catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

The Broker – John Grisham

on October 19, 2012

The Broker sukses membuat saya mupeng berat untuk pergi mengunjungi Italia. Bagaimana tidak, bila separuh buku yang bersetting lokasi di Treviso, Bologna, DC dan New York ini banyak bercerita tentang wisata kuliner Italia sang tokoh utama, Joel Backman. Juga wisata tempat-tempat eksotik bersejarah Italia yang telah berusia ratusan tahun.

The Broker masih mengangkat tema “legal thriller” khas John Grisham. Ide ceritanya bisa dibilang tidak terlalu rumit, tentang penyelundupan seorang broker bernama Joel Backman yang dicurigai memegang aset berharga yang tak diketahui pemiliknya dan membuat nyawanya diburu oleh beberapa pihak. Atas ide FBI, yang ingin mengetahui siapa pemilik aset rahasia itu sesungguhnya, Backman diberi abolisi dan dibebaskan dari penjara, lalu dibawa ke Italia dan diberi identitas baru. Setelah Backman nyaman dengan identitas barunya, rencananya FBI akan membocorkan lokasi Backman ke pihak-pihak yang telah lama mengincarnya, untuk mengetahui siapa yang cukup khawatir untuk membunuhnya lebih dulu. Dengan begitu, dua masalah bisa selesai dalam satu waktu. Pemilik aset itu terbongkar, dan broker yang dibenci itu pun mati.

Awalnya saya berharap The Broker akan dipenuhi ketegangan pelarian yang seru. Mungkin penuh adegan kejar-kejaran dan tembak-menembak di sana-sini. Tapi ternyata Grisham bermaksud lain. Pelarian Backman begitu santai, dan terlihat ia begitu mudah lolos tanpa gangguan berarti. Hanya dengan mengganti pakaian dan topi, agen yang memburunya mendadak tak mengenalinya. Agak mirip seperti Jason Bourne, Backman memilih selalu berada di tempat ramai agar pengejarnya kesulitan menangkapnya. Backman juga sering sekali keluyuran tanpa dikuntit oleh satu orang pun (padahal agen dari empat negara sedang memburunya). Entahlah, para agen itu terkesan masih amatir. Jadi hilanglah harapan saya untuk merasakan denyut jantung yang naik turun demi mengikuti petualangan Backman yang (seharusnya) menegangkan.

Mungkin Grisham ingin bersantai sejenak. Saat menulis The Broker mungkin ia berkehendak ingin menulis lebih banyak tentang Italia yang indah, bahasanya, makanannya, kebiasaan penduduknya, tempat bersejarahnya, ketimbang menceritakan detil pengejaran yang serius dan mematikan. Tetap saya nikmati, dan novel ini berhasil membuai angan saya terbang menuju Bologna, menyusuri jalan setapak berbatu, mendaki ke atas San Luca untuk menikmati pemandangan Bologna dari ketinggian, melihat-lihat katedral dan portico tua yang masih terjaga keutuhannya, memasuki cafe lalu menikmati panzerotti di funghi al burro alias pastri jamur yang ditumis dengan mentega, atau conchiglie con cavalfiori alias pasta kerang dengan kembang kol atau spiedino di carne misto alla griglia alias kebab bermacam daging yang dipanggang (namanya saja sudah bikin ngiler) dan menyeruput secangkir cappuccino atau espresso seperti orang Italia. Dan meluangkan waktu dua jam hanya untuk makan siang. Hmmm.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: