catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Sebuah Topi Bayi

on December 7, 2012

Topi bayi itu masih tergeletak di meja. Aku memandangi topi berwarna putih nyaris kecoklatan itu sambil termangu.

Tadi pagi, saat membuang sampah, aku menemukannya. Teronggok pasrah di samping tong sampah, dalam sebuah kardus mi instan. Selain topi bayi berbahan rajut itu, ada pula selembar surat, diketik dengan komputer.

“Kepada bapak/ibu yang dermawan,

Kutitipkan bayi ini kepada bpk/ibu. Jika tak sudi merawatnya, mohon serahkan pada panti asuhan. Semoga nasibnya lebih baik di tangan bpk/ibu. Terimakasih banyak, kiranya Tuhan membalas kebaikan bpk/ibu.”

Surat yang singkat, padat dan sangat tidak sopan.

Sebegitu mudahnya seorang manusia dibuang, dibungkus kardus, dan diletakkan di sisi tempat sampah. Bahkan membuang kucing pun lebih mulia dari ini.

Kutengok lagi isi kardus itu.

Bayinya tidak ada.

Kepalaku reflek menoleh ke sekitar, mencari barangkali ada sesosok bayi yang tadinya berada dalam kardus ini. Walaupun aku tahu itu sia-sia. Memangnya bayi itu sudah mampu merangkak ke luar kardus sendiri?

Ke mana perginya bayi itu?

Muncul rasa panik dalam diriku. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya. Jangan-jangan sekarang nyawanya terancam. Bayi ini muat diletakkan dalam kardus, tentu ia masih sangat muda. Mungkin baru beberapa hari umurnya. Ia pasti belum bisa melindungi dirinya sendiri.. Ah, alangkah aneh. Aku tidak mengenal bayi itu, pun pengirim surat ini, dan aku juga belum pernah melihat bayi itu, pun pengirim surat ini, tapi aku merasa panik saat bayi itu tidak ada. Bisakah kau merasa kehilangan atas sesuatu yang belum pernah kaumiliki, bahkan tidak pernah kaukenal?

Betapa kurang ajar si pengirim benda-benda ini. Ibarat pepatah, main lempar batu sembunyi tangan. Batunya mengenai kepalaku. Sekarang giliran kepalaku yang benjol karenanya.

Bayi itu, apa ada seseorang yang mengambilnya?

Apakah orang yang membawanya adalah orang baik yang berhati tanpa cela dan bersedia merawatnya dengan ikhlas dan penuh cinta?

Atau justru anggota sindikat perdagangan bayi yang sedang mencari mangsa, dan tiba-tiba menemukan bayi itu seperti menemukan sepeti penuh harta karun?

Atau yang lebih mengerikan, jangan-jangan bayi itu telah jadi santapan lezat anjing-anjing liar?

Setelah berpikir beberapa saat, kuputuskan untuk melaporkan peristiwa ini pada Pak RT. Siapa tahu Pak RT nan bijak bestari mampu memberi solusi yang mencerahkan.

Kepada Pak RT aku menghadap. Setelah kuceritakan duduk perkaranya, Pak RT memandangku dengan pandangan menyelidik sambil mengelus jenggotnya yang abu-abu.

“Dari mana aku tahu kau tidak berbohong?”

Aku terkesiap, tak siap menerima reaksi semacam itu.

“U.. Untuk apa saya bohong, Pak?”

“Bisa saja kau sendiri yang ketik surat itu, kan? Lalu kautaruh dalam kardus beserta topi bayi itu, demi membuat sensasi di pagi hari.”

Nampaknya Pak RT yang terhormat ini terlalu sering nonton infotainment.

Tapi aku memang tak bisa membuktikan bahwa pernyataannya salah. Aku tinggal sendiri di rumah kontrakanku. Tidak ada seorang pun yang bisa bersaksi untuk menguatkan alibiku. Kalau aku mengendap tengah malam dan meletakkan kardus itu, tak ada seorang pun yang tahu.

Aku pun jarang bersosialisasi, karena waktuku lebih banyak habis di luar rumah. Aku kuliah sambil bekerja. Aku pulang ke rumah hanya untuk tidur. Mungkin bagi Pak RT, kebiasaanku itu tidak wajar, sehingga timbul pemikirannya bahwa aku mungkin menyembunyikan sesuatu.

Akhirnya aku hanya berkata,

“Saya pikir orang yang berpendidikan dan berkedudukan tidak akan ceroboh dalam menuduh seseorang. Apalagi tanpa bukti yang menguatkan. Masa sekarang ini semua memang serba terbalik. Yang salah dipuja, yang benar dihina. Kalau memang bapak tidak mau membantu, tidak apa. Tapi bapak tidak perlu memfitnah saya macam-macam. Itu seperti orang buta yang sesumbar bahwa ia baru saja melihat pelangi. Saya pamit dulu.”

Sebelum berbalik, sempat kulihat wajah Pak RT merah padam, asap keluar dari hidungnya. Jangan-jangan di kehidupan sebelumnya Pak RT adalah seekor banteng, pikirku. Pikiran itu membuatku tersenyum-senyum sendiri.

Aku berjalan kembali ke kontrakanku, sementara di belakangku sekelompok ibu-ibu tengah berbelanja sayur sambil bergunjing. Di lingkungan seperti ini, rupanya kabar menyebar lebih cepat dari (maaf) kentut.

“Lihat tuh, senyum-senyum, seneng udah bisa bikin heboh pagi-pagi.”

“Jangan-jangan dia udah buntingin pacarnya terus bayinya disembunyiin.. Terus bikin kesan supaya keliatannya itu bayi orang lain gitu..”

“Issh.. Ngeri ya pergaulan anak muda jaman sekarang..”

Tak ada seorang pun yang peduli akan nasib bayi itu.

Aku kembali ke kontrakan, menaruh topi bayi itu di meja, dan memandanginya lagi.

Bayi ini belum tentu ada. Belum pasti keberadaannya. Tapi pagiku mendadak ruwet karenanya. Dia baru saja membuatku digosipkan warga sekampung. Dan membuatku langsung tenar dalam sehari. Mungkin setelahnya kampung ini akan diliput televisi. Karena satu berita ini cukup lengkap untuk memenuhi beberapa slot topik kriminal.

Pembuangan bayi.

Dugaan penculikan.

Dugaan penjualan manusia.

Pelanggaran asas praduga tak bersalah.

Pencemaran nama baik.

Penuduhan tanpa bukti.

Dan berita ini akan ditonton jutaan pasang mata, dinikmati bersama cemilan pisang goreng dan segelas es teh, dibahas seperlunya sebelum dilupakan sepenuhnya.

Dan masih tak ada seorang pun yang peduli akan nasib bayi itu.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: