catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Bisikan Kepada Tu(h)an

on October 29, 2012

image

Matahari telah menekur dalam peraduan. Sinar bintang nyaris tak tertangkap indera. Hanya purnama yang masih terjaga, bersama seorang gadis belia di sudut sebuah kamar.
Bibirnya berkomat-kamit, kedua tangannya menengadah. Suaranya membisik.

“Tuhan. Aku punya permintaan. Permintaan yang sebenarnya aku malu memintakan. Karena rasanya aku seperti tidak senang melihat orang lain senang.

Aku ingin minta satukan dia denganku, Tuhan. Pisahkan ia dari siapapun yang dekat dengannya. Aku ingin bersamanya. Dialah sosok yang selama ini kuidamkan. Aku mencintainya, dan harus kutolak beberapa lelaki yang datang sebagai konsekuensinya.

Tuhan, aku tahu permintaanku jahat. Terserah padamu mau mengabulkannya atau tidak. Tapi bukankah Engkau sangat menyukai hamba yang berdoa kepadaMu? Dan tak ada satu pun doa yang tak Kau dengar.

Sebetulnya aku takut karma, Tuhan. Karena aku pernah mendengar bahwa doa adalah refleksi. Apa yang kita doakan pada orang lain akan berimbas pada kita juga. Aku tidak mau nanti ada yang merebutnya dariku dengan doa serupa. Makanya aku hanya¬† meminta, kalau boleh, kalau boleh.. Jadikan dia jodohku, Tuhan.”

***

LIMA TAHUN KEMUDIAN

Gadis belia itu, kini menjelma seorang wanita muda. Ia tengah bersimpuh di sudut kamarnya. Hujan air mata membasahi ranah wajahnya.

“Tuhan.. Aku datang dengan segala sesak memenuhi dadaku. Pagi ini, dia telah menikah. Tapi bukan denganku. Aku sedih sekali, Tuhan. Kenapa wanita itu bukan aku? Padahal aku tahu, hanya aku yang layak berdiri mendampinginya. Ingin pingsan rasanya menyaksikan dia tertawa bahagia dengan wanita itu. Wanita yang aku yakin, mencintai dia tak sebesar aku.

Tuhan, bukankah kau ciptakan segala sesuatu berpasangan? Sepasti malam yang mengiring siang, bukankah setiap pertemuan selalu dikuti perpisahan? Pernikahan pun mengenal kata cerai. Kalau Engkau takdirkan dia untuk bercerai, aku bersedia menunggu. Selama apa pun itu. Biarlah aku dilabeli perawan tua. Yang penting aku yakin, hanya dia yang bisa membuatku bahagia.”

***

SEPULUH TAHUN KEMUDIAN

Masih wanita yang sama, di sudut kamar yang sama. Senyum mengembang di lekuk pipinya.

“Akhirnya penantian panjang itu mendekati akhir, Tuhan. Istrinya kini tengah sakit keras. Kuperkirakan ia sedang menjelang ajal. Kanker rahim yang baru terdeteksi sudah mencapai stadium akhir. Aku tahu, Tuhan, aku bisa merasakannya. Kebahagiaanku kian dekat. Begitu dekat sampai aku bisa menghidunya.

Kau kabulkan doaku sepuluh tahun yang lalu. Terima kasih, Tuhan.Sekarang hanya ini yang kuminta.Percepatlah, Tuhan, percepatlah. Percepatlah perpisahan itu. Akhiri apa yang harus berakhir, agar awal yang baru dapat segera dimulai..”

***

LIMA BELAS TAHUN KEMUDIAN

Wanita itu, kini paruh baya, duduk menggelosor di sudut kamar sambil mengentakkan kedua kakinya.

“Lelucon apa ini, Tuhan? Mengapa Kau ambil dia saat aku belum sempat memilikinya? Istri pertamanya memang sudah tamat, tapi dengan cepat ia menikah kembali. Dan tetap bukan denganku. Tetap dengan wanita yang mencintainya tak sebesar aku. Dan saat aku masih gencar mendoakan perpisahannya, Kau malah memanggilnya. Begitu cepat dan tiba-tiba. Dia selalu sehat, lelakiku itu, tapi kenapa serangan jantung harus merenggut nyawanya? Dia bahkan tak pernah tahu berapa banyak cinta lelaki yang kutampik deminya. Berapa detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, lustrum, windu dan dasawarsa yang kusiakan untuknya.

Engkau pikir mungkin ini lucu, Tuhan. Menyenangkankah membuat takdir hambaMu semerana ini? Bahkan empedu pun akan terasa manis jika dibandingkan dengan penderitaanku.

Baiklah, Tuhan. Kuturuti maumu. Kau ingin aku menyerah? Kau ingin aku berhenti menyembahMu? Baik!” Bisikan itu telah bertransformasi menjadi teriakan dan dengusan. “Lagipula untuk apa aku berdoa jika tak ada lagi faedahnya. Apalah guna aku berdoa jika objek doaku telah meninggalkan dunia?! Sebodohnya aku pun tahu, aku tak mungkin meminta lelaki yang teramat dalam kucintai itu hidup kembali!

Atau.. Aku bisa menyusulnya. Kalau aku mati sekarang, mungkin aku punya kesempatan menemuinya. Dan di alam baka, mungkin tak ada lagi halangan yang merintang jalan kami untuk bersama. Baiklah. Baiklah. Tunggu saja aku, Cintaku..”

Sebilah pisau tergenggam di tangannya. Wanita itu mendekatkannya ke lehernya. Seketika, kamar itu basah oleh darah menyemburat.

***

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

Wanita yang kini menggeletak tanpa nyawa itu membiarkan televisi di seberang ruangan tetap menyala. Benda kotak itu tengah menyiarkan seorang ustadz yang berupaya menyentuh hati umat dengan tausiyahnya.

“Para pemirsa sekalian, sesungguhnya, Rasul bersabda, ‘Senantiasa diterima doa seorang hamba Allah, apabila ia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau untuk
memutuskan tali persaudaraan, asal saja dilakukan dengan tidak
tergesa-gesa’. Rasul lalu ditanya,
‘apakah yang dimaksud tergesa-
gesa?’ Rasul menjawab,
‘Seseorang berkata, aku telah
berulang kali berdoa tetapi tidak
juga dikabulkan.’ Ia merasa rugi
dan lesu lalu meninggalkan doanya.’ Maka, pemirsa sekalian, disilakan kita berdoa dan memohon kepada Allah. Namun Tuhan adalah Tuan, dan kita tetaplah hamba, yang tak mungkin mendikte tuannya. Karena apa yang kita sukai, belum tentu baik untuk kita. Begitu pula apa yang kita benci, belum tentu buruk untuk kita. Allah mengetahui, apa yang kita tidak ketahui. Demikianlah Allah berketetapan, dan tersurat dalam Al Baqarah ayat 216..”

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: