catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Di Balik Sebuah Gelar Dokter

on October 20, 2012

Bukan mau berkeluh kesah. Hanya ingin mengurai fakta, satu persatu, supaya saya bisa mendapat gambaran utuh.
Dokter. Profesi yang mulia. Profesi yang diidamkan banyak orang sebagai pengubah nasib. Profesi yang sering dibayangkan bergelimang uang.

Benarkah?

Saya akan telaah satu persatu.

Dokter memiliki jatah tiga tempat kerja. Satu tempat kerja (selain praktik pribadi) dengan dua puluh sif perbulan, gajinya 1,5 hingga dua juta. Tempat kerja kedua, dengan sepuluh sif perbulan, gajinya satu juta. Tempat kerja ketiga? Saya rasa sudah tidak ada waktu lagi. Pengalaman saya kerja di dua tempat, saya sudah tidak punya satu pun hari libur dalam sebulan. Istirahat cukup? Hanya kami anjurkan untuk pasien tersayang, tapi tidak kami terapkan untuk diri sendiri. Ingat, kami harus begadang untuk jaga malam.

Pemasukan lain, dari obat dan lab misalnya. Saya teringat kata-kata seorang ustadz ketika dia ditanya, bagaimana hukumnya dokter yang memberi obat yang mahal? Jawab ustadz, jika itu menghalangi pasien untuk mendapat obat yang lebih baik dan lebih murah, maka dianggap sama dengan mendzalimi orang lain, HARAM. Secara filosofis, dokter memang seharusnya meringankan pasien, bukan menambah bebannya. Karena etika moral itulah, saya tidak berani terlalu sering meresepkan obat paten yang mahal (semurah apapun obat paten, masih lebih mahal dari obat generik) kecuali obat-obat baru, yang belum ada generiknya. Biarlah saya tak mendapat banyak uang asal secara moral saya tidak tercela. Saya tidak mau diazab di neraka karena di dunia saya mendzalimi pasien dengan memberi obat-obat mahal.

Dengan begitu, bisa kita reka kira-kira berapa pendapatan dokter umum dalam sebulan. Lalu pengeluarannya?

Pertama, dokter yang sudah menjadi anggota IDI wajib membayar iuran anggota 300.000 per tahun. Lalu, seminar. Untuk memperpanjang masa praktik setelah masa berlaku ijin praktik habis, dokter wajib mengumpulkan SKP, kalau tidak salah ingat, sebanyak 250 poin. Berarti 50 poin per tahun. Berarti empat sampai lima poin per bulan. Satu kali seminar dengan SKP 3-6, harganya bervariasi, tapi biasanya antara 200.000-400.000 rupiah. Lalu transpor, makan dan kebutuhan sehari-hari. Berapa tabungan yang bisa disisihkan untuk sekolah spesialis?

Sekolah spesialis membutuhkan biaya kira-kira dua ratus juta keseluruhan, hingga selesai masa pendidikan. Dengan gaji yang saya sebutkan di atas, untuk bisa sekolah lagi setelah sepuluh tahun dokter umum, maka sang dokter harus menabung dua juta rupiah per bulan (dengan asumsi harga tidak naik). Sisa satu juta, dipotong biaya seminar, tinggal 700.000. Kalau si dokter sudah menikah dan punya anak, jelas perlu putar otak berkali-kali hingga otaknya jungkir balik agar cukup untuk hidup sebulan. Belum lagi kebutuhan mendadak, misalnya servis kendaraan atau mendadak ada anggota keluarga yang sakit. Mau tidak mau tabungan harus diambil. Mau tidak mau masa menabung jadi lebih lama. Bayangan sekolah spesialis mau tidak mau kembali dipertanyakan.

Cari sumber penghasilan lain dong! Oke. Kita akan usahakan dengan sisa waktu dan tenaga yang kita punya untuk mencari tambahan. Bisnis. Dagang apa saja. Bisnis perlu fokus dan peluangan waktu yang cukup. Dengan waktu dan konsentrasi yang terbelah, belum lagi risiko kegagalan yang lebih besar, belum tentu semua dokter sanggup melakukannya.

Jadi, berhati-hatilah bertanya kepada dokter umum yang baru satu atau dua tahun lulus, “kapan sekolah lagi, dok?”. Kamu tak pernah tahu besarnya beban yang harus ia sandang demi menjawab pertanyaan itu. Kecuali kalau dia sudah kaya “dari sononya”.

Saya bukan sedang mengeluhkan rezeki pemberian Tuhan. Semoga Tuhan berkenan ampuni saya jika ini termasuk kufur nikmat. Tapi saya hanya ingin lebih banyak orang tahu, bukan hanya buruh dan TKW, kesejahteraan dokter di Indonesia pun masih jauh di bawah standar kelayakan.

Sekarang tanggal 20 Oktober. Empat hari lagi, tanggal 24 Oktober, kita memperingati Hari Dokter Indonesia. Harapan saya, semoga dokter Indonesia kelak sejahtera, hidup layak agar sanggup mengabdi pada kesehatan bangsa. Bukankah kita harus sehat, untuk menolong yang sakit? Bukankah kita harus kaya, untuk menolong yang miskin?

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: