catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

The Fifth Mountain – Paulo Coelho

on October 12, 2012

Buku ini sudah cukup lawas sebenarnya. Paulo Coelho menulisnya tahun 1996, dan diterbitkan pertama kali oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2005. Untunglah karya Coelho ini tetap bisa dibaca kapanpun dan akan tetap terasa aktual.
The Fifth Mountain mengisahkan kembali salah satu kisah dalam kitab suci tentang seorang nabi yang bernama Elia. Sebagai seorang nabi, Elia selalu mencari cara untuk dekat dengan Tuhannya. Dan seperti para Nabi dan umat manusia pada umumnya, Elia pun mengalami serangkaian ujian dan cobaan yang bertubi-tubi. Ujian-ujian itu benar-benar memaksanya sampai ke tepi batas, sampai Elia menjadi ragu dan mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar mendengar doanya. Akhirnya ia memutuskan untuk “menantang” Tuhan, bukan dengan menjadi atheis, tapi malah melawan dengan terus mendekat kepadaNya.

“Aku akan melawanMu sampai Engkau memberkati aku, dan memberkati juga buah-buah kerja kerasku. Suatu hari nanti Engkau akan terpaksa menjawabku.” (hal. 282)

Paulo Coelho sudah dikenal sebagai penulis yang bijak dan banyak menebar inspirasi. Novelnya banyak bercerita tentang pergulatan memaknai hidup, yang akan membuat pembacanya merenung dan berpikir, selain meresapi pula rangkaian kata-katanya yang sederhana namun indah. Dalam The Fifth Mountain, Coelho tak perlu repot menuliskan deskripsi yang mendetil, yang ia bangun adalah rasa. Pun pembaca masih bisa merasakan atmosfer sebuah kota di negeri Israel tahun 870 SM meski tanpa terlalu banyak disuguhi penjabaran tentang setting waktu dan tempat. Ini menunjukkan, deskripsi yang detil memang penting, tapi jangan lupakan pemilihan kata yang sesuai dengan era yang sedang ditulis. Karena kata-kata itu yang lebih berdampak langsung dalam pengembaraan pikiran pembaca saat menyelami kisah yang diceritakan penulis.

Meski kisahnya dinukil dari Alkitab, pemeluk agama selain Kristiani juga tetap bisa menikmati dan memahami pesan yang disampaikan Coelho, karena sifatnya universal. Bagaimanapun, ikatan spiritual antara manusia dengan Tuhan memang tak mungkin diingkari. Tuhan itu ada. Itu juga tak mungkin disangkal. Dan Tuhan memiliki cara kerjaNya sendiri, yang kadang tak mampu dirunut oleh nalar manusia yang terbatas.

“Saat kita tiba di akhir cerita, barulah kita melihat bahwa sering kali hal-hal yang Baik datang dalam kemasan yang kelihatannya Jahat, tapi dia terus mendatangkan Kebaikan, dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi manusia.” (hal. 312)

Begitulah. Tuhan memang tak pernah salah menempatkan ujian untuk umatNya.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: