catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Hidup Tanpa Internet

on November 15, 2012

image

Apa yang anda lakukan jika anda harus hidup tanpa internet?

Manusia jaman sekarang rasanya sulit terpisah dari internet. Internet rasanya sudah jadi kebutuhan primer nomor satu setelah sandang. Bahkan lebih penting daripada pangan. Buktinya pada saat lapar, beberapa orang memilih menggunakan internet untuk membarui status bertuliskan “Lapeeerrr…” alih-alih makan. Hendak makan pun, “ritual” mengambil foto, memasang filter dan efek lalu mengunggahnya ke instagram tidak pernah terlewatkan. Jika internet sedang bermasalah, sebagian kita akan gelisah, mendadak panas dingin, bahkan tak ragu untuk memaki, “sinyal k*mpr*t!!”

Dikarenakan sim card yang rusak, saya sempat puasa internetan selama dua hari. Dua hari saja. Yang saya rasakan selama dua hari itu adalah saya mengalami mati gaya. Saya bingung harus melakukan apa. Seolah keseharian saya selama ini hanya diisi dengan online dan online. Tentu saja saya masih melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan, mandi, mencuci, beribadah dan tidur. Tapi seperti ada keterbatasan dalam saya berkegiatan. Seperti ada yang kurang. Seperti ada yang hilang, lenyap begitu saja. Alah.

Selama dua hari itu pula saya rasakan banyak hal yang tak bisa saya lakukan.

Saat saya berhasil membuat foto yang bagus dan ingin saya unggah, tapi tak bisa karena tak ada internet.

Saat saya ingin menghubungi keluarga lewat messenger, tidak bisa juga tanpa internet.

Saat sedang mendengarkan lagu dan ingin googling liriknya, lagi-lagi mustahil tanpa internet.

Saat sedang ingin mengetahui kabar teman lewat media sosial, gagal pula karena tidak ada internet.

Yang aneh, bukankah dulu saat saya belum menggunakan smartphone, dan belum melakukan hal-hal di atas sesering sekarang, hidup saya juga baik-baik saja?

Rasanya, kekhawatiran terbesar manusia era internet ini bukanlah bagaimana jika tidak punya sesuatu untuk dimakan atau dipakai atau ditinggali, tapi bagaimana jika mendadak harus kehilangan kontak dengan dunia. Patutkah jika saya katakan, internet telah membatasi gerak kita?

Internet memang memudahkan segalanya. Membuat akses ke orang atau tempat lain menjadi sangat mudah sekaligus murah. Mencari hiburan gratis. Berbelanja. Menanyakan segala hal pada “mbah google” yang serba tahu(asal jangan nanya, ‘jodohku sopo mbah?’ aja..). Membuat kita cukup puas dengan hanya duduk dan memelototi gadget selama berjam-jam, tak peduli perubahan pada sekeliling. Dan saat layar gadget itu mati, lalu kita melihat sekitar, yang kita temukan adalah lingkungan yang asing. Semuanya mendadak tak pernah sama lagi tanpa internet. Padahal jika dipikir, justru kitalah yang asing. Kitalah yang dengan sukarela mengasingkan diri bersama internet.

Internet, juga teknologi pada umumnya, dibuat untuk membantu manusia. Jadi selayaknya manusialah yang mengendalikan, bukan dikendalikan teknologi. Pilihan ada di tangan kita. Teknologi yang memudahkan seharusnya tidak lantas membuat kita menggantungkan segala kemudahan itu padanya.

Ini mungkin akan jadi kalimat random untuk mengakhiri tulisan ini, tapi tiba-tiba saja saya merindukan momen saat saya memutar pita kaset dengan pulpen..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: