catatan kecil

buah pikiran, yang menunggu untuk dituliskan

Sembuh

on December 12, 2012

Saya pernah mendengar cerita dari seorang kawan yang kebetulan pernah bertugas di sebuah puskesmas di pedalaman Kalimantan. Di wilayah terpencil seperti itu, fasilitas dan obat-obatan tentu terbatas. Termasuk untuk menangani borok pada penderita diabetes, yang istilahnya ulcus diabetikum, juga tidak banyak. Kalau harus menuruti teori, mungkin akan banyak pasien ulcus yang tak tertolong. Pengobatan ulcus perlu waktu lama, dan yang paling sulit adalah menjaga luka tetap steril. Setelah dibersihkan, luka harus ditutup dengan wound dressing yang berfungsi mensterilkan dan membantu menumbuhkan jaringan baru, lalu dibebat rapat dengan kasa. Harganya pun tidak murah. Tidak adanya wound dressing yang mencukupi membuat mereka putar otak. Ternyata mereka menemukan sebuah cara jitu untuk mengatasinya: menaburi luka itu dengan gula pasir.

Awalnya saya tidak percaya. Bukankah gula pasir malah membuat lingkungan luka menjadi manis, memberi santapan lezat bagi bakteri-bakteri itu? Tapi hasilnya justru sebaliknya. Ajaib, luka-luka itu malah cepat sembuh, pertumbuhan jaringan baru semakin baik.

Jika menabur garam pada luka akan semakin menyakitkan (setidaknya begitu kata pepatah), maka menabur gula malah menyembuhkan.

Mungkinkah itu berlaku pula pada luka hati?

Pernahkah kita terluka begitu dalam, hingga tangis yang keluar hanya membuat semua semakin menyakitkan?

Napas makin sesak, kepala makin berat, hidung makin kejat. Bahkan kadang sampai pingsan karena tak sanggup menanggung kesedihan.

Pernahkah di saat-saat tersedih, kita mencoba untuk tersenyum? Entah yang benar-benar dari hati, ataupun dengan sedikit terpaksa?

Kita paling butuh senyum, di saat yang paling sulit untuk melakukannya. Tapi percayakah, jika senyum itu menyembuhkan luka?

Saya pernah membaca sebuah penelitian, bahwa senyum bisa menurunkan tingkat stres. Bahkan meski tidak dari hati, alias hanya di bibir saja, ternyata itu sudah memberikan efek. Semua itu terkait dengan tarikan pada sebagian otot wajah dan sekitar kepala yang membantu mempercepat aliran darah ke otak, membantu mengurangi nyeri kepala dan akibat lain dari stres.

Boro-boro senyum, nangis aja susah berhentinya.

Di luar mungkin bisa senyum, tapi di dalam tetap saja sakiiit..

Jika ditilik lagi,

Garam itu asin. Gula itu manis.

Air mata itu asin. Senyuman itu manis.

Air mata menggerus luka. Senyuman menyembuhkan luka.

Menangis karena terluka, selama tak berlebihan, sah-sah saja. Tapi jika tangis tak mampu sembuhkan luka, mungkin senyum manis bisa menggantikannya.

Thanks for reading!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: