catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Secangkir Teh

on October 18, 2012

image

Sekelompok mantan mahasiswa lulusan dari sebuah perguruan tinggi, tengah berkumpul. Masing-masing dari mereka telah berhasil dan memiliki karir yang mapan. Lalu mereka sepakat untuk mengunjungi mantan dosen senior mereka.
Sesampai di rumah sang dosen, mereka duduk dan bercakap-cakap. Pembicaraan kemudian berkutat seputar keluhan tentang beratnya pekerjaan dan hidup yang harus mereka jalani. Sang dosen menawarkan teh pada mereka, lalu beliau pun beranjak ke dapur. Beliau kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan dengan teko besar berisi teh hangat dan cangkir-cangkir di atasnya. Yang aneh, cangkir-cangkir itu berbeda satu sama lain. Ada yang terbuat dari porselen, kristal, kaca maupun plastik. Ada yang terlihat murah, ada yang mahal, ada pula yang mewah. Sang dosen mempersilakan murid-murid kesayangannya mengambil sendiri teh untuk mereka.

Setelah semua murid memegang satu cangkir di tangan mereka, sang dosen berkata.

“Aku lihat kalian memilih cangkir yang mahal dan tidak mengambil cangkir yang murah dan biasa saja. Memang jamak bahwa manusia selalu menginginkan yang terbaik,tapi justru itulah sumber stres dan masalah yang membuat kalian tertekan.

Yakinlah bahwa cangkir itu tidak sedikit pun menambah kualitas teh yang kalian minum. Cangkir itu hanya mempermahal harganya, malah terkadang menyembunyikan nilai teh itu yang sesungguhnya. Yang kalian butuhkan sebenarnya adalah teh, tapi kalian mengejar cangkirnya. Secara sadar kalian memilih cangkir yang paling baik, bahkan kalian mulai melirik cangkir milik teman lain yang kalian sangka lebih baik.

Sekarang pikirkan ini. Hidup itu ibarat teh. Pekerjaan, uang dan posisi kalian di masyarakat ibarat cangkirnya. Pekerjaan, posisi dan uang kalian hanyalah alat untuk menjalani dan mengisi hidup. Bukan mendefinisikan atau malah mengubah kualitas hidup kalian yang sesungguhnya. Layakkah kalian jika mengagungkan cangkir secara berlebihan, sementara nilai sesungguhnya ada pada tehnya?

Kadang kita terlalu berkonsentrasi pada cangkir, hingga kita lupa pada teh yang telah Allah suguhkan kepada kita. Allah membuatkan kita teh, bukan cangkirnya.

Silakan nikmati teh kalian.” pungkas sang dosen sambil tersenyum.

***

story from: @IslamicThinking

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: