catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Pertolongan

on November 24, 2012

Kadang, tak perlu kejadian magis dan mistis untuk membuktikan bahwa pertolongan Tuhan itu dekat. Karena dalam kejadian (yang bagi kita) sederhana pun, ada kuasaNya di sana.

Siang ini, saya kedatangan seorang pasien bocah kecil berusia dua tahun dengan hidung yang kemasukan manik-manik. Manik-manik itu menyerupai mutiara imitasi dengan diameter sekitar tujuh milimeter. Cukup besar untuk masuk ke lubang hidungnya yang mungil.

Melihat anak ini tampak tenang, saya cukup percaya diri. Apalagi saya pernah menemukan kasus yang hampir sama sebelumnya dan saya berhasil melakukannya. Segera saja saya mengambil pinset steril dengan ukuran yang terkecil dan mulai bekerja mengekstraksi corpus alienum (benda asing) tersebut.

Saat saya memasukkan pinset ke dalam lubang hidung, saya berusaha menjepit manik-manik tersebut dengan pinset. Usaha pertama ternyata meleset. Manik-manik tersebut (beserta lendir yang menyelubunginya yang muncul sebagai reaksi alamiah tubuh bila kemasukan benda asing) ternyata licin karena terbuat dari plastik. Sementara, si anak yang mulai terganggu dengan pinset itu, bersiap memberontak. Ia reflek menarik napas dan mulai menangis. Karena tekanan yang timbul saat ia menarik napas itu, si butir manik-manik malah makin tersedot ke dalam, membuatnya semakin jauh dilihat mata.

Saya mulai grogi. Jangan panik, jangan panik, jangan panik, begitu batin saya sembari menenangkan diri. Karena jika panik, tangan saya bisa gemetaran dan gerakan saya menjadi tidak fokus. Bisa-bisa ujung pinset yang cukup tajam malah melukai sisi dalam lubang hidung dan menambah masalah yang sebenarnya tidak perlu. Harus tenang, harus tenang, harus tenang.

Lalu saya ingat.

Saya belum membaca basmalah.

Lalu saya lafadzkan kalimat “bismillahirrahmaanirrahiim” dan saya mulai upaya kedua. Dibantu pula oleh perawat saya untuk memegangi kepala si bocah agar tidak bergerak-gerak.

Saya masukkan ujung pinset, dan..

Clep!

Ujung pinset masuk dengan mantap ke dalam lubang di tengah manik-manik tersebut (yang biasanya menjadi tempat masuk dan keluarnya senar atau benang untuk dijadikan gelang atau kalung). Rasanya, kans untuk saya bisa memasukkan ujung pinset ke dalam lubang manik-manik yang sedang terjerembab dalam lubang hidung sekecil itu sejuta banding satu. Tapi jika tidak dengan cara itu, rasanya manik akan sulit dikeluarkan. Pernah mencoba menjepit kelereng yang terjebak di tengah leher botol kecap berwarna hijau dengan sumpit? (Oke, warna hijaunya memang nggak penting banget disebutin) Kira-kira seperti itulah kesulitannya. Tapi ternyata Tuhan memberi saya kesempatan sejuta banding satu itu. Manik itu pun segera saya jepit dan keluarkan. Ia keluar dengan mulus dan mudah.

Alhamdulillaah..

Saya tunjukkan manik-manik itu pada sang kakek yang sedari tadi memangkunya, sambil mengingatkan beliau untuk menjauhkan benda-benda kecil di rumah dari jangkauan si anak yang belum sepenuhnya mengerti.

Sang kakek mengangguk tersenyum lalu mengambil butir manik tersebut dan menyimpannya di saku.

Kakek pasien berterimakasih kepada saya.

Saya berterimakasih kepada Tuhan.

Sungguh, Tuhan, ilmuku hanya akan bermakna kosong jika tanpa ridhaMu..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: