catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Selamat Datang

on November 5, 2012

image

Adakah yang lebih indah dari ritme tangis merdumu?
Adakah yang lebih melegakan dari suara teriakan pertamamu di dunia, setelah berminggu-minggu kau diperam dalam rahim ibumu?

Adakah yang lebih cantik dari senyum bunda yang segera menimangmu dalam haru?

Adakah yang lebih syahdu dari lantunan adzan dan iqomat ayah di kedua telinga mungilmu?

Kau akan membuat orangtuamu super sibuk. Begadang hingga larut malam demi mengganti popokmu dan memuaskan hasratmu menyusu. Memberimu pelukan penghapus gelisah. Menenangkanmu lewat senandung rindu. Memandikan tubuhmu yang rapuh dengan kehati-hatian yang melebihi menjaga emas berlian. Karena memang, kau jauh lebih berharga dari emas dan berlian.

Seratus hari lagi, kau mungkin akan mencoba menegakkan lehermu. Mengangkat-angkat kepalamu, seolah ingin menantang semesta. Mengeluarkan bunyi-bunyi tak jelas dari bibirmu. Saat kau berkata “aaaa”, lihatlah tawa lebar bunda. Purnama takkan tenggelam dari wajahnya. Kau akan tahu purnama itu apa saat kau sudah lebih besar. Apalagi jika kau mulai belajar menyuarakan kata meski tak sempurna, lihatlah senyum takzim ayah. Bintang muncul di kedua matanya. Kau juga akan tahu bintang itu apa, nantinya.

Beberapa bulan kemudian, kakimu akan belajar menapak. Beberapa bulan setelahnya kau akan belajar berjalan. Beberapa bulan sesudah itu kau akan belajar berlari. Dan bunda juga ayahmu juga akan berlarian kesana kemari mengikutimu, memastikan kau tidak terantuk atau terjatuh. Bila kau jatuh, mereka akan dengan sigap membantumu berdiri. Bila mereka berteriak atau marah, itu karena mereka terlalu mengkhawatirkanmu. Kau akan sering salah paham nanti, apalagi setelah kau dewasa dan mampu mengerjakan semua sendiri. Kau akan mengira mereka hanya dua orang sok tahu. Kau akan menganggap mereka penghalang bagi gelegak darah mudamu. Hei, pula kau tumbuh mendewasa, berkat naungan nyaman dari mereka, bukan? Pesanku janganlah lupa akan purnama dan bintang itu, yang bersinar demi adanya kamu. Ingatlah itu saat kau terpikir untuk mengecilkan cinta mereka, atau menafikan kasih mereka.

Kau juga akan dikelilingi orang-orang yang menyayangimu. Selain ayah dan bunda, ada eyang kakung dan eyang putri. Ada om, pakde dan bude. Ada kakak-kakak dan para sepupu. Dan ada aku. Kamu sungguh beruntung punya mereka yang saat ini dapat kamu andalkan.

Aku tak mau lagi terlalu banyak bercerita tentangmu. Inginku, biarlah nanti kau sendiri yang menceritakannya. Kuharap kau nanti juga suka menulis sepertiku. Kalaupun tidak, setidaknya kau harus pernah menulis tentang sesuatu. Tuliskan saja hidupmu. Atau orangtuamu. Atau peristiwa yang kaualami. Atau dunia yang mulai kau tinggali. Atau Tuhan yang mengamanahkanmu segala untuk kaujaga.

Hiduplah, bidadari mungil. Hiduplah seperti kau akan menuliskannya. Tak ada yang lebih indah dari hidup yang mengabadi lewat tulisan. Makanya, aku pun mencoba memotret awal kehidupanmu, meski ala kadarnya.

Keponakan kecilku.

Selamat datang di dunia.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: