catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Gaduh

on October 15, 2012

Hidup itu, seperti berdiri di tengah keramaian. Telingamu menangkap betapa gaduhnya suara-suara, tapi tak ada yang benar-benar kaudengarkan.

Sampai ada suara yang memanggilmu, atau terkait denganmu, kau pun akan menoleh, mencari sumber suara.

“Wina!”

Aku berbalik. Tersenyum melihat Karin, sahabat lamaku, melambai ke arahku lalu menghampiriku. Kami berpelukan dan saling mencium kedua pipi.

“Kemana aja sih lo? Kangen banget tau, gue.”

Aku hanya menjawab dengan cengiran. Tak tahu saja dia, selama ini aku malah sering jalan bareng kekasihnya.

“Eh, ada yang mau gue kasih nih ke lo. Tapi kita cari tempat yang enak yuk, buat ngobrol-ngobrol. Sekalian ngelepas kangen,”

“Oke, di cafe situ aja. Yuk?” Kataku sambil menunjuk sebuah cafe di seberang jalan.

“Emang apaan sih, yang mau lo kasih ke gue?” tanyaku setelah kami berhasil menemukan tempat untuk duduk.

Karin tertawa kecil, menampilkan deretan gigi putih yang rapi. Tawa yang pernah berhasil memikat Arya, tapi dengan usaha dan sedikit keberuntungan, perhatiannya akan teralih padaku. Aku menyayangi sahabatku, tapi sayangnya, aku lebih menyayangi kekasihnya.

“Lo pasti kaget deh. Gue aja, masih belom percaya sampe sekarang. Bener-bener kayak mimpi.”

Ia membuka Kate Spadenya dan mengeluarkan selembar kecil karton tebal berwarna ungu tua, dengan tulisan emboss berbentuk huruf A d an K yang saling melengkung dan terkait berwarna perak di atasnya. Sebuah undangan.

Jantungku berhenti. Bagaimana bisa..?

“Lo.. Mau nikah?”

Karin mengangguk dengan semangat. Senyumnya begitu lebar, hingga matanya yang besar nyaris menyipit.

“Gue tuh kaget banget waktu Arya tiba-tiba ngelamar gue.. Jadi gue kira kita waktu itu cuma pergi makan di cafe kayak biasanya kan, tapi terus dia naik ke panggung dan nyanyiin Marry Me-nya Bruno Mars. Sumpah gue grogi banget waktu itu, tapi juga senengnya setengah mati.. Terus, abis nyanyi lagu itu, dia manggil gue untuk naik ke panggung juga, terus dia berlutut di hadapan gue sambil ngebuka kotak cincinnya gitu.. So sweet banget kaaaaan? Terus abis gitu..”

Karin terus mengoceh.

Celotehan Karin makin lama makin lirih seperti terbawa angin. Hanya bibirnya saja yang bergerak dan matanya yang penuh dengan binar. Aku tak lagi mendengar suara apapun. Penyanyi cafe bernyanyi dengan penghayatan prima, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Juga sang gitaris, yang membetot gitar dengan serius, tapi tak kudengar sedikit pun alunan gitar nan merdu. Aku menatap keluar jendela, ada seekor anjing yang menyalak hebat, tapi tak ada suara gonggongan. Aku seperti berada di tengah film bisu. Sekelilingku mendadak senyap, hingga aku bisa mendengar dengan jelas, Tuhan sedang berbicara denganku. Ia memukulku telak di kepala.

“Kau ingin memisahkan cinta dua anak manusia, dan kau bangga?”

Hidup itu, seperti berdiri di tengah keramaian. Kegaduhan luar biasa sering mencegahmu untuk mendengar suara hatimu sendiri. Dan tanpa kausadari, kau pun menjadi tuli.

Saat itu terjadi, hanya suara Tuhanlah yang mampu memanggilmu kembali.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: