catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Pahlawan Super

on October 22, 2012

image

Aku mengalami mimpi buruk semalam. Mimpiku hitam putih. Di sana, aku adalah seorang jagoan super. Agen bentukan pemerintah, hasil didikan badan intelijen dan pasukan khusus. Musuhku sangat tangguh dan sulit dikalahkan. Namanya Bunggu. Entah apa arti nama itu. Tubuhnya tambun. Lemak ditimbun di perutnya, hasil mengisap darah orang. Ia adalah vampir yang menyaru sebagai pemimpin partai dan penjual boneka. Sungguh kombinasi yang sangat unik. Aku diperintahkan langsung oleh presiden untuk membunuhnya dan memenggal kepalanya.

Adegan berikutnya, aku sudah ada di rumah Bunggu. Aku menggantungnya di tembok seperti sehelai pakaian. Ia diam kaku menyerupai sekarung sansak. Aku lalu mulai menyerangnya, berkali-kali. Memukulinya, mencabuti kuku-kukunya, menusuk dan merobek perutnya, darah muncrat di mana-mana. Tapi ia tetap hidup. Bahkan ia nampak segar dan sama sekali tidak terlihat kesakitan. Sial. Apa dia pasang susuk? Sementara aku sudah mulai kecapekan. Bunggu menyeringai melihatku. Putus asa, tindakan terakhirku adalah merobek boneka-boneka dagangannya dan membuang serpihannya lewat jendela. Konyol. Sebentar lagi ia akan balas meremukkanku dan aku hanya bisa pasrah seribu basa.

Aku terduduk di sudut ruangan, kehabisan napas. Bunggu mendekat, seringai di mulutnya belum hilang. Ia membawakan sebuah koper kecil dan menyuruhku membukanya. Isinya penuh dengan emas batangan. Mereka berkilau dengan elegan, lebih elegan dari pemenang kontes ratu kecantikan. Aku tercekat.

Kau boleh bawa pulang koper ini. Setelah itu, urusan kita selesai. Akan kuanggap seranganmu tadi tak pernah ada. Aku juga sudah mengirimkan dua koper serupa untuk presidenmu. Dia mungkin membutuhkan dana untuk melatih lebih banyak agen tak berguna sepertimu. Begitu kata Bunggu.

Aku membanting koper itu, lalu kuludahi mukanya. Aku pergi sambil menangis. Kenapa Bunggu memiliki emas sebanyak itu dan aku tak punya. Bahkan kebanggaanku satu-satunya, kemampuan superku, kini kupertanyakan.

Kemana kekuatan superku? Kemana perginya hasil pelatihan pemerintah yang menghamburkan banyak uang itu? Mengapa kekuatanku sama lemahnya seperti orang kebanyakan? Lantas, mengapa aku dijadikan pahlawan, bukan orang lain?

Saatnya Bunggu membalaskan dendam. Orang-orang bayaran musuhku itu mulai mengejarku. Di belakangku mereka berlari dan berhasil memperkecil jarak denganku. Tenaga mereka bagaikan kuda nan beringas. Dan tenagaku seperti keledai kecil yang kelaparan. Aku terus berlari dan.. bersembunyi di sebuah toilet umum.

Saat itulah aku terbangun.

Sungguh bukan akhir yang memuaskan. Kenapa aku berlari bukannya menghadapi? Kenapa aku tidak lebih kuat dari musuhku? Kenapa musuhku begitu lihai hingga sulit dikalahkan? Hal itu justru melukai egoku. Dalam mimpi saja aku masih jadi orang yang kalah.

Aku akan mengumpulkan kekuatan dalam diriku. Meski belum kutahu kekuatan apa yang harus kugalang untuk melawan Bunggu. Nanti, setelah terkumpul sejumlah daya yang kuinginkan, aku akan tidur kembali dan melanjutkan peperanganku.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: