catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Life of Pi – Yann Martel

on October 26, 2012

Menulis, ada kalanya adalah proses menemukan diri, setelah lama hilang arah. Itulah kira-kira yang dirasakan Yann Martel saat menulis kisah fiksi ini, seperti yang pernah dinyatakannya dalam sebuah wawancara. Fiksinya begitu nyata, hingga memancing banyak pertanyaan apakah Pi Patel, tokoh sentral dalam novel ini memang benar-benar ada.
Pi adalah remaja asal Pondicherry, India yang merupakan putra dari pemilik kebun binatang. Pada pertengahan tahun 1977, karena situasi politik yang tidak menentu di masa itu, Pi beserta keluarganya, dan semua binatang milik ayahnya harus meninggalkan India untuk pindah ke Kanada. Pada tanggal 2 Juli 1977, kapal Tsimtsum yang ditumpangi Pi Patel dari Filipina menuju Kanada tenggelam di Samudra Pasifik. Hanya Pi, 16 tahun, satu-satunya manusia yang selamat setelah berhasil menaiki kapal sekoci, beserta seekor hyena, seekor zebra yang kakinya patah, seekor orangutan, dan seekor harimau Bengal yang bernama Richard Parker. Selama 227 hari Pi terombang-ambing di Samudra Pasifik, melakukan segala cara demi bertahan hidup. Si zebra dan orangutan dimakan oleh hyena, sang hyena dimangsa oleh Richard Parker. Menyisakan dua petarung terakhir, Pi dan sang harimau Bengal.

Buku ini terbagi dalam tiga bab. Bab pertama menggambarkan latar belakang hidup Pi. Pi sangat mengasihi Tuhan dan memutuskan untuk memeluk tiga agama sekaligus, Hindu, Nasrani dan Islam. Sikap yang tentu saja dipandang aneh, tapi Pi mempunyai alasan telak yang cukup membungkam orang-orang dewasa di sekelilingnya, yang cenderung agnostik.

“Kalau di atas sana cuma ada satu negara, mestinya semua paspor berlaku, kan?” (hal. 118)

Bab kedua berisi kisah Pi selama di atas lautan. Bab ketiga bercerita tentang wawancara Pi dengan petugas penyelidik tenggelamnya kapal Tsimtsum dari Jepang.

Saya bisa merasakan efek yang langsung dihasilkan setelah menghabiskan buku ini. Tidak hanya terpukau dengan keyakinan Pi dalam mengarungi samudra, tapi juga terpesona dengan kemampuan penulisnya menggerakkan hati pembacanya menuju sebuah kesadaran tertinggi: kesadaran akan Tuhan.

“Ini bukanlah masalah keberanian. Melainkan sesuatu yang sudah menjadi kewajiban, ketidakmampuan untuk menyerah. Mungkin juga semangat ini sebenarnya hanyalah sebuah kebodohan yang bersumber pada sebuah kehausan untuk terus hidup.” (hal. 217)

Memang, selama saya membaca, sulit rasanya ketika akhirnya mengetahui bahwa ini adalah kisah fiksi (penulis mendeskripsikannya sebagai kisah nyata). Karena betapa luar biasanya jika apa yang diceritakan dalam buku ini memang benar pernah terjadi. Tapi, baiknya tak usah pedulilah mau fiksi atau kisah nyata. Yang jelas, pesan yang disampaikan penulis, benar-benar nyata dan dapat dirasa.

Secara keseluruhan, Life of Pi menyampaikan pesan, bahwa keajaiban kadang kala tidak terasa seperti keajaiban, melainkan layaknya pertolongan kecil yang datang terus-menerus di belakang semua musibah dan pada akhirnya menyelamatkan. Dengan serangkaian hal kecil itulah, akal yang berpikir akan mampu melihat, inilah cara kerja Tuhan. Sedikit-sedikit, tersembunyi, namun tak putus mengalir hingga akhir.

“Semakin kau jatuh dalam penderitaan, semakin tinggi pikiranmu ingin lepas. Wajarlah kalau dalam keadaan tanpa harapan dan putus asa, dalam terjangan penderitaan yang tak ada habisnya, aku jadi berpaling pada Tuhan.” (hal. 399)

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: