catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Guilty Pleasure

on December 11, 2012

Aku terbangun dengan perut meronta. Ia berkeriuk kencang seolah protes minta diisi oleh tuannya. Ah, iya, tadi malam aku tidak makan. Cuma ngemil dua keping biskuit dan minum secangkir susu tanpa gula.

Setiap pagi, rutinitas baruku sejak dua minggu terakhir setelah bangun tidur adalah melompat ke atas timbangan dan berharap jarumnya bergeser dengan pasti ke kiri.

Aku menutup mata sambil membisik doa saat kakiku menginjak timbangan dengan sempurna. Sesaat kubuka mata dan kuintip ke bawah. Jarum itu masih di angka yang sama, lima puluh lima. Sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Aku melengos. Dengan tinggiku yang hanya semeter setengah, aku harus menurunkan setidaknya delapan kilo, agar tampak proporsional saat mengenakan kebaya dua bulan lagi.

Aku membuka lemari dan kukeluarkan kebaya itu. Kebaya milik Ibu. Meski hanya dari brokat sederhana, aku sangat menyukainya. Sudah kutambahkan payet dan manik agar tampak makin berkilau. Badan Ibu bagai utara dan selatan dengan tubuhku. Ibu tetap semampai meski telah melahirkan tiga anak. Kakak dan adikku pun sepertinya mewarisi tubuh Ibu. Hanya aku si anak tengah yang mewarisi postur Bapak yang pendek gemuk. Padahal aku juga ingin langsing seperti Ibu..

Aku mendesah. Dua bulan lagi, sanggupkah? Harus sanggup, batinku. Mau tak mau, kebaya ini harus muat kukenakan saat Ria, sahabatku, menikah nanti.

Iya, memang bukan hanya demi Ria. Tapi juga demi Kak Aswin yang sudah janji akan datang di pernikahan Ria. Aku dan Kak Aswin sudah beberapa minggu terakhir kenal dan dekat di dunia maya, dan ia mengajakku kopi darat untuk pertama kali. Kak Aswin juga ternyata adalah teman dari calon suami Ria. Kebetulan yang menyenangkan.

Kak Aswin tidak boleh tahu kalau aku gemuk. Waktu Kak Aswin meminta foto, yang kukirim padanya adalah foto dua tahun yang lalu, saat berat badanku masih empat puluh sembilan. Sedikit curang, tapi demi kesuksesan kisah cintaku setelah entah kapan terakhir kali dekat dengan lawan jenis, tak apalah.

Perutku berteriak lagi. Badanku terasa lemas. Mungkin aku perlu makan nasi, tapi tiga sendok saja.

Pintu kamarku diketok.

“Wi!! Bangun woyy!!”

Lisa, teman sekosku. Kubuka pintu.

“Udah bangun, tauk.. Ada apaan, sih?”

Aroma bawang seketika menyeruak. Lisa berdiri di depan pintu dengan membawa dua piring lontong sayur. Kulihat di sana, di atas piring itu, potongan lontong yang kehijauan dan besar-besar, kuah santan dari sayur rebung yang oranye menyala dan terlihat berminyak, bubuk kedelai yang ditaburkan banyak-banyak, ayam masak opor, satu butir utuh telur rebus bumbu petis.. Mereka tampak bercahaya di mataku. Aku menelan ludah.

“Lontong sayur Mbak Jum!! Gue traktir nih, kan kemaren lo udah bantuin ketikin makalah gue,”

Aku hanya mematung, sedang menghadapi dilema terberat dalam hidupku. Aku bisa menolak cheese cake, tiramisu ataupun pizza saat sedang diet, tapi tidak, aku tidak mungkin berkata tidak pada lontong sayur legendaris buatan Mbak Jum. Oh, Tuhan..

“Eh, kok malah bengong sih? Hayuk makan!”

Bagaimana ini?

“Gue lagi diet, Lis… Lo kan tau.. Tega ya lo nraktir gue beginian..”

“Halaaah.. Sepiring lontong sayur doang.. Paling abis ini cuma naek sekilo,” Lisa terkekeh.

“Cuma naek sekilo!” Jawabku galak. “Nuruninnya susah, tauk!”

Perutku mengejang. Di sisi lain, Mbak Jum seperti memanggil-manggilku untuk menikmati lontong sayur bikinannya. Lihatlah, uapnya masih mengepul.. Tuhan, kuatkan aku..

“Jadi lo gak mau, nih, Wi? Trus siapa dong yang ngabisin?”

Aku masih mematung.

“Gua kasih Mbak Eka aja, ya? Kayaknya Mbak Eka udah bangun tuh,” kata Lisa sambil menunjuk kamar di sebelah kamarku.

Aku mengangguk pasrah.

Lisa sudah hendak menggeser kakinya ke depan kamar Mbak Eka.

Tapi.. Tapi..

Otakku belum berpikir panjang, dan sebelum ia sempat melakukannya, tanganku lebih dulu merebut satu piring dari tangan Lisa. Seandainya bisa bicara, tanganku mungkin akan berceletuk, “Rejeki tak boleh ditolak..”

“Nah, gitu dong,” Lisa tertawa riang. Kami makan berdua di dalam kamar. Kukunci pintu, takut penghuni kos lain yang sudah bangun melihat kami dan ikut-ikutan mencicip lontong sayur. Aku tak rela..

Isi piring itu secepat kilat berpindah ke dalam perutku. Alamak, benar-benar gurih opornya, juga telur petisnya. Kuah pedas sayur rebung dipadu bubuk kedelai yang manis menggoyang lidahku sejak suapan pertama. Kukatakan, Kawan, inilah surga, surga kecil dalam kamar kosku yang sempit.

Mungkin setelah piring ini kosong aku akan menyesal. Merutuki kebodohanku yang tak bisa menahan nafsu. Atau segera membakar kalori yang kumakan dengan lari putar-putar kompleks dua kali. Atau mungkin, tidak makan lagi sampai nanti malam. Atau mungkin aku akan menyerah, membuang timbangan sialan itu jauh-jauh, mungkin memakai baju biasa saja saat menghadiri pernikahan Ria, dan mungkin Kak Aswin akan ilfil saat bertemu denganku dan menjauhiku.

Apapun itu, biar kupikirkan nanti.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: