catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Ilmu Debus untuk Hati

on November 10, 2012

image

Saya punya keahlian baru: meramal.

Hari Minggu besok, saya insyaAllah akan menghadiri pernikahan saudara sepupu saya di Surabaya. Dan saya bisa meramalkan bahwa saya akan bertemu banyak kerabat yang lama tidak bertemu (hingga nyaris lupa wajahnya) yang akan menanyakan hal yang nyaris serupa. Setelah basa-basi tentang biodata diri sesuai KTP terbaru (kerja di mana, tinggal di mana sekarang, sudah menikah atau belum), “interogasi” saya ramalkan akan berlanjut pada:

“Mana calonnya? Kok nggak dibawa?”

Mau dibawa tapi sayangnya nggak muat di kantong.

“Kapan nyusul?”

Wah, dekornya bagus banget yaa.. Bunganya warna-warni..

“Anaknya tante X yang seumuran sama kamu, udah hamil anak kedua aja tuh sekarang. Masa kamu kalah?”

Eh, toilet sebelah mana, yak?!

(sekilas info: ramalan didasarkan pada pengalaman pribadi penulis)

Tentu saja jawaban di atas tidak benar-benar terucap dari mulut saya. Instead of saying that, saya akan lebih memilih menjawab dengan bahasa nonverbal (senyum cengengesan, manggut-manggut sambil dengan khusyu’ ngunyah kambing guling). Alasannya simpel, karena saya tidak ingin menjawab pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Saya rasa semua single di Indonesia pasti pernah mengalami situasi di atas. Selain pernikahan, biasanya pertanyaan ini juga muncul pada saat lebaran. Karena masyarakat Indonesia (Jawa khususnya, karena saya orang Jawa) memiliki filosofi khusus tentang berkumpulnya sanak saudara, yang dirasa lebih penting daripada makan (mangan ora mangan asal ngumpul), maka pertemuan antarkerabat ini amat krusial dilakukan. Dan, namanya saudara yang jarang bertemu, maka percakapan hampir selalu diawali dengan basa-basi. Teknik basa-basi ini hampir sama dan digunakan oleh hampir semua orang, maka jangan kaget kalau pertanyaan yang saya contohkan tadi akan muncul lebih dari sekali. Dan karena sifatnya hanya basa-basi, mereka hanya sekedar bertanya, tanpa benar-benar peduli seperti apa pertanyaan itu akan menimbulkan reaksi pada objek yang ditanya.

Jangan cuma nanya ‘udah ada calon apa belum’ dong, cariin kek.

Jangan bilang ‘masa kamu kalah’ dong, ini toh bukan lomba.

Saya rasa, bertanya itu juga ada seninya. Kurang bijak rasanya jika terlalu terburu menanyakan hal yang sifatnya pribadi pada orang yang (meski saudara) tidak kita kenal dekat. Bisa jadi, pertanyaan itu berubah jadi sembilu yang menghunjam dalam, mengiris hati yang ditanya. Hahaha, lebay. Tapi memang sebaiknya perlu ada saringan atas tiap huruf yang keluar dari mulut kita.

Seperti jika kita bertanya sambil lalu pada seorang wanita yang telah bertahun menikah namun tak kunjung dikaruniai buah hati, “Kapan nih punya anak?” Dan wanita itu menjawab dengan gurat kesenduan di wajahnya, “Yang jelas nggak sekarang, soalnya saya baru mau terapi tumor rahim.”

Jeng jeng!

Bayangkan saja bagaimana rupa rasa wanita itu. Ia mungkin juga sudah begitu mendamba keturunan, namun harus menundanya karena penyakit yang digariskan Tuhan. Kesedihannya makin tercabik hanya karena kita tak pandai mengontrol ucapan.

Pepatah “diam itu emas” sepertinya lahir dari situasi semacam ilustrasi di atas. Lebih baik diam daripada bicara omong kosong. Pada umat muslim diajarkan pula, “berkatalah yang baik, atau diam”.

Kok jadi serius begini, ya?

Pada akhirnya, karena tidak semua mulut berfilter baik, kesiapan mental memang diperlukan. Dijadikan tameng untuk melindungi hati kita yang berharga. Kalau saya sih sedang berupaya mengebalkan diri agar tidak mempan diserang sembilu-sembilu itu. Semacam ilmu debus untuk hati, hahaha. Kan katanya, jadi single harus happy!๐Ÿ˜€

Thanks for reading!


5 responses to “Ilmu Debus untuk Hati

  1. ~Ra says:

    ๐Ÿ˜€

    Ah, tadinya ngarep diramal juga..
    Mau dong dikasih tahu, kapan pangeranku datang..
    ๐Ÿ˜†

  2. blossomind says:

    OMG,hehehe…. tulisannya sama banget dgn yg aku alami saat ini,hehe… senasib qta! hehehe.. slam kenal ya๐Ÿ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: