegalau). Yang jelas, khayalan itu tidak boleh dihilangkan. Karena bagi saya,  khayalanlah penyeimbang bagi realitas yang kejam. Seperti penetralisir cairan asam agar sifat korosifnya berkurang. Seperti pelepas penat dari pergulatan hidup yang melelahkan.

Jadi, harus saya apakan khayalan tingkat tinggi saya ini?

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: