catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Bersatu

on December 4, 2012

Bukan cuma sekali dua kali rasanya para dokter Indonesia “protes” atas kesejahteraan mereka. Banyak cara mereka lakukan, misalnya menulis di komp*siana atau di halaman facebook, dan dibaca masyarakat luas. Dengan menulis di media semacam itu mungkin terselip harap akan ada salah satu dari pembaca yang tersentuh dan ikut memperjuangkan, lebih bagus jika sanggup mencarikan jalan.

Tulisan-tulisan tersebut menjadi tenar dan dibaca banyak orang. Banyak pihak turut berkomentar. Ternyata sebagian besar komentarnya bernada “balas menghujat”.

Dasar dokter nggak bersyukur.

Kalau mau kaya jangan jadi dokter, jadi pengusaha aja.

Itu kan udah risiko pekerjaan, nggak usah pamer keluhan. Yang lebih menderita dari itu juga banyak.

Omong kosong! Yang saya lihat, dokter nggak ada yang nggak kaya!

Entahlah apa yang ada di pikiran mereka. Mengira bahwa dokter itu pasti luar biasa sejahtera. Jangan-jangan yang mereka lihat itu hanyalah ujung dari gunung es, sementara sebagian besarnya tak terlihat karena terendam lautan. Atau yang mereka lihat itu para dokter yang sudah kaya dari “sononya”, yang punya orangtua berkantong tebal dan bersedia menyekolahkan anaknya di fakultas kedokteran meski lewat jalur khusus dengan biaya sembilan digit rupiah. Para dokter di puskesmas pedalaman yang gajinya sering tertunda hingga tiga bulan rupanya luput dari perhatian mereka. Dan nampaknya lumrah bagi manusia mengambil yang sekelumit untuk dijadikan pembenaran dan dipercaya mentah-mentah.

Saya paham betul kondisi dokter Indonesia. Saya bagian darinya. Saya juga mengerti kegelisahan teman sejawat yang tak tahu kemana harus melampiaskan uneg-uneg, karena sepertinya tak ada yang mau mendengar. IDI memang pernah merumuskan soal ini sejak 2010, tapi, hey, nyaris tiga tahun berlalu dan belum ada tanda-tanda perubahan itu akan datang. Akhirnya, demi rasa frustasi, curhatlah mereka di media sosial (saya pun pernah melakukannya beberapa kali di blog, maaf bila ada yang terganggu). Karena ditulis di media sosial, semua kalangan bisa membacanya. Semua kalangan berhak menyanggah maupun mendukungnya. Sayangnya tak semua kalangan memahami intinya, seperti tak semua kalangan memahami beratnya perjuangan menjadi dokter. Pun tak semua mereka paham bahwa bukan nominal angka yang kita kejar, tapi harga yang adil atas pengorbanan yang kita lakukan.

Protes, bukan berarti tidak ikhlas bekerja.

Menyampaikan keluhan, bukan berarti pamer kesusahan.

Ikhlas, bukan berarti bersedia diperlakukan tidak adil.

Rela berkorban, bukan berarti boleh ditindas.

Menurut saya, kita memang harus bertindak, tapi dalam langkah yang lebih konkrit, lebih terpeta, lebih terorganisir. Kita bisa mencontoh para buruh dalam hal memperjuangkan nasib. Ada satu hal yang mereka miliki yang tidak kita punya. Persatuan. Para buruh sepakat untuk bersatu menuntut kesejahteraan. People power lah yang menggerakkan mereka. Jangan remehkan kekuatan massa, ia bisa menjatuhkan sebuah rezim, seperti di tahun 1998. Inilah yang harus kita semua, para dokter Indonesia, lakukan. Jangan berjuang sendiri. Selama ini yang terbentuk hanya kelompok-kelompok kecil, gerakan-gerakan kecil yang berupaya lalu mogok di tengah jalan. Jutaan dokter Indonesia tentu bukan jumlah yang sedikit. Tepat benar seperti pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Dan perjuangan itu, tidak selesai dengan sekali mencoba. Kegagalan berkali-kali, itu hampir pasti. Tapi dengan kita bersama-sama melakukannya, itu saja sudah membuang satu ketidakmungkinan. Jadi kalau kita bergabung menjadi satu, kita pasti bisa singkirkan ketidakmungkinan-ketidakmungkinan lain yang nanti menghadang. Teknisnya, silakan para dokter-aktivis yang berkompeten menggerakkan.

Bersatulah wahai dokter Indonesia.

Terakhir, ini sekedar tambahan yang tidak terlalu penting. Bila ada seseorang yang mengatakan kepada saya, “Enak ya jadi dokter, pasti duitnya banyak,” saya tak akan mengelak, protes atau malah curhat. Saya hanya akan bilang “Aamiin” dan menganggapnya doa. Bukankah setiap doa itu selalu didengar Tuhan?

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: