catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Curcol, Mak!

on November 29, 2012

Aduh. Yang namanya penyakit hati itu memang sulit diberantas. Tak mempan dengan antibiotik, tak membaik dengan terapi simtomatis. Bahkan terapi paliatif pun rasanya tak berefek banyak.

Penyakit itu bernama iri.

Mendengar kabar kawan seangkatan saya yang diterima sekolah spesialis beberapa hari lalu, tentu saja saya ikut berbahagia. Senang melihat mereka mulai satu persatu menapaki tangga menuju level yang lebih tinggi. Meskipun tetap tebersit suara hati: kapan ya giliranku?

Pikiran itu seketika membuat saya galau. Masa depan memang penuh misteri. Alangkah beruntungnya mereka yang mampu menyibak tirai misteri itu dan menyongsongnya. Meski saya berusaha menghibur diri dengan “Enggak apa-apa, wong jadi dokter umum aja saya masih harus banyak belajar”, tapi rasa galau itu tak seketika sirna. Sebab keinginan sekolah spesialis itu memang telah lama saya pendam. Menghantui mimpi dan khayalan saya. Muncul tiba-tiba di tengah lamunan saya tanpa bisa dicegah. Masalahnya saya tak tahu kapan, dan bagaimana, akan mewujudkannya.

Ujung-ujungnya memang.. Uang.

Selain iri, ada satu penyakit lain yang juga berbahaya. Minder. Biasanya, iri dan minder itu satu paket. Sikap iri adalah refleksi bawah sadar dari jiwa yang minder. Dan nampaknya saya mulai terjangkit penyakit ini juga..

Memang semua itu adalah standar manusia. Standar dunia. Karir, kekayaan, pendidikan, pernikahan. Saya tahu dan sadar sepenuhnya bahwa standar akhiratlah yang lebih utama dan nantinya akan kekal, tapi perasaan iri dan minder tidak serta-merta hilang dari hati saya. Apalagi jika melihat kedua orangtua saya. Mereka semakin tua, dan belum ada harapan bahwa saya bisa mempersembahkan sesuatu yang besar untuk mereka. Entah itu harta yang banyak, karir yang melesat, atau suami yang shalih.

Meski telah berkali-kali diingatkan bahwa semua yang di dunia ini akan binasa.

Meski telah disadarkan berulang-ulang jika kewajiban saya hanyalah berikhtiar dan berdoa.

Walau sudah disentil dengan kenyataan bahwa usaha tak selalu berbanding lurus dengan hasil.

Ah, mungkin dosis sabar saya yang masih harus ditambah, sebelum efek terapi terhadap penyakit hati ini bisa tercapai..

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: