catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Baik Sangka

on November 26, 2012

Harus berbaik sangka yang seperti apa?

Secara tiba-tiba, seolah tanpa tendensi sebelumnya, tautan tulisan itu muncul di linimasaku. Tertulis judulnya, “Pacaran dalam Islam Memang Dilarang Tapi..” Hmm, judul yang cukup catchy. Mungkin dibuat untuk menarik pembaca, pikirku.

Judul itu muncul lagi dalam font besar-besar saat kusentuh tautan berwarna biru itu dengan jariku. Di atasnya, terdapat nama situs disertai tagline-nya. Sang Pendakwah Cinta.

Kubaca kalimat demi kalimat rapat-rapat. Kalimat yang membuatku seketika menyesal telah membukanya. Kucari kalimat yang berbau dakwah hingga akhir. Pencarianku ternyata gagal total. Sebagai gantinya, kudapati tulisan yang intinya berpromosi untuk menjual buku sang penulis yang baru saja dirilisnya. Ia menyebutnya Paket Cinta, seperti ia menyebut dirinya seseorang yang berpengalaman karena telah tujuh puluh sembilan kali menjalin cinta. Dilengkapi novel, buku puisi dan CD rekaman dakwah cinta. Tak ketinggalan sebuah modul untuk “menaklukkan cinta”, lengkap dengan “silabus”nya. Sebagian babnya berjudul “kenalan langsung jadian”, “mendapatkannya dengan lima kali SMS”, dan masih banyak lagi bab lainnya, masih dalam font yang berukuran melebihi normal.

Selama beberapa saat aku terhenyak, bahkan jariku tak mampu bergerak. Tak mampu memikirkan sebuah ide pun untuk menghasilkan pemikiran positif setelah membaca tulisan itu. Mataku seolah terpaku menatap layar.

Pendakwah cinta? Kata-kata itu berputar seperti gerombolan lebah dalam otakku. Dakwah apa? Apa karena ia menyebutkan “pacaran dilarang dalam Islam” tanpa menyebut dalil lantas ia merasa telah cukup berdakwah? Ataukah yang sedang ia “dakwahkan” adalah “kehebatannya” memacari tujuh puluh sembilan wanita? Dan berniat membagi “ilmu” itu dalam paket buku yang ia jual seharga sepertiga juta itu?

Hatiku mendadak kalut. Aku memang tidak mengerti apa isi Paket Cinta itu. Aku yakin banyak pembaca yang senasib denganku. Tapi jika isinya seperti apa yang digambarkan oleh judulnya.. Tak bisa terbayang olehku ngerinya jika sejumlah pembaca yang melanglang di dunia maya membaca tulisan ini dan menelan isinya bulat-bulat. Terbawa oleh legitimasi kata-kata “dakwah” dalam tagline-nya, yang ditambah pula dengan logo yang melukiskan siluet pria berkopiah. Ah. Makanan busuk akan sentiasa busuk, meski dibungkus dengan rapi dan indah.

Kusentuh kotak komentar dan setelah muncul kursor yang berkedip-kedip, kuketikkan kata-kata.

“Semoga engkau paham akan apa yang sedang kaulakukan..”

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: